Categories

Konteks Sosial Dalam Perkembangan Anak

Minggu, November 01, 2009

Artikel Psikologi Perkembangan Anak ini lebih fokus pada Pengaruh Keluarga, Teman Sebaya Dan Sekolah. Artikel Psikologi perkembangan Anak ini sangat bermanfaat untuk orang tua dan para guru. Berikut adalah poin-poin pembahasan Konteks sosial Perkembangan anak;

Keluarga
Keluarga merupakan tempat pertama kali anak melakukan fungsi sosialisasinya. Proses yang terjadi antara anak dan orangtua tidaklah bersifat satu arah, namun saling mempengaruhi satu sama lain. Artinya, anak belajar dari orangtua, sebaliknya, orangtua juga belajar dari anak. Proses sosialisasi yang terjadi dalam keluarga lebih berbentuk sebagai suatu sistem yang interaksional. Bahkan hubungan antara suami dan istri pun akan mempengaruhi perkembangan anak.

Pola pengasuhan orangtua akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologis anak. Orangtua yang cenderung otoriter (authoritarian parenting), dimana mereka menghendaki anak untuk selalu menuruti keinginan orangtua tanpa ada kesempatan bagi anak untuk berdialog, akan menghasilkan anak-anak yang cenderung cemas, takut, dan kurang mampu mengembangkan keterampilan berkomunikasinya. Sebaliknya, orangtua yang cenderung melepas keinginan anak (neglectful parenting) akan menyebabkan anak tidak mampu mengontrol perilaku dan keinginannya dan dapat membentuk pribadi anak yang egois dan dominan. Sebagai jembatan dari kedua pola pengasuhan yang ekstrem tersebut, maka pola pengasuhan demokratislah (authoritative parenting) yang dapat menjadi solusi terbaik bagi para orangtua untuk dapat mengoptimalkan perkembangan psikologis anaknya. Orangtua yang demokratis menghendaki anaknya untuk tumbuh sebagai pribadi yang mandiri dan bebas namun tetap memberikan batasan untuk mengendalikan perilaku mereka. Dalam hal ini, cara-cara dialogis perlu dilakukan agar anak dan orangtua dapat saling memahami pikiran dan perasaan masing-masing. Hukuman dapat saja diberikan ketika terjadi pelanggaran terhadap hal-hal yang bersifat prinsip. Meskipun demikian, perlu diingat bahwa hukuman tersebut harus disertai dengan penjelasan yang dialogis agar anak mengerti untuk apa mereka dihukum dan perilaku apa yang sebaiknya dilakukan.

Kemudian hal dalam keluarga yang dapat mempengaruhi perkembangan anak adalah kondisi keluarga yang berubah dalam masyarakat yang berubah. Maksudnya disini adalah kondisi dimana dalam keluarga tersebut para ibu turut bekerja di luar rumah maupun terjadi perceraian.

Pada anak-anak dari keluarga yang didalamnya para ibu turut serta bekerja di luar rumah belum tentu perkembangannya dapat lebih baik daripada anak-anak yang ibu-ibunya tidak bekerja dan diam di rumah. Para ibu yang diam di rumah cenderung akan berlebihan mencurahkan seluruh perhatian dan energinya untuk mengurus dan mengawasi anak-anak mereka. Hal ini akan menimbulkan rasa kekhawatiran yang berlebihan pula dan akan menghambat proses kemandirian anak.

Pada keluarga yang mengalami perceraian kebanyakan anak pada mulanya mengalami stres berat ketika orang tua mereka harus berpisah. Sebagian besar anak-anak korban perceraian cenderung tidak dapat mengontrol emosi mereka, kekecewaan anak kepada perilaku tidak dapat mengontrol emosi dari orang tua mereka yang sudah bercerai mengakibatkan keinginan untuk melampiaskan rasa frustasi mereka dengan melakukan hal-hal yang berlawanan dengan peraturan misalnya saja memberontak dan sebagainya. Mereka pun akan menjadi mudah marah karena sering melihat orang tua yang selama ini dijadikan panutan bertengkar akibat permasalahan perceraian . Anak- anak yang sebenarnya tidak menginginkan perpisahan kedua orang tuanya ini akan merasa sangat terpukul dan hal ini juga yang membuat mereka jadi kurang berprestasi , memiliki tingkat motivasi yang kurang bagus, murung dan anak merasa bersalah dan merasa bahwa dirinya yang menjadi penyebab percerain. Selain itu dampak perceraian terhadap perilaku sosial, anak korban perceraian menjadi tertekan dengan status sebagai anak cerai atau lebih dikenal dengan istilah “anak broken home” dengan menjadikan perasaannya berbeda dari anak-anak yang lain, anak mempunyai rasa minder, kurang percaya diri bahkan ia menjadi kehilangan jati diri dan identitas sosialnya, dan ia juga merasa dikucilkan oleh teman-temannya. Anak-anak korban perceraian pun akan sering merasa iri dengan teman-teman sebaya mereka yang memiliki keluarga yang utuh dan jika hal tidak di arahkan sejak dini tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan perilaku negatif mereka.

Tetapi tidak semua anak mengalami trauma akibat perceraian, banyak anak yang berasal dari kelurga yang bercerai dapat menjadi individu yang berkompeten. Hal itu dikarenakan faktor dari individu dan latar belakang orang tua yang mampu memberi penjelasan bahwa sebenarnya perceraian juga dapat melepaskan anak-anak dari masalah konflik perkawinan yang dialami orang tua mereka dan ini merupakan jalan terbaik yang harus ditempuh. Harapan yang timbul dari anak-anak korban perceraian adalah berfikir bahwa kegagalan orang tuanya dapat di jadikan pelajaran agar ia tidak seperti mereka dan menjadi bekal mereka untuk menuju masa depan yang lebih baik.

Teman Sebaya
Konteks sosial di luar keluarga pada anak-anak adalah teman sebaya. Pada teman sebaya inilah, anak memperoleh informasi dan perbandingan tentang dunia sosialnya. Anak juga belajar tentang prinsip keadilan melalui konflik-konflik yang terjadi dengan teman-temannya. Pada masa sekolah dasar, teman sebaya yang dipilih biasanya terkait dengan jenis kelamin. Anak cenderung bermain dengan teman sesama jenis kelaminnya. Dalam pergaulan ini anak belajar tentang konsep gender antara laki-laki dan perempuan dimana anak laki-laki seringkali saling mengajarkan perilaku maskulin dan anak perempuan juga saling mengajarkan kultur bagaimana menjadi wanita.

Pada masa remaja awal dimana remaja menyatakan bahwa mereka lebih tergantung kepada teman daripada orang tua untuk memenuhi kebutuhan akan rasa kebersamaan, keinginan untuk ikut serta dalam kelompok pertemanan makin meningkat. Disini rasa persahabatan mereka memainkan peranan cukup penting sehingga apabila remaja bertemu dengan sebuah kelompok kecil kemudian merasa cocok dan nyaman berada dalam kelompok tersebut mereka akan berusaha untuk tetap setia dan kesetiaan pada kelompok ini dapat mempengaruhi hidup mereka.

Sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematis melaksanakan program bimbingan, pengajaran dan latihan dalam rangka membantu anak agar mampu mengembangkan potensinya, baik yang menyangkut aspek moral spiritual, intelektual, emosionalmaupun sosial. Peranan sekolah dalam mengembangkan kepribadian anak adalah sebagai faktor penentu bagi perkembangan kepribadian anak baik dalam cara berpikir, bersikap maupun cara berperilaku. Sekolah mempunyai peranan atau tanggung jawab penting dalam membantu para anak mencapai tugas perkembangannya. Alasannya antara lain adalah bahwa sekolah memberi pengaruh kepada anak secara dini, seiring dengan perkembangan konsep dirinya, anak-anak banyak menghabiskan waktunya di sekolah dari pada tempat lain di luar rumah, sekolah memberikan kesempatan kepada anak untuk meraih sukses, sekolah memberi kesempatan pertama kepada anak untuk menilai dirinya dan kemampuan secara realistic dan sekolah juga berperan sebagai substansi keluarga dan guru subtitusi orang tua.

Sehubungan hal ini, sekolah sebisanya berupaya menciptakan suatu kondisi yang dapat memfasilitasi anak untuk mencapai tugas perkembangannya tersebut. Upaya sekolah dapat berjalan dengan baik, apabila sekolah tersebut telah tercipta kondisi yang sehat atau efektif, baik menyangkut aspek manajemennya, maupun profesionalisme para personelnya. Sekolah yang efektif itu sebagai sekolah yang memajukan, atau mengembangkan prestasi, ketrampilan sosial, sopan santun, sikap positif terhadap belajar, rendahnya angka absen dan memberikan ketrampilan-ketrampilan yang memungkinkan seorang anak dapat mandiri. Sekolah yang efektif disamping ditandai oleh ciri-ciri di atas juga sangat didukung oleh kualitas para guru, baik menyangkut karakteristik pribadi maupun kompetensinya. Karakteristik pribadi dan kompetensi guru ini sangat berpengaruh terhadap kualitas proses pembelajaran di kelas atau hubungan guru dengan anak di kelas yang pada nantinya akan berpengaruh pula pada keberhasilan belajar anak tersebut.

Artikel Terkait Lainnya :


0 komentar:

Poskan Komentar

  © Mas BOW by Situs Belajar Psikologi 2009

Back to TOP