Categories

Autisme dan Bebarapa Metode TerapiNya

Rabu, September 24, 2008

Mungkin sering kita banyak mendengar Autisme merupakan sebuah bencana bagi keluarga, apabila salah satu dari anggota keluarga mengalaminya. Namun, saya yakin bahwa setiap penyakit ada obatnya. mungkin apabila tidak dapat disembuhkan, manusia masih dapat berusaha untuk tetap mengobati penyakit tersebut agar tidak menjadi semakin parah. Saya rasa setiap orang di dunia ini akan memiliki keyakinan yang kurang lebih sama seperti sperti yang telah saya kemukakan diatas. Autisme, merupakan salah satu gangguan perkembangan yang semakin meningkat saat ini, menimbulkan kecemasan yang dalam bagi para orangtua.Secara bahasa Autisme berasa dari kata “autos” yang berarti segala sesuatu yang mengarah pada diri sendiri. Dalam kamus psikologi umum ( 1982), autisme berarti preokupasi terhadap pikiran dan khayalan sendiri atau dengan kata lain lebih banyak berorientasi kepada pikiran subyektifnya sendiri daripada melihat kenyataan atau realita kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu penderita autisme sering disebut orang yang hidup di “alamnya” sendiri.Saya rasa banyak sekali beberapa tulisan yang telah membahas secara rinci mengenai autisme, dari mulai pengertian, gejala, penyebab, serta metode terapi penyembuhannya. Dalam tulisan saya kali ini, saya hanya akan sedikit membahas mengenai terapi apa saja yang dapat dilakukan oleh para orang tua, guru, dan para terapis untuk pemyakit autisme, diantaranya;

- Applied Behavioral Analysis (ABA)
ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai , telah dilakukan penelitian dan didisain khusus untuk anak dengan autisme. Sistem yang dipakai adalah memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive reinforcement (hadiah/pujian). Jenis terapi ini bias diukur kemajuannya . Saat ini terapi inilah yang paling banyak dipakai di Indonesia.
- Terapi Okupasi
Hampir semua anak autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Gerak-geriknya kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang pinsil dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan menyuap makanan kemulutnya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting untuk melatih mempergunakan otot2 halusnya dengan benar

- Terapi Wicara
Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Biasanya hal inilah yang paling menonjol, banyak pula individu autistic yang non-verbal atau kemampuan bicaranya sangat kurang kadang-kadang bicaranya cukup berkembang, namun mereka tidak mampu untuk memakai bicarana untuk berkomunikasi dengan orang lain. Dalam hal ini terapi wicara akan sangat menolong

- Terapi Sosial
Kekurangan yang paling mendasar bagi individu autisme adalah dalam bidang komunikasi dan interaksi . Banyak anak-anak ini membutuhkan pertolongan dalam ketrampilan berkomunikasi 2 arah, membuat teman dan main bersama ditempat bermain. Seorang terqapis sosial membantu dengan memberikan fasilitas pada mereka untuk bergaul dengan teman-teman sebaya dan mengajari cara-caranya

- Terapi Fisik
Autisme adalah suatu gangguan perkembangan pervasif. Banyak diantara individu autistik mempunyai gangguan perkembangan dalam motorik kasarnya. Kadang2 tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya kurang bagus. Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan sangat banyak menolong untuk menguatkan otot2nya dan memperbaiki kesibangan tubuhnya

- Terapi Perilaku.
Anak autistik seringkali merasa frustrasi. Teman-temannya seringkali tidak memahami mereka, mereka merasa sulit mengekspresikan kebutuhannya, Mereka banyak yang hipersensitif terhadap suara, cahaya dan sentuhan. Tak heran bila mereka sering mengamuk. Seorang terapis perilaku terlatih untuk mencari latar belakang dari perilaku negatif tersebut dan mencari solusinya dengan merekomendasikan perubahan lingkungan dan rutin anak tersebut untuk memperbaiki perilakunya,

- Terapi Bermain
Meskipun terdengarnya aneh, seorang anak autistik membutuhkan pertolongan dalam belajar bermain. Bermain dengan teman sebaya berguna untuk belajar bicara, komunikasi dan interaksi social. Seorang terapis bermain bisa membantu anak dalam hal ini dengan teknik-teknik tertentu

- Terapi Visual
Individu autistik lebih mudah belajar dengan melihat (visual learners/visual thinkers). Hal inilah yang kemudian dipakai untuk mengembangkan metode belajar komunikasi melalui gambar-gambar, misalnya dengan metode …………. Dan PECS ( Picture Exchange Communication System). Beberapa video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan ketrampilan komunikasi.

-Terapi Perkembangan
Floortime, Son-rise dan RDI (Relationship Developmental Intervention) dianggap sebagai terapi perkembangan. Artinya anak dipelajari minatnya, kekuatannya dan tingkat perkembangannya, kemudian ditingkatkan kemampuan sosial, emosional dan Intelektualnya. Terapi perkembangan berbeda dengan terapi perilaku seperti ABA yang lebih mengajarkan ketrampilan yang lebih spesifik.

- Terapi Biomedik
Terapi biomedik dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam DAN! (Defeat Autism Now). Banyak dari para perintisnya mempunyai anak autistik. Mereka sangat gigih melakukan riset dan menemukan bahwa gejala-gejala anak ini diperparah oleh adanya gangguan metabolisme yang akan berdampak pada gangguan fungsi otak. Oleh karena itu anak-anak ini diperiksa secara intensif, pemeriksaan, darah, urin, feses, dan rambut. Semua hal abnormal yang ditemukan dibereskan, sehingga otak menjadi bersih dari gangguan. Terrnyata lebih banyak anak mengalami kemajuan bila mendapatkan terapi yang komprehensif, yaitu terapi dari luar dan dari dalam tubuh sendiri (biomedis).

Read more...

Mengatasi masalah insomnia dengan tehnik Aggravation, Branding, Closure

Minggu, September 14, 2008

Seperti telah dikemukakan di postingaan sebelumnya bahwa terdapat 3 tehnik dalam menyelesaikan suatu masalah atau kesulitan yang harus digunakan secara beruntun. Sekarang ini saya akan mencoba menjelaskan tehnik A-B-C dalam mengatasi insomnia. Berikut contoh kasusnya;
Selama berminggu-minggu Abdel terganggu oleh insomnia; ia khawatir tentang ujian sidang yang akan dilaksanakan besok. Segera setelah Abdel mematikan lampu lalu tergeletak di tempat tidur ia memikirkan ketakutann tentang dosen penguji yang akan menghujani banyak pertanyaan.
Semula abdel mencoba metode kuno menghitung kambing. Namun sia-sia, Ia mencoba menempatkan beberapa pikiran efektif untuk membantunya, tetapi segala sesuatunya benar-benar buruk sekali Sebenarnya, usahanya mengakhiri kekhawatiran di saaat tidur rupanya berdampak membuatnya terjaga.
Sehingga Abdel mencoba menggunakan metode A-B-C. Pertama ia menggunakan tehnik Aggravation, ia memaksakan dirinya sendiri, sekalipun lebih khawatir. Segera setelah itu, ia menyadari bahwa ia benar-benaar lelah dan khawtir.
Kemudian ia menambahkan tehnik Branding agar membantunya tidur. Ketika Abdel mengucapkan ”hijau”, ia akan merasakan seluruh tubuhnya benar-benar santai. Saat ia mengucapkan ”Hijau” yang kedua kalinya, ia mencoba kedua matanya, tetapi tidak membawakan hasil. Oleh karena itu ia mengingat dirinya sendiri ”tidak apa-apa begitu keras saya berusaha, saya tidak akan membuka mata saya”. Sudah tentunya sebenarnya ia dapat saja membuka mata jika ia sudah benar-benar menghendakinya, tetapi ia tidak melakukannya sebab ia merasa lebih penting baginya mendapat akses peting ke alam bawah sadarnya, tempat dimana kekhawatirannya berada. Setelah ia mengucap ”hijau” lagi, Abdel mencaci maki alam bawah sadarnya ” Berhentilah membawa kekhawatiran saya pada malam hari”. Kemudian ia mengucapkan ”kamu akan memiliki pemandangan yang indah dari liburan”. Ia pun mengulanginya berkali-kali sampai ini pun tercap dan tak bisa terhapus capnya dari alam bawah sadarnya.
Kemudian dengan alam bawah sadarnya tercap menjadi sepenuhnya efektif, ia mengucapkan ”hijau” yang terakhir kalinya. Bersamaan itu ia mengucapkan” Saya akan membuka mata dan merasakan ketentraman benar-benar akan kembali”, disini proses peangkhiran dari ketakutanya berakhir sehingga membuatnyanya merasa tentram .
Setelah beberapa saat Abdel membuka matanya. Ia berbariing di tempat tidur menikmati sensasi yang menyenangkan. Ia mersakan sangat lelah dan sangat mengantuk dan tertidur pulas samnbil mendengkur.. ngok....

Read more...

Metode Berfikir A-B-C (AGRAVATION, BRANDING, CLOSURE)

Sabtu, September 13, 2008

Kehidupan manusia tidak akan pernah lepas dari suatu maslah. Saya yakin sekali setiap manusia selalu saja memiliki masalah. Sepeti saya pada saat ini mengalami hal itu pula... ”Saya memiliki acara bertemu dengan teman-teman pada malam ini. Namun saya tidak dapat menghadiri, karena kondisi tubuh yang kurang sehat”.
Memang bukan masalah yang sulit sih. Bukan begitu para pembaca?? Hehehe.. Setiap detik, menit, jam, hari manusia tidak akan pernah lepas dari sebuah masalah, karena itu Allah SWT menciptakan manusia yang berakal agar manusia mampu menyelesaikan masalahnya. Anda pasti akan terkagum-kagum, betapa indahnya jika anda dapat melepaskan diri dari suatu maslah dengan merubah pikiran-pikiran anda. Apabila itu terjadi, anda akan pindah lagi pada tehnik- tehnik alam bawah sadar. Metode ini berdasarkan pada apa yang kita ketahui tentang psikologi manusia, mereka meraih keuntungan dan daya kekuatan yang menakjubkan.Tiga komponen sistem A-B-C dan pikiran pilihan, diantaranya:
A= AGRAVATION ( Memperburuk)
B = BRANDING (pemberian cap)
C= Closure (Pengakhiran)
Dalam hal itu anda harus menggunakannya secara beruntun. Yaitu jika anda gagal memilih berterus terang, tingkat kesadaran, cobalah tehnik aggravation. Jika itu tidak bisa, anda dapat melanjutkan pada Branding. Jika anda masih memerlukan lebih banyak bantuan , kemudian pindah ke Closure (pengakhiran).. sekian awalanya dulu, untuk lebih detailnya akan saya posting di lain waktu.. wassalam.

Read more...

Alzheimer????

Kamis, September 11, 2008

BAB I
PENDAHULUAN

Penyakit alzheimer pertama kali didiagnosis oleh dokter ahli saraf dari Jerman, Alois Alzheimer, pada tahun 1906. Penyakit ini menyebabkan sel-sel otak mati sehingga mengakibatkan penurunan daya ingat serta kemampuan berpikir dan perubahan perilaku penderitanya. Adapun gejala umum dari Alzheimer adalah kehilangan daya ingat secara perlahan-lahan dan progresif, kesulitan dalam mengikuti perintah dan melakukan kegiatan sehari-hari, gangguan penilaian, penalaran, konsentrasi dan orientasi, kebingungan dan kegelisahan, perubahan kepribadian an kehilangan kemampuan untuk mengurus diri sendiri. Alzheimer Menurut Whitbourne (2003), Alzheimer dikenal sebagai salah satu penyakit yang paling sering ditemui sebagai penyebab demensia. Demensia adalah suatu penyakit penurunan fungsi kognitif/gangguan intelektual/daya ingat yang umumnya semakin lama semakin memburuk (progresif) dan tidak dapat diubah (irreversible). Demensia menyebabkan penderitanya kesulitan untuk menjalani aktivitas sehari-hari dan berhubungan sosial. Demensia yang disebabkan oleh Alzheimer, berarti demesia yang disertai oleh perubahan patologis di otak penderitanya. Waktu penyebaran penyakit Alzheimer pada seseorang bervariasi mulai dari 5 hingga 20 tahun, dan kematian yang terjadi seringkali disebabkan karena infeksi.Faktor resiko utama seseorang mengidap Alzheimer adalah usia, yaitu semakin tua usia seseorang (khususnya setelah usia 65 tahun) maka semakin rentan orang tersebut mengidap Alzheimer. Menurut National Alzheimer's Association (2003), penyakit Alzheimer menyerang hingga 10 % dari orang berusia 65 tahun atau lebih, dan secara berangsur proporsi ini berlipat ganda setiap 10 tahun setelah usia 65 tahun. Dan sebanyak separuh dari populasi yang berusia 85 tahun atau lebih dapat dipastikan mengidap Alzheimer. Sementara, pada orang yang memiliki faktor genetik turunan / bawaan dari orang tua, penyakit ini akan menyerang di bawah usia 65 tahun.
Secara garis besar keadaan demensia dibagi atas dua golongan, yakni demensia primer dan sekunder. Demensia alzheimer tergolong dalam demensia primer. Sedangkan demensia sekunder antara lain disebabkan karena penyakit stroke, cidera otak berat (pada petinju), infeksi otak, menggunakan narkoba, dan lain sebagainya. Selain faktor usia, faktor keturunan juga disebut-sebut menyebabkan munculnya penyakit ini. Namun patut dibedakan apakah demensia yang terjadi karena penurunan daya ingat normal sesuai usia ’age associated memory impairment’ disingkat AAMI atau menderita gangguan kognitif ringan (’Mild Cognitive Impairment’ disingkat MCI), yang mana pada hasil penelitian, 20– 60 % MCI akan ber lanjut setelah 3-4 tahun menjadi demensia. Gangguan kognitif ringan merupakan kontinuum dari demensia Alzheimer.
Pada negara-negara maju terjadi perubahan dramatik demografi penduduknya, yaitu meningkatnya populasi usia lanjut. Populasi usia diatas 65 tahun di Amerika Serikat diduga meningkat dari 33,5 juta pada tahun 1995 menjadi 39,4 juta pada tahun 2010 dan diperkirakan menjadi lebih dari 69 juta pada tahun 2030. Dengan peningkatan ini muncul masalah-masalah penyakit pada usia lanjut.
Laporan Departemen Kesehatan tahun 1998, populasi usia lanjut diatas 60 tahun adalah 7,2 % (populasi usia lanjut kurang lebih 15 juta).Peningkatan angka kejadian kasus demensia Alzheimer berbanding lurus dengan meningkatnya harapan hidup suatu populasi. Kira-kira 5 % usia lanjut 65 - 70 tahun menderita demensia dan meningkat dua kali lipat setiap 5 tahun mencapai lebih 45 % pada usia diatas 85 tahun. Pada negara industri kasus demensia 0.5 –1.0 % dan di Amerika jumlah demensia pada usia lanjut 10 – 15% atau sekitar 3 – 4 juta orang. Pada tahun terkini banyak hasil penelitian dan penemuan dibidang genetika, patofisiologi dan riwayat alamiah dari penyakit ini.
Menurut dr. Samino, Sp.S (K), spesialis syaraf dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, demensia alzheimer berbeda dengan proses penuaan normal karena penyakit ini menyebabkan munculnya perubahan perilaku dan mental emosional. "Karena kepikunan sering dianggap sebagai hal yang lumrah pada orang tua, deteksi dini penyakit ini seringkali terlewatkan," katanya dalam acara seminar untuk memperingati Hari Alzheimer Sedunia yang jatuh tanggal 22 September. Tanda-tanda demensia alzheimer antara lain lupa akan kejadian yang baru dialami, kesulitan dalam berbahasa, kesulitan melakukan pekerjaan sehari-hari, sering salah menaruh barang-barang, tidak dapat membuat keputusan, serta kesulitan dalam hitung-menghitung sederhana.
Ditambahkan oleh dr Suryo, selain penurunan daya ingat, penderita demensia alzheimer stadium awal juga kerap mengalami gangguan psikologi dan perilaku. "Karena ada ingatan yang kosong, penderita demensia sering mengarang cerita yang diyakininya benar, hal ini menimbulkan pertentangan dengan orang di sekitarnya yang mengetahui bahwa cerita tersebut tidak benar, akibatnya penderita jadi bersikap paranoid," jelasnya.
Rumusan Masalah
Dari penjelasan yang telah dikemukakan di atas, maka dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut:
1. bagaimanakah gambaran umum penyakit Alzheimer pada kelompok usia beresiko tinggi.
2. Bagaimanakah upaya-upaya preventif yang bisa dilakukan untuk mencegah penyakit alzheimer.


BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian alzhaimer
AlzheimerMenurut Whitbourne (2003), Alzheimer dikenal sebagai salah satu penyakit yang paling sering ditemui sebagai penyebab demensia. Demensia adalah suatu penyakit penurunan fungsi kognitif/gangguan intelektual/daya ingat yang umumnya semakin lama semakin memburuk (progresif) dan tidak dapat diubah (irreversible). Gejala gangguan perilaku lain yang sering dialami penderita penyakit ini adalah mereka jadi mudah tersinggung, sering merasa cemas, sulit tidur, pencuriga, sering keluyuran, bahkan berperilaku memalukan, misalnya telanjang di depan umum, pergi ke kantor dengan pakaian tidur, dan sebagainya. Alzheimer banyak dialami oleh orang lanjut usia, terutama usia 65 tahun ke atas, tetapi dalam perkembangannya kelompok usia sebelum usia diatas pun cenderung rentan terkena penyaki ini, yang disebabkan oleh berbagai factor, misalnya penerapan pola hidup dan gaya hidup yang tidak sehat dan atau semakin tingginya tuntutan hidup dan tekanan hidup karena pekerjaan terutama di kota-kota besar (megapolitan).
Menurut dr. Samino, Sp.S (K), spesialis syaraf dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, penegakan definisi Alzheimer dapat diketahui dari gejala-gejala yaitu lupa akan kejadian yang baru dialami, kesulitan dalam berbahasa, kesulitan melakukan pekerjaan sehari-hari, sering salah menaruh barang-barang, tidak dapat membuat keputusan, serta kesulitan dalam hitung-menghitung sederhana.
Ditambahkan oleh dr Suryo, selain penurunan daya ingat, penderita demensia Alzheimer stadium awal juga kerap mengalami gangguan psikologi dan perilaku. "Karena ada ingatan yang kosong, penderita demensia sering mengarang cerita yang diyakininya benar, hal ini menimbulkan pertentangan dengan orang di sekitarnya yang mengetahui bahwa cerita tersebut tidak benar, akibatnya penderita jadi bersikap paranoid," jelasnya. Gejala gangguan perilaku lain yang sering dialami penderita penyakit ini adalah mereka jadi mudah tersinggung, sering merasa cemas, sulit tidur, pencuriga, sering keluyuran, bahkan berperilaku memalukan, misalnya telanjang di depan umum, pergi ke kantor dengan pakaian tidur.dan sebagainya.
Jadi dari penjelasan yang telah diuraikan di atas dapat disimpulkan bahwa Alzhaimer adalah salah satu penyakit yang paling sering ditemui sebagai penyebab demensia yang ditandai dengan penurunan daya ingat, lupa akan kejadian yang baru dialami, kesulitan dalam berbahasa, kesulitan melakukan pekerjaan sehari-hari, sering salah menaruh barang-barang, tidak dapat membuat keputusan, serta kesulitan dalam hitung-menghitung sederhana. Selain itu gejala gangguan terkait dengan perilaku yaitu penderita jadi mudah tersinggung, sering merasa cemas, sulit tidur, pencuriga, sering keluyuran, bahkan berperilaku memalukan, misalnya telanjang di depan umum, pergi ke kantor dengan pakaian tidur
B. Gejala-gejala Alzheimer
Gejala AlzheimerBerdasarkan National Alzheimer's Association (2003), gejala Alzheimer dibagi menjadi 3 tahap, yaitu:Gejala ringan
• Lebih sering bingung dan melupakan informasi yang baru dipelajari
• Disorientasi: tersesat di daerah sekitar yang dikenalnya dengan baik
• Bermasalah dalam melaksanakan tugas rutin
• Mengalami perubahan dalam kepribadian dan penilaian
Gejala menengah
• Kesulitan dalam mengerjakan aktivitas hidup sehari-hari, seperti makan dan mandi
• Cemas, curiga, dan agitasi
• Mengalami gangguan tidur
• Keluyuran
• Kesulitan mengenali keluarga dan teman.
Pertama-tama yang akan sulit untuk dikenali adalah orang-orang yang paling jarang ditemuinya, mulai dari nama, hingga tidak mengenali wajah sama sekali. Kemudian bertahap kepada orang-orang yang cukup jarang ditemui. Gejala akut
• Sulit / kehilangan kemampuan berbicara
• Kehilangan nafsu makan, menurunnya berat badan
• Tidak mampu mengontrol buang air kecil dan buang air besar
• Sangat tergantung pada caregiver/pengasuh

Selain itu Berdasarkan Alzheimer's Disease and Related Disorders Association (2001), juga membuat 10 gejala penyakit Alzheimer Demensia yang sering muncul, sebagai berikut:1. Hilang ingatan. Salah satu gejala awal dari demensia adalah melupakan informasi yang baru dipelajari. Pada orang normal, wajar bila melupakan janji, nama atau nomor telepon. Pada mereka yang mengidap demensia, mereka akan melupakan berbagai hal seperti itu lebih sering dan kemudian tidak ingat akan hal tersebut.2. Sulit untuk mengerjakan tugas yang familiar. Orang yang terkena demensia seringkali kesulitan untuk menyelesaikan tugas sehari-hari yang sangat mereka ketahui yang tidak perlu berpikir untuk melakukannya. Orang yang terkena demensia tidak akan mengetahui langkah-langkah untuk menyiapkan makanan, menggunakan perabot rumah tangga atau berpartisipasi dalam melakukan kegemarannya selama ini. 3. Bermasalah dengan bahasa. Sesekali, setiap orang dapat memiliki masalah dalam menemukan kata yang tepat, namun pada orang yang mengidap Alzheimer, mereka seringkali lupa akan kata-kata sederhatana ataupun substitusi dari kata yang tidak biasa digunakan, membuat ucapan atau tulisannya sulit untuk dimengerti. Contohnya: jika orang yang mengidap Alzheimer kesulitan untuk menemukan sikat giginya, maka ia akan bertanya "sesuatu untuk mulut saya". 4. Disorientasi waktu dan tempat. Normal jika lupa hari dari minggu itu atau dimana kamu pergi. Tapi orang yang mengidap Alzheimer dapat tersesat di jalan dekat rumahnya sendiri, lupa dimana dia berada dan bagaimana ia dapat sampai ke tempat tersebut, dan tidak tahu bagaimana caranya dia bisa kembali ke rumah. 5. Lemah atau kurang baik dalam mengambil keputusan. Tidak ada seorang pun yang memiliki keputusan sempurna di sepanjang waktu. Namun demikian, pada orang yang mengidap Alzheimer, mereka mengenakan baju tanpa mempertimbangkan cuaca, memakai beberapa kaos di hari yang panas atau memakai pakaian yang sangat minim ketika cuaca dingin. Orang dengan demensia seringkali menunjukkan keputusan yang lemah / kurang baik mengenai uang, mereka memberikan sejumlah besar uang kepada para telemarket atau membayar perbaikan rumah ataupun membeli barang yang tidak mereka butuhkan.6. Bermasalah dengan pemikiran abstrak. Menyeimbangkan buku cek mungkin menjadi begitu sulit ketika tugas tersebut lebih rumit dari biasanya. Namun demikian, pada orang yang mengidap Alzheimer, mereka akan benar-benar lupa berapa jumlah/angkanya, dan apa yang harus mereka lakukan terhadap angka-angka tersebut.7. Salah menempatkan segala sesuatu. Setiap orang dapat secara tidak disengaja salah menempatkan/menaruh dompet atau kunci. Orang yang mengidap Alzheimer akan meletakkan segala sesuatu pada tempat yang tidak sewajarnya, contoh: meletakkan gosokan di dalam freezer atau meletakkan jam tangan di dalam mangkuk gula.8. Perubahan mood atau tingkah laku. Setiap orang dapat menjadi sedih atau moody dari waktu ke waktu. Seorang yang mengidap Alzheimer menampilkan mood yang tidak tentu/berubah-ubah dari tenang menjadi ketakutan kemudian menjadi marah tanpa ada alasan yang jelas.9. Perubahan kepribadian. Kepribadian seseorang wajar mengalami perubahan seiring dengan usia. Namun seorang yang mengidap Alzheimer dapat sangat berubah , menjadi benar-benar kacau, penuh kecurigaan, ketakutan atau menjadi bergantung pada anggota keluarga.10. Kehilangan inisiatif. Lelah akibat pekerjaan rumah, aktivitas bisnis, atau kewajiban sosial sesekali waktu adalah wajar.



















BAB III
PELAKSANAAN PROMOSI KESEHATAN
Pelaksanaan promosi kesehatan ini meliputi penjelasan atau gambaran secara ringkas tentang penyakit alzheimer serta upaya-upaya preventif yang dilakukan untuk menanggulangi penyakit tersebut. Adapun operasional kegiatannya secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut :

Jenis Kegiatan : Promosi Kesehatan tentang gambaran umum penyakit Alzheimer dan upaya pencegahannya (preventif) pada individu usia 40-60 tahun.
Waktu/ Tempat Kegiatan:
Jumlah Peserta: 8 orang
Instrumen Kegiatan: Papan Whiteboard, spidol, kertas karton.

MATERI KEGIATAN
Peserta kegiatan sebelum diperkenalkan langkah-langkah preventif penyakit alzheimer atau diistilahkan dengan kepikunan, peserta diinformasikan tentang :
Pengertian pikun dan gambaran umum mengenai penyebabnya serta menyerang pada usia berapa (kelompok usia beresiko tinggi).
Tanda-tanda gejala awal (stadium awal) dari penyakit Alzheimer.
Upaya-upaya preventif untuk mencegah penyakit ini dengan melakukan aktivitas sehari-hari seperti mengerjakan tugas rumah tangga ringan misalnya menyapu halaman, membaca buku, koran atau majalah dengan topik ringan, serta melakukan dan menikmati aktivitas sesuai hobi, misalnya berkebun, memancing, mengajari cucu belajar membaca, atau secara rutin mengikuti senam manula (senam dengan gerakan lambat seperti tai chi (chi kung), dll. Selain itu, diperkenalkan pula brain gym, atau suatu gerakan-gerakan ringan yang sangat bermanfaat untuk mengaktifkan kinerja kedua belahan otak terutama bagi usia madya – lanjut. Gerakan brain gym yang akan dipraktekkan adalah gerakan silang ”Cross crowl” (menggerakkan tangan kanan bersamaa n dengan kaki kiri dan tangan kiri bersamaan dengan kaki kanan, baik bergerak ke depan, kesamping, ke belakang, atau jalan ditempat). Serta mempraktekkan gerakan 8 tidur ”lazy 8’s” ( membuat angka 8 tidur tiga kali tiap tangan, kemudian tiga kali dengan kedua tangan. Kedua gerakan tersebut efektif untuk mengaktifkan kedua belahan otak untuk terbuka mempelajari hal-hal baru dan juga efektif meminimalisir keseringan lupa terhadap sesuatu hal (yang bisa saja merupakan gejala awal dari alzheimer).























Daftar pustaka

Alzheimer's Disease and Related Disorders Association. (2001).The Warning Signs of Alzheimer's Disease. Alzheimer's Disease and Related Disorders Association, inc. (reprinted with permission from www.alz.org).
National Alzheimer's Association. (2003). Understanding Alzheimer's disease. Diambil pada tanggal 8 Februari 2006 dari World Wide Web: http://www.alz.or
Dennison, G.E & Dennison, P.E (2002). Brain Gym (Senam Otak). Jakarta : Grasindo.
Whitbourne, S. K. (2003). Adult development & aging: Biopsychosocial perspectives, second edition. University of Massachusetts at Amherst: John Wiley & Sons, Inc.
www.kompas.com. Diakses 6 desember 2007.
www.fpsikologiwisnuwardhana.ac.id . Diakses 6 desember 2007.

Read more...

  © Mas BOW by Situs Belajar Psikologi 2009

Back to TOP