Categories

Teknik-teknik terapi gestalt

Senin, Juni 30, 2008

Telah disebutkan bahwa terapi Gestalt adalah lebih dari sekedar sekumpulan teknik atau “permainan-permainan”. Apabila interaksi pribadi antara terapis dan klien merupakan inti dari proses terapeutik, teknik-teknik bisa berguna sebagai alat untuk membantu klien guna memperoleh kesadaran yang lebih penuh, mengalami konflik-konflik internal, menyelesaikan inkonsistensi-inkonsistensi dan dikotomi-dikotomi, dan menembus jalan buntu yang menghambat penyelesaian urusan yang tak selesai. Teknik-teknik dalam terapi Gestalt digunakan sesuai dengan gaya pribadi terapis.
Levitsky dan Perls (1970, h.144-149) menyajikan suatu uraian ringkas tentang sejumlah permainan yang bisa digunakan dalam terai Gestalt, yang mencangkup (1) permainan-permainan dialog (2) membuat lingkaran, (3) urusan yang tak selesai, (4) “saya memikul tanggung jawab”, (5) “Saya memiliki suatu rahasia”, (6) bermain proyeksi, (7) pembalikan, (8) irama kontak dan penarikan, (9) “ulangan”, (10) “melebih-lebihkan”, (11) “Bolehkah saya memberimu sebuah kalimat?” (12) permainan-permainan konseling perkawinan, dan (13) “Bisakah Anda tetap dengan perasaan ini?” Pembahasan teknik-teknik terapi Gestalt berikut berdasarkan uraian permainan-permainan dari Levitsky dan Perls (1970) dengan modifikasi bahan dan tambahan petunjuk-petunjuk dari penulis untuk pelaksaannya.

Permainan dialog
Sebagaimana disebutkan di muka, salah satu tujuan dari terapi Gestalt adalah mengusahakan fungsi yang terpadu dan penerimaan atas aspek-aspek kepribadian yang dicoba dibuang atau diingkari. Terapi Gestalt menaruh perhatian yang besar pada pemisahan dalam fungsi kepribadian. Yang paling utama adalah pemisahan antara “ top dog “ dan “ underdog “. Terapi sering difokuskan pada pertentangan antara top dog dan under dog itu.
Top dog itu adil, otoriter, moralistic, menuntut, berlaku sebagai majikan, dan manipulatif. Ia adalah “orang tua yang kritis” yang mengusik dengan kata-kata “harus” dan “sewajibnya” serta memanipulasi dengan ancaman-ancaman bencana. Sedangkan underdog memanipulasi dengan memainkan peran sebagai korban, defensif, membela diri, tak berdaya, lemah, dan tak berkekuasaan. Ia adalah sisi pasif, tanpa tanggung jawab, dan ingin dimaklumi. Top dog dan underdog terlibat dalam pertarungan yang tak berkesudahan untuk memperoleh kendali. Pertarungan itu bisa membantu menerangkan, mengapa resolusi-resolusi dan janji-janji sering tidak terlaksana dan mengapa kelambanan menjadi menetap. Top dog yang tiran menuntut seseorang untuk begini dan begitu, sementara underdog dengan sikap menentang memainkan peran sebagai anak yang bandel. Sebagai akibat dari pertarungan untuk memperoleh kendali itu, individu menjadi terpecah ke dalam situasi sebagai pengendali sekaligus sebagai yang dikendalikan. Perang saudara antara dua sisi tersebut tidak pernah sepenuhya berakhir, sebab kedua sisi berjuang demi keberadaanya.
Konflik antara dua sisi kepribadian yang berlawanan itu berakar pada mekanisme introyeksi yang melibatkan penggabungan aspek-aspek dari orang lain, biasanya orang tua, ke dalam system ego individu. Perls menunjukkan bahwa pengambilan nilai-nilai dan sifat-sifat orang lain itu perlu dan diharapkan. Akan tetapi, ada bahayanya apabila seseorang menerima seluruh nilai orang lain secara kritis, yakni menyebabkan orang itu sulit untuk menjadi pribadi yang otonom. Adalah suatu hal yang esensial bahwa orang menyadari introyeksinya, terutama introyeksi beracun yang dapat meracuni sistem dan menghambat intergasi kepribadian.

Teknik kursi kosong adalah suatu cara untuk mengajak klien agar mengeksternalisasi introyeksinya. Dalam teknik ini dua kursi diletakkan di tengah ruangan. Terapis meminta klien untuk duduk di kursi yang satu dan memainkan peran sebagai top dog, kemudian pindah ke kursi lain dan menjadi underdog. Dialog bisa dilangsungkan dia antara kedua sisi klien. Pada dasarnya, teknik kursi kosong adalah suatu teknik permainan peran yanbg semua peranya dimainkan oleh klien. Melalui teknik ini introyeksi –introyeksi bisa dimunculkan ke permukaan, dan klien bisa mengalami konflik lebih penuh. Konflik bisa diselesaikan melalui penerimaan dan integrasi kedua sisi kepribadian oleh klien. Teknik ini membantu klien agar berhubungan dengan perasaan atau sisi dari dirinya sendiri yang diingkarinya; klien mengintensifkan dan mengalami secara penuh perasaan-perasaan yang bertentangan, ketimbang hanya membicarakannya. Selanjutnya, dengan membantu klien untuk mennyadari bahwa perasaan adalah bagian diri yang sangat nyata, teknik mencegah klien memisahkan perasaan. Teknik ini juga bisa membantu klien untuk mengenali introyeksi-introyeksi parental yang tidak menyenangkan. Contohnya, klien mungkin berkata, “Itu kedengarannya mirip dengan apa yang dikatakan oleh ayah saya terhadap saya!” Introyeksi-introyeksi parental dapat menyebabkan permainan “menyiksa diri” terus berlangsung selama klien mempertahankan perintah –perintah orang tuanya yang digunakan untuk menghukum dan Dialog antara dua kecendrungan yang berlawanan memiliki sasaran meningkatkan taraf integrasi polaritas – polaritas dan konflik – konflik yang ada pada diri seseorang ke taraf lebih tinggi. Dengan sasaran itu terapis tidak bermaksud memisahkan klien dari sifat – sifat tertentu, tetapi mendorong klien agar belajar menerima dan hidup dengan polaritas – polaritas. Perls yakin yakin bahwa pendekatan – pendekatan terapi lain terlalu menitik beratkan perubahan. Ia menandaskan bahwa perubahan tidak bisa dipaksakan dan bahwa melalui penerimaan atas polaritas – polaritas integrasi bisa terjadi serta klien akan menghentikan permainan menyiksa dirinya. Terdapat banyak contoh konflik umum yang bisa digunakan pada permainan dialog. Di antaranya yang terbukti oleh penulis bisa digunakan adalah : (1) sisi orang tua lawan si anak, (2). Sisi yang bertangggung jawab lawan sisi impulsive. (3). Sisi yang puritan lawan sisi yang sexy. (4) “anak baik” lawan “anak nakal”. (5) diri yang agresif lawan diri yang pasif, dan (6). Sisi yang otonom lawan sisi yang marah.
Teknik permainan dialog dapat digunakan, baik dalam konseling individual maupun dalam konseling kelompok. Berikut ini uraian salah satu contoh konflik umum antara top dog dan under dog yang telah dibuktikan oleh penulis menjadi kekuatan yang membantu klien menjadi lebih sadar atas pemisahan internalnya dan atas sisi yang mungkin menjadi dominan. Klien, yang dalam kasus ini adalah seorang wanita, memainkan peranan orang yang malang, lemah, tak berdaya, dan bergantung. Klien mengeluh bahwa dirinya malang, benci dan dendam terhadap suaminya, tetapi dia juga takut bawah suaminya itu meninggalkan dirinya, dia akan mengalami disintegrasi. Klien menggunakan suami sebagai dalih bagi ketidakmampuanya. Dia terus – menerus menempatkan dirinya dibawah, dan selalu berkata, “ Saya tidak bisa,” “Saya tidak tahu bagaimana,” “Saya tidak sanggup.” Jika klien menetapkan dirinya cukup malang untuk menginginkan perubahan gaya kebergantunganya, penulis meminta klien untuk duduk di sebuah kursi di tengah ruangan menjadi syahid underdog dan membesar- besarkan sisi dirinya ini. Kemudian, jika klien menjadi muak terhadap sisi underdognya itu, penulis meminta klien untuk menjadi sisi yang lain, yakni sisi top dogi yang memandang rendah dan berbicara kepada “saya yang malang”. Kemudian penulis meminta kepada klien agar berpura – pura bahwa dia berkuasa, kuat, dan mandiri serta bertindak seakan – akan dia tidak berdaya. Penulis bertanya , “ Apa yang akan terjadi jika anda kuat dan mandiri serta jika anda menyingkirkan kebergantungan Anda?” Teknik semacam ini sering bisa menggerakkan para klien ke arah sungguh – sungguh mengalami peran – peran yang mereka mainkan untuk seterusnya, yang acap kali menghasilkan penemuan kembali aspek – aspek diri yang otonom.

Berkeliling
Berkeliling adalah suatu latihan terapi Gestalt di mana klien di minta untuk berkeliling ke anggota- anggota kelompoknya, dan berbicara atau melakukan sesuatu dengan setiap anggota itu. Maksud teknik ini adalah untuk menghadapi, memberanikan dan menyingkapkan diri, bereksperimen dengan tingkah laku yang baru, serta tumbuh dan berubah. Penulis pernah menggunakan teknik ini ketika mengamati bahwa seorang partisipan perlu menghadapi setiap anggota dalam kelompoknya dengan suatu tema. Misalnya, seorang anggota kelompok berkata. “ Saya telah lama duduk di sini, ingin berpartisipasi tetapi tidak jadi, karena saya takut untuk memberikan kepercayaan kepada orang – orang yang ada di sini. Selain itu, saya tidak yakin bahwa saya pantas untuk menghabiskan waktu dalam kelompok ini. “ Penulis bisa menjawabnya dengan pertanyaan, “ Bersediakan anda melakukan sesuatu sekarang juga untuk membawa diri anda lebih jauh dan mulai bekerja guna memperoleh rasa percaya dan kepercayaan diri?” Jika jawaban orang itu mengiyakan , penulis menganjurkan, “pergilah kepada setiap anggota kelompok dan selesaikanlah kalimat ini, “ Saya tidak mempercayai anda karena …. “ Sejumlah latihan bisa membantu orang untuk melibatkan diri dan memilih mengatasi hal – hal yang telah membekukan dirinya dalam ketakutan.
Sejumlah contoh lain yang telah diketahui oleh penulis pantas ditangani melalui teknik “berkeliling”, direflesikan oleh komentar – komentar para klien seperti, “Saya bosan dengan apa yang berhubungan dengan orang – orang;” “ Saya bosan dengan apa yang berlangsung dalam kelompok ini;” “ Di sini tidak tampak orang yang menaruh perhatian;” “Saya ingin menjalin kontak dengan anda, tapi saya takut di tolak;” Sulit bagi saya untuk menerima omong kosong yang baik- baik yang disampaikan orang lain kepada saya,” “ Sulit bagi saya untuk mengatakan hal – hal yang negatif kepada orang lain. Saya ingin selalu menjadi orang yang menyenangkan dalam berhubungan dan menjalin keakraban.”

Latihan “ Saya bertanggung jawab atas ….
Dalam latihan ini, terapis meminta untuk membuat seatu pernyataan dan kemudian menambahkan pada pernyataan itu kalimat “ dan saya bertanggung jawab untuk itu”. Contoh – contohnya adalah: “Saya merasa jenuh, dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu.” “ Saya merasa terasing dan kesepian, tapi saya bertanggung jawab atas keterasingan saya itu:” “ Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan, tapi saya bertanggung jawab atas ketidak tahuan saya itu.” Teknik ini merupakan perluasan kontinum kesadaran dan dirancang untuk membantu orang – orang agar mengakui dan menerima perasaan – perasaannya itu kepada orang lain. Meskipun tampaknya mekanis, teknik ini terbukti bisa sangat berguna.

“Saya memiliki suatu rahasia”
Teknik ini dimaksudkan untuk mengeksplorasi perasaan – perasaan berdosa dan malu. Terapis meminta kepada para klien untuk berkhayal tentang suatu rahasia pribadi yang terjaga dengan baik, membayangkan bagaimana perasaan mereka dan bagaimana orang lain bereaksi jika mereka membuka rahasia itu. Dalam setting kelompok, penulis meminta kepada para partisipan untuk membayangkan diri mereka sendiri di hadapan sekelompok orang dan membukakan aspek – aspek yang telah menguras banyak energi untuk menyembunyikannya dari orang lain. Kemudian penulis meminta kepada para partisipan untuk membayangkan apa yang akan dikatakan oleh setiap anggota kelompok itu ketika para partisipan membukakan rahasinya kepada mereka. Teknik ini juga bisa digunakan sebagai metode pembentukan kepercayaan dalam mengekplorasi mengapa para klien tidak mau membukakan rahasianya dan mengeksplorasi ketakutan – ketakutan menyampaikan hal – hal yang mereka angggap memalukan atau menimbulkan rasa berdosa.
Bermain proyeksi
Dinamika proyeksi terdiri atas seseorang melihat pada orang lain hal – hal yang justru ia tidak mampu melihatnya dan menerimanya pada diri sendiri. Orang bisa menguras banyak energi untuk mengingkari perasaan – perasaanya sendiri dan untuk mengalihkan motif – motif dirinya pada orang lain. Acap kali, terutama dalam setting kelompok, pernyataan – pernyataan seseorang tentang orang lain sebenarnya adalah proyeksi dari atribut – atribut yang dimilikinya.
Dalam permainan “bermain proyeksi” terapis meminta kepada klien untuk mengatakan “Saya tidak bisa mempercayaimu” untuk memerankan sesorang yang tidak bisa menaruh kepercayaan guna menyingkap sejauh mana ketidakpercayaan itu menjadi konflik dalam dirinya.” Dengan perkataan lain, terapis meminta pada klien untuk “mencobakan” pernyataan – pernyataan tertentu yang ditujukan kepada orang lain dalam kelompok.

Teknik pembalikan
Gejala – gejala dan tingkah laku tertentu sering kali merepresantikan pembalikan implus – implus yang mendasari atau yang laten. Jadi, terapis bisa meminta klien yang mengaku menderita inhibisi – inhibisi yang kuat dan rasa malu berlebihan agar memainkan peran sebagai seorang ekshiibionis dalam kelompok. Penulis ingat akan seorang wanita yang “teramat sopan” di dalam salah satu kelompok yang mengalami kesulitan untuk berbuat segala sesuatu kecuali menampilkan dirinya sebagai seorang yang manis. Penulis meminta pada klien untuk membalikkan gayanya yang khas dan untuk menjadi segenit – genitnya. Pembalikan berlangsung dengan baik; dengan segera klien memainkan bagian dirinya dengan senang, dan kemudian dia mampu mengakui dan menerima “ sisi genitnya” maupun “sisi nyonya yang sopan – nya” dengan baik.
Teori yang melandasi teknik pembalikan adalah teori bahwa klien terjun ke dalam sesuatu yang ditakutinya karena dianggap bisa menimbulkan kecemasan, dan menjalin hubungann dengan bagian – bagian diri yang telah ditekan atau diingkarinya. Oleh karena itu , teknik ini bisa membantu para klien untuk mulai menerima atribut – atribut pribadinya yang telah di coba di ingkarinya.
Ilustrasi lain dari penggunaan teknik pembalikan kasus seorang wanita yang diminta oleh penulis untuk menjadi seorang yang jahat. Penulis meminta kepada klien untuk berkeliling mendatangani semua orang dalam kelompokknya untuk memberikan kutukan, menunjukkan niat jahat, dan mengatakan sesuatu yang sangat ditakuti mereka. Selain itu, klien juga menyampaikan sumpah serapahnya. Klien adalah seorang wanita yang tidak pernah mengakui sisi buruknya itu. Dia menimbun kebencian dan dendam sebagai hasil sampingan repsresinya. Ketika ia didorong untuk mengungkapkan sisi buruknya yang sebelumnya tidak pernah dilakukannya, hasilnya cukup dramatis. Klien secara intens merasakan sisi yang diingkarinya dan lambat laun mampu mengintegrasikan sisi tersebut ke dalal kepribadiannya.

Permainan ulangan
Menurut Perls, banyak pemikiran kita yang merupakan pengulangan. Dalam fantasi, kita mengulang – ulang peran yang kita anggap masyarakat mengharapkan kita memainkannya. Ketika tiba saat menampilkannya, kita mengalami demam panggung atau kecemasan, yakni kita takut tidak mampu memainkan peran kita itu dengan baik. Pengulangan internal menghabiskan spontanitas dan kesediaan kita untuk eksperimen dengan tingkah laku baru.
Para anggota kelompok terapi melakukan permainan berbagi pengulangan satu sama lain dalam upaya meningkatkan kesadaran atas pengulangan – pengulangan yang dilakukan oleh mereka dalam memenuhi tuntutan memainkan peran – peran social. Mereka menjadi lebih besar derajat keingginan mereka untuk disetujui, ditrima, dan disukai, serta sejauh mana mereka berusaha memperoleh penerimaan.
Permainan melebih – lebihkan
Permainan ini berhubungan dengan konsep peningkatan kesadaran atas tanda – tanda dan isyarat – isyarat halus yang dikirimkan oleh seorang melalui bahasa tubuh. Gerakan – gerakan, sikap –sikap badan, dan mimik muka bisa mengkomunikasikan makna – makna penting, begitu juga isyarat – isyarat yang tidak lengkap. Klien meminta untuk melebih – lebihkan, yang biasanya mengintesifkan perasaan yang berpaut pada tingkah laku dan membuat makna bagian dalam menjadi lebih jelas.
Tingkah laku yang bisa digunakan dalam permainan melebih – lebihkan itu misalnya adalah tersenyum sambil mengungkapkan kesakitan atau perasaan yang negatif, gemetar (menggoyangkan tangan dan kaki), duduk lunglai dan menurunkan pundak, mengepalkan tinju, mengerutkan dahi, menyringai, dan menyilangkan tangan. Jika klien melaporkan bahwa kedua kakinya gemetar, misalnya terapis bisa meminta pada klien untuk berdiri dan melebih – lebihkan gemetarnnya. Kemudian terapis bisa meminta klien agar mengungkapkan arti getaran kakinya itu dengan kata – kata.
Sebagai variasi dari bahasa tubuh, tingkah laku verbal juga bisa digunakan dalam permainan melebih-lebihkan. Terapis bisa meminta klien agar mengulangi pernyataan yang telah dicoba dibelokkannya, dan setiap mengulang pernyataan itu diucapkan lebih keras. Teknik ini sering membawa hasil bahwa klien mulai sungguh-sungguh mendengar dan didengar dirinya sendiri.
Tetap dengan perasaan
Teknik ini bisa digunakan pada saat klien menunjuk pada perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan yang ia sangat ingin menghindarinya. Terapis mendesak klien untuk tetap dengan atau menahan perasaan yang ia ingin menghindarinya itu.
Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. Terapis bisa meminta klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan apa pun yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam perasaan dan tingkah laku yang ingin dihindarinya. Menghadapi, mengonfrontasi, dan mengalami perasaan-perasaan tidak hanya membutuhkan keberanian, tetapi juga membutuhkan kesediaan untuk bertahan dalam kesakitan yang diperlukan guna membuka dan membuat jalan menuju taraf-taraf pertumbuhan yang lebih baru.
Pendekatan Gestalt terhadap kerja mimpi
Dalam psikoanalisis, mimpi-mimpi ditafsirkan, pemahaman intelektual ditekan, dan asosiasi bebas digunkaan sebagai satu metode untuk mengeksplorasi makna-makna yang tidak didasari dari mimpi-mimpi. Terapi Gestalt tidak menafsirkan dan menganalisis mimpi, membawa kembali mimpi kepada kehidupan, menciptakan kembali mimpi, dan menghidupkan kembali mimpi seakan-akan mimpi itu berlangsung sekarang. Mimpi tidak dibicarakan sebagai suatu kejadian yang telah berlalu, tetapi sebagai sesuatu yang terjadi sekarang, dan pemimpi menjadi bagian dari mimpi yang dialaminya. Yang dianjurkan dalam penanganan mimpi-mimpi adalah membuat daftar dari segenap rincian mimpi, mengingat orang-orang, kejadian, dan suasana hati dalam mimpi, dan kemudian menjadi bagian dari mimpi dengan jalan mentransformasikan diri, bertindak sepenuh mungkin, dan menciptakan dialog; karena setiap bagian mimpi itu dianggap merupakan proyeksi dari diri, maka klien membuat scenario untuk pertemuan – pertemuan diantara berbagai karakter atau bagian; segenap bagian mimpi yang berbeda mengungkapkan sisi – sisi kontradiktioari dan tidak konsisten. Jadi, dengan melibatkan diri pada dialog antara sisi – sisi yang berlawanan itu, orang lambat laun menjadi lebih sadar atas jangkauan perasaan – perasaannya sendiri.
Konsep tentang proyeksi adalah dominan dalam teori Perls tentang formasi mimpi. Menurut Perls, setiap orang dan setiap objek yang ada dalam mimpi mempresentasikan aspek yang diproyeksikan oleh pemimpi. Perls (1969a) mengemukakan bahwa “kita bertolak dari asumsi yang mustahil bahwa apa pun yang kita yakini kita lihat dalam diri orang lain atau dalam dunia adalah tidak lain suatu proyeksi” (h. 67). dalam mimpi mempresentasikan aspek yang diproyeksikan oleh pemimpi. Perls (1969a) mengemukakan bahwa “kita bertolak dari asumsi yang mustahil bahwa apa pun yang kita yakini kita lihat dalam diri orang lain atau dalam dunia adalah tidak lain suatu proyeksi” (h. 67). Perls percaya bahwa pengakuan terhadap arti-arti dan pemahaman terhadap proyeksi-proyeksi berjalan seiring. Oleh karena itu, Perls tidak menafsirkan mimpi-mimpi, tidak memainkan permainan-permainan teka-teki intelektual, juga tidak menceritakan kepada klien makna mimpi-mimpinya, tetapi mendorong klien untuk memikul tanggung jawab atas mimpinya, membawa kembali mimpi ke dalam kehidupan saat sekarang, dan menghidupkan mimpi seakan-akan mimpi itu berlangsung sekarang. Klien menjadi setiap aspek dari mimpi dengan melakonkan kembali segenap rincian mimpinya. Klien tidak memikirkan atau menganalisis mipi, tetapi menuliskan scenario dan memerankan dialog di antara berbagai bagian dari mimpi. Karena bisa memerankan perjuangan di antara sisi-sisi yang bertentangan, maka klien lambat laun bisa menghargai dan menerima pebedaan-perbedaan yang ada dalam dirinya serta bisa memadukan kekuatan-kekuatan yang bertentangan. Sementara Freud menyebut mimpi sbegai jalan istimewa menuju ketaksadara, Perls (1969a) percaya bahwa mimpi itu adalah “jalan istimewa menuju integrasi (h. 66).
Menurut Perls (1969a) mimpi adalah ungkapan yang paling spontan dari keberadaan manusia. Mimpi mempresentasikan situasi yang tidak tuntas, tetapi lebih dari sekadar suatu situasi yang tidak tuntas atau hasrat yang tidak terpenuhi. Setiap mimpi mengandung pesan eksistensial tentang diri seseorang dan perjuangan yang dialaminya sekarang. Segala hal bisa ditemukan dalam mimpi-mimpi jika segenap bagian dari mimpi-mimpi itu dipahami dan diasimilasi. Masing-masing bagian dari kerja menangani mimpi mengarahkan suatu kepada suatu asimilasi. Perls menandaskan bahwa jika mimpi-mimpi itu ditangani secara layak, maka pesan eksistensial yang dikandungnya akan menjadi lebih jelas. Menurut Perls, mimpi-mimpi itu tidak bertindak sebagai jalan yang baik sekali guna mengatahui kehampaan kepribadian dengan membukakan bagian-bagian yang hilang dan metode-metode klien untuk menghindar. Orang-orang yang tidak bersedia mengingat mimpi-mimpinya berarti menolak untuk menghadapi apa yang keliru dalam hidupnya. Yang paling akhir adalah, terapis Gestalt meminta klien untuk berbicara terhadap mimpi-mimpinya sendiri.
Pembahasan ringkas tentang kerja menangani mimpi ini dimaksudkan untuk memperkenalkan pembaca kepada cara umum di mana mimpi-mimpi merupakan teknik yang berguna dalam terapi Gestalt. Kepada pembaca yang berminat memperdalam penanganan mimpi ini, penulsi menganjurkan untuk membaca buku Downing dan Marmorstein yang berjudul Dreams and Nightmares, yang barangkali merupakan karya yang paling rinci dalam membahas pendekatan Gestalt terhadap mimpi-mimpi.
Penerapan dalam terapi individual dan kelompok
Terapi Gestalt bisa diterapkan dengan berbagai cara, baik dalam setting individual maupun dalam setting kelompok. Dalam konseling, terapi Gestalt bisa diterapkan dalam gaya Gestalt terbatas di mana interaksi klien dengan terapis bertaraf minimal. Klien menerjemahkan pengalaman segeranya ke dalam situasi permainan peran di mana klien mempersonifikasi segenap aspek kesadarannya. Dalam bentuknya yang murni ini reaksi-reaksi klien terhadap terapis menjadi bagian dari proyeksi-proyeksi fantasi klien.
Terapi individual bisa juga dilaksanakan dalam bentuk yang kurang murni, yang ditandai oleh dialog antar klien dan terapis. Terapis bisa menyarankan percobaan-percobaan guna membantu klien dalam memperoleh focus yang lebih tajam kepada apa yang dilakukannya sekarang. Akan tetapi, terapis juga membawa reaksi-reaksinya ke dalam dialog, dan karenanya dia lebih dari sekadar pengarah terapi individual. Polster dan Polster (1973) dan Kempler mengimbau terapis agar aktif, membuka diri, dan melibatkan pendekatan yang manusiawi.
Kempler (1973, halaman 270-271) mendesakkan “pengungkapan pribadi secara penuh” dari terapis selama pertamuan terapi : “Tanggung jawab terapis adalah menghidupkan terapi, bukan hanya berkhotbah dengan menafsirkan tingkah laku orang lain.” Kempler menyatakan bahwa terapis mengungkapkan segenap yang dipikirkan atau dirasakannya “yang dianggapnya bisa mengurangi kemampuan berpartisipasi jika dipertahankan”. Kempler menganjurkan agar terapis menunjukkan tingkah lakunya yang luas selama pertemuan terapi. Terapis boleh menganjurkan agar terapis menunjukkan tingkah lakunya yang luas selama pertemuan terapi. Terapis boleh menganjurkan, berteriak, menangis, berbicara tentang diri sendiri, mengeksplorasi kebingungannya sendiri, atau menegur klien. Menurut Kempler, “tidak ada tingkah laku yang menjadi milik yang eksklusif dari klien. Jika proses hubungan klien-terapis bisa terus berlangsung, maka hal itu banyak bergantung pada partisipasi penuh dari terapis maupun pada tuntunannya kepda kliennya untuk menunjukkan komitmen yang penuh.” Jelas, Kempler percaya bahwa terapi individual yang berhasil adalah hasil partisipasi bersama dari dua manusia. Terapis harus berbuat lebih dari sekadar mengajukan pertanyaan-pertanyaan, membuat penafsiran-penafsiran, dan memberikan saran-saran. Proses yang berlawanan yang ada dalam diri terapis sendiri adalah bagian yang vital dari proses terapi.
Dalam setting kelompok pun praktek terapi Gestalt bisa mengambil bentuk murni atau, sebagai alternatif, mendorong para angota untuk secara spontan terlibat dalam interaksi satu sama lain. Perls menangani kelompok dengan cara yang murni. Kontaknya difokuskan kepada klien tunggal pada suatu saat, dan ia mengalihkan perhatian klien dari kelompok kepada reaksi-reaksi internal klien itu sendiri. Pada dasarnya, melalui cara ini, terapis dan klien bekerjasama, dan para anggota lain bertindak sebagai pengamat. Jika seorang klien telah selesai bekerja, maka terapis biasanya meminta kepada para anggota untuk memberikan umpan balik atau menghubungkan apa yang timbul dengan pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Dalam terapi Gestalt kelompok model ini, seorang anggota kelompok menjadi sukarelawan dan diminta untuk bekerja sama dengan terapis. Si sukarelawan dipersilakan duduk dan berfokus sebanyak mungkin pada kesadaran dari saat-saatnya disini dan sekarang. Berbagai bentuk teknik Gestalt yang telah diuraikan di muka mendorong intensifikasi pengalaman klien. Pertukaran langsung dan spontan para anggota dan klien yang duduk sebagai sukarelawan tidak ada. Pada waktu-waktu tertentu terapis bisa memanggil para anggota lain meskipun hal itu dilakukan dengan sasaran melanjutkan kerja terapis dengan si anggota sukarelawan.
Sebagaimana terapi individual, terapi kelompok bisa dipraktekkan dalam konteks Gestalt, tetapi kurang murni. Kebebasan yang lebih besar bisa diberikan. Para anggota kelompok bisa memiliki kebebasan yang lebih besar untuk berinteraksi secara spontan, dan terapis bisa merangsang interaksi antar anggota. Variable yang penting adalah menetapkan apakah intervensi akan membantu ataukah mengacaukan. Beberapa interaksi anggota menyimpang dari kualitas kerja terapi serta memencarkan energi kelompok. Pendek kata, sebagaimana ditunjukkan oleh Kempler (1973), “Terapis Gestalt lebih banyak diidentifikasi oleh siapa dia ketimbang oleh apa yang dilakukannya” (h.273). Oleh karena itu, terapis, apakah bekerja menangani klien individual ataupun kelompok, memiliki keleluasaan untuk menggunakan teknik-teknik psikoterapi dengan jangkauan yang lebih luas daripada yang secara orisinil dikembangkan oleh Perls di bengkel kerjanya. Pola kerja “hot seat” Perls sesuai dengan gaya dan kebutuhan-kebutuhannya. Menurut Kempler (1973), pola itu menempatkan Perls pada posisi top-dog. Kempler menyatakan bahwa Perls adalah pribadinya sendiri dan mengembangkan suatu gaya yang unik yang tidak bisa ditiru secara mekanis dengan hasil yang efektif. “Bahwa Fritz mengikuti dirinya sendiri adalah esensi dari dirinya dan diharapkan pula bahwa hal itu akan menjadi inti dari Gerakan Gestalt” (h. 253). Jadi, prakter terapi Gestalt bisa memikul dimensi-dimensi yang luwes sehingga, diharapkan, terapis akan mengembangkan gaya kepemimpinan yang konsisten dengan kepribadiannya sendiri dan tidak jatuh ke dalam perangkap dari sekadar meniru Fritz Perls.
Factor-faktor yang berhubungan dengan penerapan yang pantas dari teknik-teknik terapi Gestalt adalah: (1) waktu, (2) jenis klien yang ditangani, dan (3) setting yang dihadapi. Shepherd (1970) menghubungkan diri dengan factor-faktor tersebut dan menggarisbawahi soal-soal yang direfleksikannya;
Pada umumnya, terapi Gestalt paling efektif menangani individu-individu yang disosialisasi secara berlebihan, terhambat, dan mengerut yang sering dijabarkan sebagai neurotik, fobik, perfeksionistik, tidak efektif, depresif, dan sebagainya yang fungsi psikologisnya terbatas atau tidak konsisten, terutama ditandai oleh restriksi-restriksi internalnya, dan yang kesenangan hidupnya minimal. Sebagian besar upaya terapi Gestalt karenanya diarahkan kepada orang-orang dengan cirri-ciri tersebut (h. 234-235). *


Menurut Shepherd (1970), teknik-teknik terapi Gestalt, terutama teknik-teknik konfrontif dan melakonkan kembali, tidak cocok untuk digunakan dalam penanganan klien yang psikotik. Ia menunjukkan bahwa para klien yang mengalami gangguan kepribadian yang lebih berat membutuhkan dukungan yang kuat sebelum mereka bisa menanggung pengalaman menghidupkan kembali kemarahan, kesakitan, dan keputusasaan yang meluap-luap yang manandai proses-proses psikotik. Ketimbang melibatkan klien ke dalam permainan peran yang yang melepaskan perasaan-perasaan yang intens, “akan sangat membantu jika menggunakan teknik-teknik guna menunjang pemulihan kebebasan klien untuk menggunakan mata, tangan, telinga, tubuh; secara umum, untuk meningkatkan kesanggupan-kesanggupan sensoris, perceptual, dan motorik menuju kemampuan-kemampuan mendukung diri sendiri dan mengatasi lingkungannya” (h. 235).
Penerapan di sekolah: Proses belajar mengajar
Metodologi Gestalt memiliki penerapan langsung bagi kerja menangani anak-anak dan para remaja di sekolah. Buku Janet Leder-man yang mengharukan yang berjudul Anger and the rocking Chair, berisi uraian yang dramatis tentang adaptasinya atas metode-metode Gestalt bagi kerjanya menangani anak-anak yang memiliki masalah-masalah emosional dan tingkah laku di ruangan-ruangan kelas pendidikan khusus. Lederman dengan jelas menjabarkan perasaan-perasaan ketidakberdayaan dan apati yang sering dialami, baik oleh anak-anak maupun oleh para orang tua. Laderman menerapkan konsep-konsep terapi Gestalt dalam mengonfrontasikan anak-anak dengan cara-cara mereka menghindari pengguanaan kekuatan peribadinya, dan ia menuntut, berdasarkan kepribadiannya sendiri dan hubungannya yang sungguh-sungguh dengan anak-anak, agar anak-anak itu menerima tanggung jawab atas apa yang dilakukan oleh mereka. Ia menghadapi anak-anak yang diliputi kebencian, kemarahan, perasaan tidak berdaya, dan yang memandang diri sendiri sebagai manusia yang gagal. Ia menerima dan mengakui kenyataan dari perasan-perasaan tersebut, dan ia tidak berpretensi untuk mengesampingkan kemarahan dan perlawanan anak-anak itu.
Para guru secara khas takur kepada emosi-emosi eksplosfi para siswanya serta umumnya mengabaikan kenyataan emosi-emosi semacam itu. Alih-alih, para guru cenderung mendorong para siswa untuk menekan agresivitas dan perasaan-perasaan marah serta tingkah laku lainnya. Mereka menuntut agar para siswa berpikir secara secara beradab, merasa secara beradab, dan bertindak secara beradab. Oleh karena itu, mereka mengabaikan keberadaan dan dunia para siswanya. Begitu sering para guru percaya bahwa, sebelum perasaan-perasaan “negatif” ditekan, maka kekacauan akan selalu terjadi di ruangan kelas.
Sebaliknya, Lederman tidak hanya mengakui emosi-emosi yang kuat, tetapi juga mendorong pengungkapan perasaan-perasaan dan sekaligus menuntut agar para siswa memikul tanggung jawab atas konsekuensi-konsekuensi dari tingkah laku mereka sendiri. Kekacauan tidak timbul di ruangan kelas yang ditangani oleh Lederman. Kadang-kadang ia keras dan menuntut, tetapi di lain waktu ia lembut. Akan tetapi, ia selalu bekerja dengan tujuan para siswa memperoleh pemahaman tentang dirinya sendiri. Pendek kata, Lederman mengetahui benar bahwa para siswa tidak akan mempelajari pelajaran sebelum mereka menangani secara efektif kekacauan emosi yang menghambat konsentrasi kepada tugas-tugas belajar.
Brown (1971) telah mengembangkan pendekatan humanistic terhadap proses belajar-mengajar berlandaskan teknik-teknik kesadaran Gestalt yang bisa diterapkan, naik pada para siswa sekolah dasar maupun pada para siswa sekolah menengah. Bengkel-bengkel kerja yang ditangani oelh para staf Ford-Esalen diarahakan kepada pelayanan pendidikan guru untuk membantu para guru belajar bagaimana mengintegrasikan minat-minat utama para siswa dengan pelajaran. Tujuannya bukanlah menyingkirkan kurikulum konvensional, melainkan menunjukkan kemungkinan-kemungkinan menerapkan kurikulum konvensional ke dalam kehidupan para siswa. Pendekatan diberikan tidak hanya pada perasaan-perasaan para siswa, tetapi juga pengintegrasian aspek-aspek kognitif dan afektif dari belajar.
Cara-cara belajar yang menjadi alternatif, yang memasukkan perasaan-perasaan, ambisi-ambisi, tujuan-tujuan, nilai-nilai, sikap-sikap dan ruang hidup siswa, adalah focus pendidikan yang konfluen. Dalam bukunya yang berjudul Human Teaching for Human Learning, Brown menguraikan berbagai teknik afektif Gestalt yang baik utnuk digunakan di dalam ruangan kelas, yang mencakup kelompok – kelompok dalam dan luar yang dirancang untuk membantu individu – individu tinggal pada “saat sekarang” kelompok – kelompok fantasi, latihan – latihan agresi, penyentuhan, tehnik teater improvisasional, perjalanan – perjalanan, tubuh fantasi, peta – peta kehidupan pribadi, perjalanan bersama, pencerminan, permainan – permainan proyeksi Gestalt, berkeliling bersama, fantasi khewan, teknik – teknik kepercayaan dan kontak imajinasi, teknik – teknik kesadaran peran guru Gestalt, teknik – teknik tanggung jawab Gestalt, dan banyak teknik kesadaran Gestlat verbal dan nonverbal lainnya yang bisa diterapkan pada sekolah menengah. Brown menguraikan cara – cara yang spesifik dari pelaksanaan teknik – teknik tersebut pada semua tingkat pendidikan. Ia melaporkan bahwa penggunaan teknik – teknik belajar efektif yang diintegrasikan dengan bahan kognitif menghasilkan belajar yang lebih baik mengenai bahan kognitif, orang lain dan alam, dan peningkatan tanggung jawab siswa. Kesimpulannya, Brown telah memperlihatkan suatu cara penerapan Gestalt pada situasi belajar – mengajar yang menghasilkan perubahan – perubahan tingkah lakuyang positif pada para siswa dan menunjukkan bahwa penerapan – penerapan pendekatan Gestalt itu tidak hanya membuat para siswa menjadi lebih baik, tetapi juga membantu mereka dalam mempreluas hubungan antarmanusiannya.

Read more...

EKSHIBISIONISME SEBAGAI DAMPAK KECEMASAN PADA DIRI INDIVIDU

PENDAHULUAN
Pada umumnya, parafilia merupakan masalah karena memenuhi kriteria di atas. Dalam istilah psikologis, suatu aktivitas seksual yang tidak lazim didiagnosis sebagai parafilia jika perilaku tersebut kuat, berlangsung sekurangnya enam bulan, dan pelaku merasa harus melakukan dorongannya atau mengalami ketegangan yang berat jika menghindari dorongannya itu. Parafilia jarang berdiri sendiri dan mungkin merupakan salah satu aspek dan gangguan kejiwaan lain seperti skizofrenia atau gangguan kepribadian. Parafilia hampir seluruhnya pria, dengan kekecualian masokisme.
Penting diingat, bahwa parafilia adalah perilaku (tindakan), dan bukan fantasi. Memiliki fantasi seksual yang tidak lazim sering ditemukan atau tidak perlu menimbulkan kekuatiran. Dr. John Money, melalui penelitiannya di Johns Hopkins Hospital, Baltimore, memberi banyak sumbangan dalam pemahaman parafilia. Parafilia yang paling sering ditemukan adalah Ekshibisionisme berasal dari kata to exhibit: mempertontonkan, mempertunjukkan ; exhibition: tontonan, pertunjukan yang artinya memamerkan alat kelaminya. Seseorang atau penderita mendapatkan kepuasan seksual dengan memamerkan genitalianya sendiri kepada orang asing yang tidak mau melihatnya. Bagi seorang ekshibisionis, kepuasan berasal dari reaksi orang lain, yang secara keliru diduga oleh si penderita sebagai ekspresi kepuasan seksual. (Url :/kesehatan/news/0508/18/065031.htm)
Kepuasan seksual diperoleh penderita Ekshibisionisme saat melihat reaksi terperanjat, takut, kagum, jijik, atau menjerit dari orang yang melihatnya. Kemudian hal tersebut digunakan sebagai dasar untuk fantasi masturbasi. Orgasme dicapai dengan melakukan masturbasi pada saat itu juga atau sesaat kemudian. Para peneliti menyatakan ekshibisionis memiliki pendekatan yang tidak dewasa terhadap seks, dengan kebutuhan yang besar untuk diperhatikan. Ekshibisionisme dan voyeurisme merupakan sebagian besar pelanggaran seksual yang ditangani oleh polisi. Sebelum beraksi, ia terus merasa gelisah, tercekam, dan tegang. Gejala yang muncul yaitu perasaan penderita akan terasa lega begitu berhasil memamerkan penisnya pada wanita dewasa atau anak dengan usia dan bentuk tubuh sesuai keinginannya. Pada saat melakukan ia seolah-olah bermimpi, tidak mengetahui keadaan sekitarnya dan tidak menyadari bahaya akan tertangkap. Setelah itu muncul perasaan menyesal dan takut ditangkap. Namun, perasaan ini tidak cukup kuat untuk mencegahnya berbuat ulang pada kesempatan lain.
Dalam banyak kasus tindakan didahului suatu periode di mana ia pergi ke suatu tempat sepi dan menunggu sampai hari agak gelap. Namun, ada pula ekshibisionis yang tidak menghindari suasana ramai sehingga tidak malu-malu melakukan perbuatannya di toko, kamar tunggu praktik dokter, atau jendela rumahnya pada siang bolong. Ada pula yang timbulnya secara impulsif karena perasaan ingin melakukannya timbul seketika, sehingga tanpa pikir panjang ia menuruti dorongan hatinya. Acap kali seorang ekshibisionis dapat melakukan tindakan pengamanan supaya tidak tertangkap basah saat melakukannya. Ia teliti dulu sebelumnya apakah ada pria lain yang mengamatinya atau menutupi kembali penisnya bila tiba-tiba muncul seseorang yang tidak diinginkan. Ekshibisionis banyak ditemukan pada usia 20-an dan banyak di antaranya mengalami kesulitan ereksi dalam aktivitas seksual lainnya.
HIPOTESIS
Penyimpangan seksual sangat bergantung pada; (1). struktur kepribadian seseorang dan perkembangan pribadinya, (2). Menetapnya atau fixity kebiasaan yang menyimpang, (3). Kuatnya tingkah laku seksual yang menyimpng, (4). Sikap pribadi individu yang bersangkutan terhadap gejala penyimpangannya, dan (5). Adanya prilakuan-prilakuan seksual yang lain tumbuh secara pararel dan berhubungan. Pada tingkah laku seksual yang normal dan sehat, relasi heteroseksual berlangsung dalam suasana penuh afeksi dansaling memuaskan, saling memberi dan menerima kasih-sayang dan kenikmatan. Sebaliknya, pada tingkah laku seksual yang menyimpang sering berjalan tanpa ada diskriminasi sehingga semua terasa datar, tanpa perbedaan, dan dilakukan tanpa afeksi terhadap patnernya. Prilaku seperti ini lebih banyak dikuasai kebutuhan-kebutuhan neurotis dan dorongan-dorongan nonseksual dari pada kebutuhan erotis, yang menuntun pasien kepada prilaku komplusif dan patologis, karena seksualitas sangat erat dengan dimensi kepribadian sehingga penyimpangan seksual akan berasosiasi terhadap kesulitan-kesulitan neurotis dan ketidak mampuan menyesuaikan diri (maladjustment) yang disertai kecemasan-kecemasan terhadap relasi heteroseksual.
Kerangka berpikir yang dapat dipakai untuk menjelaskan seluk beluk prilaku Ekshibionisme diturunkan dari beberapa teori kepribadian yang menyajikan uraian dan konsep gangguan prilaku, asal-usul beserta proses perkembangannya. Di dalam teori kepribadian juga menyajikan konsepsi tentang bagaimana perilaku dapat diubah berdasar konsep yang ditawarkan dalam beberapa model psikoterapi, sebagai cara menolong penderita dan mengubah bentuk-bentuk prilakunya yang menimbulkan gangguan (Hall & Lindzey,1993). Model yang pertama adalah model psikoanalitik diturunkan dari teori psikoanalisis yang dikemukakan oleh Sigmund Freud (1856-1939). Menurut Freud, aneka situasi menekan yang mengancam akan menimbulkan kecemasan dalam diri seseorang. Dalam memenuhi dorongan, keputusan atau tuntutan moralnya, akan terjadi konflik-konflik psikis dalam diri individu sehingga menimbulkan kecemasan (anxiety)
Menurut Freud terdapat tiga macam kecemasan: (1). Kecemasan Neurotik (neurotic anxiety) yaitu, kecemasan individu akibat khawatir tidak mampu mengatasi atau menekan keinginan-keinginan primitifnya, (2). Kecemasan Realitas (reality anxiety) yaitu, kecemasan yang terjadi akibat ketakutannya menghadapi realitas, (3). Kecemasan moral (moral anxiety) yaitu, kecemasan akibat rasa bersalah dan ketakutan dihukum oleh nilai-nilai yang ada pada nalurinya. Sebagian dari cara individu mereduksi perasaan tertekan, kecemasan, stress atau pun konflik adalah dengan melakukan mekanisme pertahanan diri (ego defence mekanism) baik yang ia lakukan secara sadar atau pun tidak. Langkah ini secara superfisial dapat membebaskan individu dari kecemasan, namun akan berakibat kesenjangn antara pengalaman individu dengan realitas yang sanga ekstrem, maka akan mempengaruhi prilakunya yang mengarah pada penyimpangan secara psikis.
Menurut model Behavioristik Prilaku manusia sebagian besar adalah hasil pelatihan atau pengalaman interaksi individu dengan lingkungannya sehingga faktor lingkungan sangat berperan bagi pembentukan prilaku individu. Menurut Pavlov terdapat dua hal yang perlu diperhatikan dalam proses belajar dengan asosiasi, yaitu organisme selalu berinteraksi dengan lingkungan, dan dalam interaksi itu organisme dilengkapi dengan refleks. Konsep ini berpendapat ganguan prilaku disebabkan karena proses belajar yang salah (faulty learning), dan gagal mempelajari bentuk-bentuk perilaku atau kecakapan adaptif yang diperlukan dalam hidup.
Sebab-sebab penyimpangn seks yang multifaktorial, dapat kita golongkan menjadi dua kelompok. Kelompok interinsik dan eksterinsik yang saling berkaitan, faktor interinsik bersumberr pada hereditas atau keturunan yang berupa predisposisi dan konstitusi jasmaniah dan mentalnya. Sedang faktor ekterinsik mencakup kerusakan psikis dan fisik yang disebabkan pengaruh dari luar, atau pengalaman dengan lingkungan yang menimbulkan traumatis. Teori Psikoanalisa menekankan, bahwa penentu tingkah laku seksual yang menyimpang disebabkan pengalaman masa kanak-kanak yang sangat muda, diantaranya pemaparan seks yang prematur atau traumatik, dalam bentuk penyiksaan seksual (sexual abuse) pada masa anak-anak. Kira-kira 75 persen pria yang diterapi di National Institute for Study, Prevention, and Treatment Sexual Trauma, di Baltimore, adalah korban penyiksaan seksual pada masa anak-anaknya. Karena alasan yang belum dimengerti, seorang anak perempuan yang mengalami penyiksaan seksual lebih sering terinhibisi secara seksual, sedangkan anak laki-laki lebih sering mewujudkan perilaku parafilia. Penekanan yang berlebihan terhadap keingintahuan alami tentang seks, karena alasan religius atau alasan lain. Anak laki-laki yang diajari bahwa seks adalah kotor dan menerima hukuman karena keingintahuannya terhadap seks mungkin menjadi pria dengan perilaku fetishisme. Penderita sendiri rata-rata tidak merasa atau menganggap dirinya sakit atau mengidap kelainan seksual sampai mendapat perhatian dokter akibat perbuatan seksual itu menimbulkan konflik di sekitarnya.
Akibat dari tingkah laku seksual dan pengalaman seksual yang salah menyebabkan perasaan tidak adekuat (tidak mapan), rasa tidak aman, merasa tersudut-hilang dan dilupakan, rasa rendah diri (minder-waardigheidscomplexen); sehingga timbul komplusi-komplusi dan dambaan untuk diperhatikan, untuk diakui kejantanannya sebagai laki-laki yang potent, dengan jalan memperlihatkan alat kelaminnya di depan umum. Biasanya, sifat penderitanya sangat pemalu, pendiam dan pasif dan pada umumnya mereka itu mempunyai ibu yang sangat dominan.
Pendekatan pada penderita hendaknya dengan penuh pengertian, tidak dengan menghakimi atau mempersalahkan. Juga dicoba menyelami perasaan dan jiwa mereka karena seperti disebutkan tadi acap kali gangguan itu terbentuk dari keinginan dan pengalaman masa lalu. Menangani ekshibionisme tidak gampang. Karena mereka sering tidak menghendaki atau merasa tidak perlu mendapat terapi. Namun demikian, perlu ada beberapa terapi psikiatrik yang dapat dicoba. Pertama, melakukan pendekatan psikodinamik dan psikoanalitik (menggali pengalaman masa lalu yang menyebabkan kelainan kejiwaan). Kedua, Melakukan terapi perilaku yang terdiri dari aversive conditioning, yaitu conditioning untuk menimbulkan rangsangan (stimulus) terhadap lawan jenis. Atau mengukur tingkat birahi dengan pletismometris penis. Tentang terapi ini Prof. Arif Adimoelya, seorang ahli androlog dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, terapi aversion diperlukan untuk menghilangkan conditioning yang ada atau hal-hal yang menyebabkan kelainan psikoseksual. Penderita diberi kejutan listrik sementara disuguhi gambar-gambar atau film mengenai penyimpangan seksual. Khususnya pada voyeurisme dan ekshibisionisme, penderita hendaknya dipacu secara halus untuk lebih berani berkomunikasi langsung dengan lawan jenisnya, sehingga diharapkan lambat laun akan berani melakukan kontak badan langsung. Atau penderita diajari mengatasi rasa takut dan malu untuk mengungkapkan keinginan seks yang benar. Ketiga, karena umumnya penderita mempunyai sifat dasar kekurangan social skill (kecakapan sosial), maka mereka perlu disertakan dalam program terapi yang mengajarkan kecakapan sosial serta empati terhadap dunia sekelilingnya. Ditambah lagi terapi perilaku secara individual. Keempat, terapi farmakologi yang meliputi pemberian hormon wanita, anti androgen, dan obat-obatan golongan penghambat daur ulang serotonin yang biasanya digunakan untuk mengobati penderita depresi tetapi keberhasilan terapi ini tampak lebih disebabkan oleh penurunan nafsu birahinya. Terapi ini mungkin lebih efektif pada penderita parafilia bersifat hiperseks. Kelima, tidak kurang pentingnya perhatian masyarakat terhadap penderita. Mereka hendaknya tidak dicemoohkan tetapi diberi pengarahan agar berusaha menghilangkan kebiasaan yang memalukan tersebut. (Asep Candra Abdillah, pemerhati masalah kesehatan bersumber dari Ints.)





KESIMPULAN
Lingkungan sangat berpengaruh pada normal dan tidaknya individu. Seseorang laki-laki yang mengalami pengalaman tidak baik dan tidak menyenangkan dimasa perkembangan misalnya campur tangan ibu yang sangat dominan dan figure seorang ayah yang tidak pernah mempedulikan anaknya, aneka situasi menekan yang mengancam akan menimbulkan kecemasan dalam diri seseorang. Dalam memenuhi dorongan, keputusan atau tuntutan moralnya, akan terjadi konflik-konflik psikis dalam diri individu sehingga menimbulkan kecemasan (anxiety). Biasanya, akan membentuk sifat yang pemalu, pendiam, dan pasif menyebabkan seseorang tidak mampu melakukan adaptasi dan beraktualisasi dengan lawan jenis. Sehingga timbul komplusi-komplusi dan dambaan untuk diperhatikan, untuk diakui kejantanannya sebagai laki-laki yang potent, dengan jalan memperlihatkan alat kelaminnya di depan umum. Biasanya seorang ekshibionis bisa menikah dan menjadi relasi seksual yang tidak memuaskan, karena kehidupan seksualnya tidak mapan, dan banyak mengalami ganguan batin. Untuk menyembuhkanya, seseorang ekshibionis memerlukan bimbingan psikoterapis yang intensif dan relatif lama.











DAFTAR PUSTAKA
Calhoun, C., Light, D., dan Keller, S. 1994. Sociology, 6th edition. New York: McGraw-Hill.
Hall, C.S. & Lindzey, G. (1993). Psikologi Kepribadian 1. Teori-teori Psikoanalitik (Klinis). Yogyakarata; Kanisius.
Kartono, kartini. (1989). Psikologi Abnormal dan Abnormal Seksualitas. Bandung; Mandar maju.
Notosoedirdjo, moeljono & Latipun, (2005). Kesehatan Mental Konsep dan Penerapan. Malang; UMM Pers.
Supratiknya, A. (1995). Mengenal Prilaku Abnormal, Yogyakarta; Kanisius.
Winkel, W.S. (1991). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta: Gramedia.
www.parafilia.com
www.jakartapos.com

Read more...

Teori Maslow

1.0 PENGENALAN
Motivasi merupakan satu penggerak dari dalam hati seseorang untuk melakukan atau inginkan mencapai sesuatu matlamat. Motivasi boleh juga dikatakan sebagai rancangan atau kehendak untuk menuju kejayaan dan mengelakkan dari kegagalan hidup. Dengan kata lain motivasi adalah proses menghasilkan tenaga oleh keperluan diarahkan untuk mencapai sesuatu matlamat. Seseorang yang mempunyai motivasi bermakna ia telah memperolehi kekuatan untuk mencapai kecemerlangan dan kejayaan dalam kehidupan.. Dalam satu-satu kelompok kumpulan, motivasi menjadi penggerak kepada kejayaan kumpulan. Dengan adanya motivasi, maka wujudlah kerjasama, sifat suka tolong-menolong antara satu sama lain.
Motivasi memainkan peranan yang sangat penting dalam bidang pendidikan. Guru dan murid memerlukan motivasi untuk mengerakkan dirinya untuk mencapai kualiti kerja atau kejayaan yang lebih cemerlang. Di sini motivasi boleh ditakrifkan sebagai kebolehan atau persetujuan yang dilaburkan untuk mengembangkan tenaga demi mencapai matlamat atau juga penghargaan. Oleh yang demikian motivasi adalah merupakan keadaan apabila keperluan manusia itu dipenuhi dengan diberi ganjaran dan sesuatu status yang baik. Ekoran daripada itu, mereka akan bekerja dengan lebih baik kerana tiada lagi kebimbangan, rasa selamat dan kehidupan yang terjamin telah tersedia untuk mereka. Begitu juga dengan kepuasan, jika seseorang itu diberi motivasi, maka secara tidak langsung kehendak mereka telah dipenuhi . Terpenuhnya kehendak dan kemahuan oleh seseorang itu boleh memberikan suatu kepuasan yang tidak terhingga pada diri seseorang. Pada masa yang sama guru juga menjadi “motivator” kepada pelajar-pelajarnya untuk berjaya dalam kehidupan mereka. Seorang guru yang baik mesti mempunyai motivasi yang dinamik, cekap dan sentiasa berusaha untuk memajukan serta meningkatkan pengajaran dan pembelajaran dalam bilik darjah. Guru yang bermotivasi juga mempunyai tenaga untuk menjadi penggerak kepada pelajar-pelajarnya.
Pelajar yang bermotivasi ialah pelajar yang mempunyai minat untuk belajar bagi mencapai matlamatnya. Mereka akan mendengar dan memberikan perhatian sepenuhnya kepada pelajarannya. Mereka aktif di dalam dan di luar kelas, mudah bertindak dan sedia menerima teguran dan arahan guru. Mereka boleh berdikari dan suka memberikan pandangan dan pendapat dalam kelas. Pelajar-pelajar seperti ini mempunyai penggerak dalam dirinya untuk mencapai kecemerlangan akademik dan juga dalam hidup keseluruhannya. Oleh itu pengajaran dan pembelajaran yang berkesan di sekolah boleh dicapai melalui guru dan pelajar yang sentiasa bermotivasi.
Ahli-ahli psikologi berpendapat bahawa tingkah laku manusia boleh dipengaruhi oleh beberapa faktor. Adakalanya manusia bertindak berdasarkan perasaan dan nalurinya sendiri dan juga kadang-kala dipengaruhi oleh persekitaran sekeliling. Melalui apa cara pun, manusia bertindak untuk mencapai sesuatu matlamat dan ia akan mencari jalan yang paling mudah untuk mancapai matlamat tersebut. Apa yang mendorong manusia bertindak untuk sesuatu tujuan itu ialah apa yang dinamakan “motivasinya” Untuk memahami dengan lebih mendalam tentang tindakan manusia ini kita perlulah mengkaji beberapa teori yang berkaitan. Jadi teori yang akan diketengahkan disini ialah tentang teori motivasi “Maslow”.
2.0 Teori Motivasi Maslow
Struktur dan fungsi di dalam badan organisme mempunyai keperluan yang tertentu. Telah diakui bahawa manusia sebagai makhluk yang paling tinggi mempunyai keperluan yang kompleks. Berdasarkan Atan Long ( 1976 : 131 ), Maslow (1954) telah menjelaskan bahawa keperluan-keperluan manusia itu berperingkat-peringkat. Sesuatu peringkat keperluan yang lebih tinggi tidak mungkin diperolehi sebelum keperluan yang lebih rendah peringkatnya dipenuhi terlebih dahulu. Pada peringkat yang paling asas terdapat keperluan hayat ataupun keperluan fisiologi. Setelah keperluan ini dipenuhi baharulah keperluan keselamatan, diikuti keperluan kasih-sayang, seterusnya peringkat penghargaan kendiri atau penghormatan diri dan peringkat tertinggi atau puncak bagi keperluan manusia adalah peringkat keperluan bagi penyempurnaan kendiri.
Peringkat keperluan manusia mengikut teori Maslow ini dapat dilihat seperti rajah di bawah.

1. Keperluan Estetik
2. Keperluan Mengetahui
3. Penyempurnaan Diri
4. Penghargaan Kendiri
5. Kasih Sayang
6. Keselamatan
7. Fisiologi

Model Maslow yang berbentuk peringkat itu merupakan perkembangan ‘ontological’ individu kerana setiap peringkat perkembangan perlu dilalui oleh individu misalnya pada masa bayi atau kanak-kanak, individu memerlukan perlindungan dan keselamatan, diikuti dengan kasih-sayang, dan penghormatan diri dan keperluan ini terus bertambah sehingga kepada peringkat penyempurnaan kendiri. Kajiannya mendapati semakin tinggi keperluan individu itu maka semakin kurang pergantungan kepada persekitaran social kerana dalam hal ini individu menggunakan pengalaman lampau untuk menentukan tingkah-lakunya. Pada masa ini motivasi bergantung kepada kemahuan dalaman, kemampuan, potensi, bakat, dan kreativiti impuls individu. Sementara itu persekitaran sosial merupakan faktor desakan dalam mencapai kemahuan ini. Maka dengan itulah juga Maslow menamakan keperluan peringkat terbawah sebagai keperluan kekurangan dan peringkat paling tinggi sebagai keperluan perkembangan.
2.1 Keperluan Fisiologi
Mengikut teori Maslow, peringkat ini merupakan keperluan yang paling asas. Keperluan ini adalah penting bagi kehidupan sesuatu organisme, apatah lagi manusia. Keperluan asas ini merangkumi apa yang diperlukan untuk diri atau fizikal seseorang seperti keperluan mendapatkan makanan, minuman dan tempat tinggal. Membicarakan teori motivasi Maslow dalam konteks pendidikan, pelajar-pelajar yang mendapat kurang makanan tidak dapat menumpukan perhatian yang sepenuhnya terhadap pelajaran mereka. Ini kerana kesan daripada kekurangan keperluan ini akan mengakibatkan kesihatan pelajar terganggu atau terjejas. Bagi mengelakkan perkara ini berlaku, para guru sepatutnya memberikan perhatian dan mengambil berat kepada tanda-tanda yang menunjukkan apa-apa kekurangan dari segi fizikal pelajar itu. Sekiranya keperluan ini tidak dipenuhi pelajar akan kurang bermotivasi atau berminat terhadap pelajaran.
Selain itu, salah satu lagi yang termasuk dalam keperluan asas manusia adalah keperluan seks. Keperluan ini akan mencapai kemuncaknya apabila seseorang itu mencapai peringkat baligh. Melalui keperluan ini, setiap individu dapat mengetahui peranan jantina masing-masing. Mereka perlu berkahwin untuk memenuhi keperluan seks. Bagi remaja yang cuba memenuhi keperluan seks melalui hubungan seks yang tidak selamat, boleh mendatangkan penyakit yang berbahaya kepada mereka. Kekurangan keperluan seks boleh menyebabkan seseorang individu tidak dapat melakukan tugasan lain kerana keperluan ini adalah merupakan keperluan utama yang perlu dipenuhi terlebih dahulu.
2.5 Keperluan Keselamatan
Telah menjadi lumrah setiap yang bernyawa, aspek keselamatan amat penting dalam hidup. Demikianlah tiap-tiap individu memerlukan keperluan ini tetapi dengan kekuatan yang berbeza-beza.. Ada individu yang kurang mempunyai keperluan ini dan menjadikannya lebih gemar bersendirian, tetapi ada individu yang mempunyai keperluan ini dengan kuatnya sehingga menjadikannya bergantung di dalam banyak hal kepada orang lain. Keperluan ini boleh jadi timbul daripada keadaan anak-anak kecil yang tidak dapat hidup dengan sendirinya dan memaksa ia bergantung kepada orang dewasa terutama ibu bapa untuk mendapatkan keperluan ini agar ia sentiasa dilindungi. Sebagai contoh semasa dalam kesakitan seorang kanak-kanak amat memerlukan jagaan ibu bapa. Sikap kepekaan dan keprihatinan seorang ibu atau bapa yang bertanggungjawab diharapkan demi menjaga keselamatannya dan hasil penyelidikan yang dibuat oleh Harlow dan Zimmerman (1958) berdasarkan kajiannya turut menunjukkan betapa pentingnya perdampingan dan sentuhan orang dewasa kepada seseorang kanak-kanak.
Hal yang sedemikian turut berlaku di dalam kelas. Pelajar-pelajar memerlukan keselamatan daripada seorang guru iaitu dalam bentuk disiplin. Oleh itu dari peringkat awal lagi, kanak-kanak perlu diajar akan disiplin ini. Mereka tidak boleh dibiarkan mendisiplinkan diri mereka sendiri. Sebagai seorang yang berpengalaman, wajarlah ibu bapa memainkan peranannya dalam mendidik dan mengajari kanak-kanak akan hal ini.
Di dalam kelas guru pula berperanan besar. Keselamatan di dalam kelas dapat dijamin jikalau seseorang guru itu bertindak dengan konsisten. Ini kerana pelajar-pelajar itu akan dapat belajar dengan lebih berkesan jika mereka dapat mengetahui perasaan atau ‘mood’’ guru itu. Contohnya, cara seseorang guru itu memberikan arahan. Semestinya setiap arahan yang diberi tidak bercanggah. Di samping itu apa yang penting juga guru seharusnya ada sikap toleransi terhadap para pelajarnya. Ini kerana pelajar-pelajar akan berasa selamat dan membolehkan mereka dapat menumpukan perhatian sepenuhnya terhadap proses pembelajaran.

2.3 Keperluan Kasih-sayang
Berdasarkan Teori Maslow, turut diperlukan keperluan ini untuk mendapatkan hubungan yang mesra, kasih-sayang, dan perasaan diri. Kebiasaan yang berlaku di dalam kelas, pelajar kadang-kadang akan berasa terganggu apabila terjadi perkelahian atau perbalahan antara satu sama lain. Mereka berasakan diri dan emosi mereka berada di dalam keadaan yang tidak stabil menyebabkan tidak dapat menumpukan perhatian terhadap proses pembelajaran mereka. Keadaan ini akan menjadi lebih kritikal dan tegang jikalau mereka dimarahi pula oleh guru dan dikenakan denda. Situasi ini akan menimbulkan rasa tidak senang di kalangan pelajar terbabit dan merasakan diri mereka seolah-olah tidak disukai, dihargai, atau tidak dipedulikan oleh guru mahupun kawan-kawan. Ekoran daripada itu keinginan, minat, juga kehendak atau motivasi mereka untuk belajar akan pudar dan lenyap.
Dalam konteks ini, guru perlulah memberi tunjuk-ajar kepada mereka dengan menasihati atau mengadakan sesi kaunseling untuk mengeratkan hubungan yang baik sesama mereka. Apa yang penting juga ini akan dapat memelihara hubungan yang baik dan mesra di antara pelajar dengan guru. Melalui cara ini, pelajar akan merasakan mereka diterima, dihormati, serta dihargai oleh anggota lain dalam komuniti yang kecil dan mereka ada hak milik keanggotaan dalam komuniti tersebut. Secara tidak langsung, proses pengajaran pembelajaran berjalan dengan baik, harmonis, lancar, dan berkesan kerana masing-masing individu telah dapat memenuhi keperluan kehendaknya.

2.4 Keperluan Penghargaan Kendiri
Satu unsur besar dalam pembinaan konsep kendiri adalah penerimaan. Penerimaan oleh keluarga, guru dan rakan sebaya amatlah penting. Penerimaan bermaksud menghargai sifat-sifat istimewa individu sebagai manusia unik yang bebeza dengan individu lain dari segi sikap, pengetahuan dan kemahiran.Penerimaan bererti memberi peluang kepada individu belajar menerima diri mereka sendiri.Penerimaan rakan sebaya penting supaya mereka tidak merasa tersingkir.Murid yang diterima kerap kali memperolehi prestasi akademik yang tinggi berbanding individu yang tidak diterima rakan sebaya. Murid yang diterima merasai diri mereka dihargai, dikasihi dan bernilaai.Oleh itu mereka dapat berinteraksi secara positif membincangkan masalah pembelajaran dalam kumpulan.Guru perlu menyediakan aktivviti seperti projek-projek bagi setiaap murid supaya mereka dapat berdamping dan mendampingi murid yang lain.
Setiap individu memerlukan penilaian yang tinggi dan stabil tentang diri mereka. Bagi memenuhi kehendak atau membolehkan perkara ini berlaku, terlebih dahulu seseorang itu perlu menghormati dirinya sendiri dan berusaha pula menjadikan dirinya dihargai oleh orang lain. Faktor yang penting ialah keperluan ini dapat dipenuhi apabila seseorang itu mempunyai keyakinan diri dan kebebasan, juga pengiktirafan, perhatian, dan penilaian diri orang lain. Konsep ego seseorang itu berkait rapat dengan perasaan penghargaan diri. Berdasarkan Saedah, Zainun, dan Tunku Mohani (1996 : 13) mengungkap kata-kata Kubiniec, 1970, ‘Orang yang mempunyai konsep diri yang kuat lebih berkemungkinan mencapai kejayaan akademik Ini bertepatan sekali jika dihubungkaitkan dengan diri seseorang pelajar itu. Rasa ingin tahu mempunyai pertalian yang erat untuk memenuhi kehendak ini. Rasa ingin tahu ini juga akan menggerakkan pelajar tersebut mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang menarik perhatian mereka.
Keinginan ini juga mendorong pelajar untuk belajar dan mencari pengetahuan dengan membaca buku, mentelaah, menjalani proses pembelajaran atau mencuba berbagai-bagai perkara yang belum dialaminya. Oleh itu menjadi tugas seseorang guru memberikan tugasan, yang sesuai untuk diterokai serta yang mampu dan boleh dilaksanakan oleh pelajar. Pelajar akan merasakan diri mereka penting apabila sesuatu tugasan yang diberi dapat dilaksanakan dengan sebaiknya. Ini dapat memupuk diri pelajar untuk lebih berkeyakinan seterusnya keinginan dan minat mereka untuk terus belajar dan berjaya makin meluap-luap. Seseorang guru juga perlu berusaha dan memastikan jangan ada pelajarnya yang gagal atau tercicir kerana mereka ini akan merasakan penghargaan dirinya amat rendah.
2.5 Keperluan Penyempurnaan Kendiri
Konsep kendiri adalah pengertian atau kefahaman seseorang terhadap dirinya sebagai individu yang asing yang memiliki satu ciri-ciri yang unik atau istimewa ( Shaffer,1985 ).Ia membawa maksud bagaiman seseorang individu itu berpendapat dan menganggap dirinya.Penyempurnaan kendiri pula bermaksud apa yang seseorang itu boleh jadi, ia mesti jadi, iaitu potensinya dilahirkan. Anggapan dan pendapat itu adalah berasaskan kepekaan dan kesedaran tentang kekuatan dan kelemahannya.Kesedaran itu pula lahir daripada maklum balas, gerakbalas atau preaksi individu lain disepanjang pergaulan, sosialisasi atau interaksi dengan individu lain.
Cohen (1959) menjelaskan bahawa orang yang mempunyai konsep kendiri yang tinggi dikonsepsikan sebagai orang yang menyukai atau menghargai dirinya dengan melihat dirinya berkebolehan dalam hubungan dengan dunia luar. Manakala mereka yang mempunyai konsep kendiri yang rendah pula melihat dirinya sebagai orang yaang membenci dan tidak menghargai dirinya.Iaitu seseorang yang tidak berkebolehan untuk berhubung secara berkesan dengaan persekitarannya.
Peringkat penyempurnaan kendiri ini adalah peringkat yang paling tinggi dan hanya diperolehi apabila semua keperluan peringkat bawah itu telah dipenuhi. Demikian pula mengikut Atan Long (1976 : 148) daripada Maslow (1970), keperluan untuk penyempurnaan kendiri itu adalah keperluan yang menjadi kemuncak atau yang tertinggi di dalam peringkat sistem keperluan manusia. Keperluan ini hanya dapat dicapai setelah seseorang itu memenuhkan keperluan lain yang terdapat pada peringkat yang lebih bawah di dalam sistem keperluan tadi. Menurutnya lagi, keperluan penyempurnaan diri ini merupakan pemenuhan keseluruhan keperluan manusia.
Ini bermakna seseorang yang telah mencapai peringkat ini telah dapat memenuhi keperluan untuk mendapatkan keindahan dan estetika; ia telah dapat dengan sepenuhnya akan makna hidup; ia dapat menerima keadaan dirinya dan orang lain; ia merasakan gembira tentang nikmat hidup dan telah menggunakan kebolehannya dengan semaksimanya.
Penerimaan diri berlaku melalui sosialisasi dengan individu lain.Sikiranya individu itu diterima oleh orang lain, dia juga akan menerima dirinya.Penerimaan diri boleh mempengaruhi tindak tanduk individu dalam menghadapi cabaran hidup ini.Manakal perhargaan diri pula bermaksud sikap penerimaan atau tidak penerimaan individu terhadap dirinya.Individu yang tinggi penghargaan dirinya selalu berkebolehan membenteras dan mengatasi kegawatan persenoliti serta kurang upaya mengendalikan masalah yang timbul dalam hidupnya.
Untuk membina konsep kendiri yang positif ibu pada dan para pendidik perlu memberi dorongaan, bantuan dan sokongan kepada murid. Bantuan kemudahan dan sokongan moral perlu dalam pembelajaran mereka. Ibu bapa dan pendidik juga perlu menyediakan segala jenis pengalaman hidup untuk membantu murid mengembangkan bakat atau potensi mereka.
Dalam meniti arus kehidupan untuk membantu murid mengembangkan bakat atau potensi mereka. Di sekolah, terdapat banyak ruang atau peluang-peluang yang diberi atau disediakan kepada pelajar-pelajar untuk mencapai peringkat penyempurnaan kendiri ini seperti pemilihan aktiviti oleh pelajar sendiri, rancangan belajar yang bebas juga sesi bimbingan kaunseling. Melalui aktiviti-aktiviti tersebut pelajar dapat memilih jenis pengetahuan atau kemahiran yang mereka kehendaki dan mereka juga bebas menggunakan masa untuk mengembangkan pengetahuan atau kemahiran itu Apabila pelajar berusaha untuk mencapai peringkat penyempurnaan kendiri, maka mereka mesti belajar dengan tekun, bersungguh-sungguh, serta melipatgandakan usaha melalui arah yang tegas dan berdisiplin. Di samping itu pelajar juga perlu mengetahui had aktiviti mereka.
Dalam membantu para pelajar berjaya mencapai sehingga peringkat ini, guru perlu memainkan peranannya. Guru harus membantu menyuburkan minat, bakat, juga kebolehan pelajar dengan menjadi pembimbing atau fasilitator kepada mereka. Dengan ini pelajar dan guru berjalan seiringan dalam memenuhi satu matlamat. Kesan daripada itu proses pengajaran serta pembelajaran dapat ditingkatkan seterusnya mendatangkan manfaat kepada semua pihak.
2.6 Keperluan Mengetahui
Keperluan mengetahui adalah berkaitan dengan perasaan ingin tahu sesuatu perkara. Ia berhubung juga dengan keperluan mencari, menyusun serta menganalisis sesuatu maklumat. Untuk mengetahui sesuatu perkara, seseorang itu mestilah berusaha mencari jawapan mengenai makna kehidupannya dan tentang kewujudan dirinya. Dalam konteks sekolah, guru mestilah sentiasa mengajar dengan cara ikuiri penemuan dan kajian supaya semua pelajar dapat melibatkan diri dalam proses mencari maklumat dan pemikiran reflektif.
2.7 Keperluan Estetik
Keperluan estetik adalah merujuk kepada keperluan manusia untuk memiliki dan memahami keindahan dan kecantikan dalam dirinya. Salah satu untuk memiliki perasaan tersebut adalah dengan cara memiliki baranganyang cantik dan mempunyai unsur-unsur kesenian dalam dirinya. Akibat keperluan ini manusia sanggup membelanjakan beratus malahan beribu ringgit untuk memiliki barangan yang indah .
Dalam konteks sekolah pula, pelajar perlu digalakkan supaya lebih melibatkan diri dalam aktiviti-aktiviti yang dapat mengembangkan otak kanan mereka seperti dalam bidang drama, muzik dan sebagainya.
3.0 APLIKASI
Tugas guru semakin mencabar semasa menjalankan tugasnya sebagai
pendidik dewasa ini.Dalam pengajaran dan pembelajaran, motivasi dianggap sebagai satu unsur yang membolehkan murid melibatkan diri secara aktif.Di samping itu ianya menjadikan proses pembelajaran berlaku dalam situasi yang bermakna,berfaedah dan menyeronokan.Guru merupakan penggerak kepada muridnya supaya berjaya dalam pembelajaran.
Guru hendaklah sentiasa memberi peneguhan serta-merta kepada muridnya apabila mereka memperlihatkan tingkahlaku positif. Peneguhan ini boleh diberi dalam pelbagai bentuk seperti pujian, senyuman atau hadiah. Secara tidak langsung dapat mempertingkatkan lagi aras motivasi serta meningkatkan prestasi murid-muridnya.
Guru perlu memastikan setiap mata pelajaran yang diajar menarik minat muridnya. Guru mesti menentukan proses pengajaran dan pembelajaran itu sentiasa aktif, bersifat menyelidik, menyeronokkan dan bermanafaat. Aktiviti pembelajaran perlu menggalakkan interaksi sosial dan interaksi dalam kumpulan. Penyampaian pengajaran yang tidak menarik boleh menyebabkan murid-murid merasa bosan. Oleh itu, guru perlu menyerapkan pelbagai unsur aktiviti seperti proses penyelidikan, keseronokan dan sebagainya.Guru boleh menyuruh murid ke perpustakaan atau makmal komputer untuk mencari maklumat tentang topik-topik yang berkaitan dengan pelajaran yang dipelajari.Guru juga boleh mengadakan lawatan sambil belajar ke tempat-tempat yang bersejarah atau tempat yang sesuai dengan pelajaran.Ini adalah berguna untuk pelajar yang mempunyai gaya pembelajaran pragmatis kerana mereka dapat melihat pertalian antara teori dan fakta yang dipelajari dengan situasi sebenar.Selain itu, guru boleh mengadakan pusat atau ruang untuk sudut mata pelajaran bagi mempamerkan segala alat bantu mengajar seperti carta, peta dan sebagainya.
Guru menggalakkan murid-murid menggunakan pelbagai bahan rujukan.Guru tidak boleh mengharapkan kepada buku teks sahaja.Guru perlu menggunakan pelbagai bahan yang mempunyai unsur-unsur kreatif seperti bahan dari internet, komik, CD-ROM , bahan-bahan daripada akhbar dan bahan-bahan bacaan lain.Murid mesti digalakkan untuk menghasilkan ciptaan berdasarkan idea-idea dan minat sendiri.


4. 0 KRITIKAN
Teori Maslow tentang keperluan telah menerima kritikan. Terdapat dua kelemahan teori motivasi Maslow. Pertamanya tentang keperluan individu. Keperluan individu tidak selalunya mengikut susunan hierarki sepertimana yang telah dinyatakan di atas tadi. Keduanya, keperluan seseorang murid berbeza kerana menjadi ketara mengikut tempoh atau masa sesuatu tugas dijalankan. Walau bagaimanapun strategi Maslow membuat kategori keperluan, menentukan hierarki yang mustahak amat bermanfaat dalam meninggikan motivasi kerja.
4.1) Teori kognitif Tentang Motivasi.
Penganut teori-teori kognitif berpendapat bahawa individu bermotivasi apabila mereka mengalami keadaan ketidakseimbangan kognitif atau satu keinginan mencari penyelesaian kepada sesuatu masalah. Guru perlu menentukan muridnya mengalami keinginan mencari maklumat atau penyelesaian. Guru juga perlu memastikan pembelajaran berlaku.
4.2) Teori Motivasi Pencapaian.
Menurut teori ini, pencapaian seseorang individu cenderung untuk berjaya atau mencapai kejayaan ke aras yang paling tinggi.Pada masa yang sama, mereka akan mengelakan kemungkinan mengalami kegagalan.Apabila murid berjaya, mereka membina matlamat yang realistik bagi diri mereka dan kejayaan tersebut telah menguatkan keperluan untuk pencapaian selanjutnya.

5.0 PENUTUP
Sesuatu matlamat pada satu peringkat berjaya dicapai akan menimbulkan perasaan untuk memenuhi kepuasan pada peringkat yang lebih tinggi. Oleh itu pendidik harus mengetahui langkah-langkah yang praktikal sejajar dengan diri seseorang pelajar demi hendak memenuhi kehendak pelajar. Dengan itu kepuasan belajar dalam keperluan motivasi boleh dicapai seterusnya menanamkan minat pelajar mengembangkan potensinya.
Jelaslah bahawa keperluan itu mempunyai matlamat yang mesti dicapai bagi memenuhkan keperluan tersebut. Matlamat ini mempunyai nilai yang tertentu kepada seseorang mahupun seorang pelajar yang memerlukannya. Teori Hiraki Maslow tegas memberi konsep bahawa perkembangan individu atau pelajar ini perlu melalui beberapa tingkat kepuasan atau dengan kata lain proses perkembangan individu itu merupakan satu usaha yang berterusan dalam persekitaran sosial sehingga mencapai kecemerlangan.
Oleh itu bagi meninggikan atau mempertingkatkan lagi proses pengajaran juga pembelajaran di dalam kelas, guru seharusnya peka dan bijak menentukan apa keperluan seseorang pelajar. Dengan menyedari keperluan seseorang pelajar guru dapat mengatur strategi serta alternatif yang lebih praktikal demi kecemerlangan yang semaksimumnya.



BIBLIOGRAFI
1. Atan Long (1976). Psikologi Pendidikan. Kuala Lumpur : Dewan Bahasa dan Pustaka.
2. Drs. Wasty Soemato (1987), Psikologi Pendidikan, Jakarta, PT Bina
Aksara.
3. Lester D. Crow, Alice Crow (1980). Psikologi Pendidikan Untuk
Perguruan. Kuala Lumpur : Dewan Bahasa dan Pustaka.

4. Lingren (1959), Psychology of Personal and Social Adjustment, Second
Edition, New York. American Book Company.
5. Mok Soon Sang (2000). Nota dan Latihan Ilmu Pendidikan : Pendidikan
di Malaysia dan Psikologi Pendidikan 1. Kuala Lumpur : Kumpulan
Budiman Sdn. Bhd.

6. Moustakas (1953), Children in Play Therapy, New York, McGraw-Hill
Book Company.

7. Rohaty Mohd. Majzud (1992), Psikologi Perkembangan,Kuala Lumpur,
8. Saedah, Zainun, Tunku Mohani (1996). Motivasi Dalam Pendidikan.
Kuala Lumpur : Utusan Publications & Distributors Sdn. Bhd..
9. Sufean Hussain (1993). Pendidikan di Malaysia : Sejarah, Sistem dan
Falsafah. Kuala Lumpur : Dewan Bahasa dan Pustaka

Read more...

Depresi Pada Anak

• Epidimiologi
= Perbandingan populasi ∞ Sindrom
= Signifikasi usia 6 – 8 tahun samoai dengan 9 – 12 tahun
= Status sosio-ekonomi biasanya rendah
• Klinis DSM IV
= axis: ada 2 bentuk perilaku yang menonjol seiring dengan pertambahan usia, yaitu
- tidak mematuhi peraturan
- Perilaku withdrawl / menarik diri dari lingkungan
Sindrom depresi pada anak biasanya hampir sama dengan depresi pada orang dewasa namun pada anak terdapat bentuk “khusus”
- Simptomnya
- Disporic mood (cemas)
- Self deprecatory (memprotes diri sendiri)
Anak biasanya menyalahkan diri sendiri dan orang lain, tapi yang paling sering adalah menyalahkan dirinya sendiri.
• 3 bentuk depresi :
1. Affective depression (6 – 8 tahun)
2. Negative self esteem depreaaion (6 – 8 tahun)
3. Guilt depression (11 < …)
Sampai ada kecenderungan suicide/bunuh diri
25 Stastles: the baby tendency to react to sudden movement, loud, and other strong stimuli with startle response is mcasured.
26 skin: reactivity is assessed by measuring electrical activity on the surface of the skin.

Kriteria Diagnostic Autism
Rincian criteria diagnostic ganguan autis menurut DSM IV
Harus ada sedikitnya 6 gejala dari (1), (2) dan (3) dengan minimal 2 gejala dari (1) dan masing-masing 1 gejala dari (2) dan (3).
1. Gangguan kualitatif dalam interaksi social yang timbal balik. Minimal harus ada 2 gejala dari beberapa gejala di bawah ini:
a) Tidak mampu menjalin interaksi social yang cukup memadai, kontak mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak gerik yang kurang tertuju.
b) Tidak bias bermain dengan teman sebaya.
c) Tidak dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.
d) Kurangnya hubungan social dan emosianal yang timbal
2. Ganguan Kualitatif dalam bidang komunikasi seperti ditunjukkan oleh minimal satu dari beberapa gejala:
a) Bicara terlambat atau bahkan sama sekali tidak berkembang yaitu tidak ada usaha untuk mengimbangi komunikasi dengan cara lain tanpa bicara.
b) Apabila berbicara bicaranya tidak digunakan untuk berkomunikasi.
c) Sering mengunakan bahasa aneh yang diulang-ulang.

Read more...

Abnormalitas dalam psikologi

Menurut buku Rujukan Penghantar Psikologi yang ditulis oleh Mahmood Nazar Mohamed dan Penghantar Psikiatri oleh Dr.Ramli Hassan ia mengatakan sebagai tidak normal dalam masyarakat.

Walaubagaimanapun lazimnya, ada empat cara keabnormalan dapat dikenal pasti (Sarason & Sarason 1980) dan kebanyakkan bersetuju engan pendekatan ini. Pertama ialah keadaan yang terkeluar daripada norma statistik . Kedua ialah keadaan atau sifat-sifat yang terkeluar daripada norma-norma sesuatu maayarakat .Ketiga ialah dengan mengenal cara mengenalpasti tingkahlaku yang disalah adaptasi.Lazimnya ,tingkahlaku yang dissalah adaptasi oleh seseoarang yang sentiasa bersedih dan bermuram tidak akan lalu makan ,tidak boleh tidur ,tidak boleh keluar ,atau bergaul dengan oarang lain.Ini memaparkan tingkahlaku abnormal .Ini semua menggangu tatacara kehidupan nya harian nya.

Cara terakhir yang sering dugunakan oleh pakar psikologi klinikal dalam menentukan tingkahlaku normal atau abnormal adalah dengan mengenalpasti kadar tekanan peribadi yang dihadapi oleh seseoarang itu.
Bagai mereka yang sentiasa sedih ,bermuram, tidak boleh begaul dengan orang lain ,yang sentiasa menghadapi tekanan dan beberapa masalah yang menggangu kehidupan harian mereka ini dikatakan sebagai cenderung kearah menghadapi masalah jiwa
INDIVIDU seperti ini jarang sekali dapat menyesuaikan dirinya dengan baik dalam pelbagai bentuk sekitaran berbeza dan lantaran itu akan memencilkan dirinya dengan masyarakat.Kebanayakkan masanya akan iperuntukkan bagi menghadapi serta melayan tekanan yangs edang dihadapi tetapi tidak mencari jalan penyelesaian nya.

Satu kajian menarik yang dilakukan oleh Lili Mastura dan Prof. Wan Rafaei (1985)
,melihat kepada persepsi pelajar -pelajar melayu terhadap laku bilazim. Antara lain ,golongan ini melihat tingkahlaku bilazim sebagai merbahaya kepada masyarakat..menjatuhkan nama baik keluarga ,menyusahkan orang lain ,tidak boleh bercakap ttg perkara-perkara yang tidak penting ,mementingkan diri sendiri dan bertingkahlaku tak menentu .Daripada pandangan ini ,boleh dikatakan yang golongan belia mempersepsikan mereka yang abnormal sbg satu kumpulan yang terkeluar drpd norma-norma seperti sifat tingkahlaku serta sikap am anggota sebuah masayarakat.
Apa itu fobia? Fobia adalah ketakutan yang tak rasional, yang tidak waras dan persisten terhadap sesuatu benda atau situasi yang memaksa seseorang itu mengelakkan diri dari apa yang ditakutinya.

Di sini disediakan senarai pelbagai jenis fobia yang diketahui...

Terdapat tiga kategori utama fobia iaitu:

Fobia yang spesifik - fobia terhadap sesuatu objek atau situasi, seperti labah-labah, ketinggian atau pun terbang.
Fobia sosial - fobia terhadap perkara yang memalukan atau dimalukan dalam suasana sosial.
Agoraphobia - gobia untuk berada jauh dari tempat yang difikirkan selamat.

Dianggarkan 18 peratus dari jumlah penduduk dewasa Amerika Syarikat menderita daripada fobia. Seseorang itu boleh mendapat fobia dari apa sahaja. Pendedahan mereka terhadap fobia mereka akan menyebabkan pernafasan yang mendadak, jantung berdegup laju, tapak tangan berpeluh, panik dan ada yang lebih teruk dari itu seperti menjadi separuh gila.

Di bawah disenaraikan jenis-jenis fobia yang diketahui dan ada diantaranya boleh dianggap pelik.

JENIS - JENIS FOBIA
A-
Ablutophobia- Takut mandi atau dibasuh.
Acarophobia- Takut kepada kegatalan atau serangga yang menyebabkan gatal.
Acerophobia- Takut kepada rasa masam.
Achluophobia- Takut kepada kegelapan.
Acousticophobia- Takut kepada kebisingan.
Acrophobia- Takut kepada ketinggian.
Aerophobia- Fear of drafts, air swallowing, or airbourne noxious substances.
Aeroacrophobia- Takut kepada tempat terbuka yang tinggi.
Aeronausiphobia- Takut kepada muntah yang disebabkan mabuk udara.
Afrophobia- Takut atau benci dengan Orang Afrika, budaya dan keturunannya.
Agateophobia- Takut kepada kegilaan.
Agliophobia- Takut kepada rasa sakit.
Agoraphobia- Takut kepada tempat terbuka,tempat yang terdapat ramai orang. Takut meninggalkan tempat selamat.
Agraphobia- Takut kepada gangguan seksual.
Agrizoophobia- Takut kepada haiwan liar.
Agyrophobia- Takut kepada jalan raya atau melintas jalan.
Aibohphobia- Takut dengan palindromes (perkataan yang diterbalikkan bunyinya sama; malam, taat, katak, tamat...)
Aichmophobia- Takut kepada jarum atau benda tajam.
Ailurophobia- Takut akan kucing.
Albuminurophobia- Takut kepada sakit buah pinggang.
Alektorophobia- Takut kepada ayam.
Algophobia- Takut kepada rasa sakit.
Alliumphobia- Takut kepada bawang putih.
Allodoxaphobia- Takut menerima pandangan atau pendapat.
Altophobia- Takut kepada ketinggian.
Amathophobia- Takut kepada debu dan habuk.
Amaxophobia- Takut berada didalam kereta.
Ambulophobia- Takut untuk berjalan atau berdiri.
Amnesiphobia- Takut kepada amnesia (hilang ingatan).
Amychophobia- Takut kepada cakaran atau dicakar.
Anablephobia- Takut untuk memandang keatas.
Ancraophobia- Takut akan angin (Anemophobia)
Androphobia- Takut kepada lelaki.
Anemophobia- Takut dengan angin.(Ancraophobia)
Anginophobia- Takut tercekik.
Anglophobia- Takut kepada England, orang Inggeris, budaya mereka,...
Angrophobia - Takut kepada kemarahan dan menjadi marah.
Ankylophobia- Takut kepada ketidak-boleh-gerakan sendi.
Anthrophobia or Anthophobia- Takut kepada bunga.
Anthropophobia- Takut kepada orang ramai dan masyarakat.
Albuminurophobia- Takut kepada sakit buah pinggang.
Alektorophobia- Takut kepada ayam.
Algophobia- Takut kepada rasa sakit.
Alliumphobia- Takut kepada bawang putih.
Allodoxaphobia- Takut menerima pandangan atau pendapat.
Altophobia- Takut kepada ketinggian.
Amathophobia- Takut kepada debu dan habuk.
Amaxophobia- Takut berada didalam kereta.
Ambulophobia- Takut untuk berjalan atau berdiri.
Amnesiphobia- Takut kepada amnesia (hilang ingatan).
Amychophobia- Takut kepada cakaran atau dicakar.
Anablephobia- Takut untuk memandang keatas.
Ancraophobia- Takut akan angin (Anemophobia)
Androphobia- Takut kepada lelaki.
Anemophobia- Takut dengan angin.(Ancraophobia)
Anginophobia- Takut tercekik.
Anglophobia- Takut kepada England, orang Inggeris, budaya mereka,...
Angrophobia - Takut kepada kemarahan dan menjadi marah.
Ankylophobia- Takut kepada ketidak-boleh-gerakan sendi.
Anthrophobia or Anthophobia- Takut kepada bunga.
Anthropophobia- Takut kepada orang ramai dan masyarakat.
Antidaeophobia- Takut setiap masa, dimana jua anda berada, seekor itik sedang memerhatikan anda.
Antlophobia- Takut kepada banjir.
Anuptaphobia- Takut menjadi bujang.
Apeirophobia- Takut dengan keabadian.
Aphenphosmphobia- Takut kepada sentuhan. (Haphephobia)
Apiphobia- Takut kepada lebah.
Apotemnophobia- Takut kepada orang yang kudung.
Aquaphobia - Takut akan air. Secara spesifiknya takutkan lemas.
Arachibutyrophobia- Takut kepada keadaan dimana peanut butter melekat di lelangit mulut.
Arcanophobia - Takut dengan magik
Arachnephobia atau Arachnophobia- Takut kepada labah-labah.
Arithmophobia- Takut akan nombor.
Arrhenphobia- Takut kepada lelaki.
Arsonphobia- Takut akan api.
Asthenophobia- Takut akan pengsan atau berasa lemah.
Astraphobia or Astrapophobia- Takut akan guruh dan petir.(Ceraunophobia, Keraunophobia)
Astrophobia- Takut akan bintang-bintang dan ruang angkasa.
Asymmetriphobia- Takut kepada benda simetri.
Ataxiophobia- Takut kepada ataxia. (Otot tidak seimbang)
Ataxophobia- Takut akan perkara yang tak teratur atau tidak kemas.
Atelophobia- Takut dengan perasaan tidak sempurna.
Atephobia- Takut kepada tinggalan lama (ruin).
Athazagoraphobia- Takut dilupakan, tidak dipedulikan.
Atomosophobia- Takut kepada letupan atom.
Atychiphobia- Takut kepada kegagalan.
Aulophobia- Takut akan seruling/serunai.
Aurophobia- Takut akan emas.
Auroraphobia- Takut akan fenomena 'cahaya utara' (Northern lights).
Australophobia, Novahollandiaphobia- Takut dengan Australia, rakyat dan budayanya.
Autodysomophobia- Takut kepada orang yang berbau tajam.
Automatonophobia- Takut kepada patung ventriloquist's, robot, patung lilin, patung.
Automysophobia- Takut menjadi kotor.
Autophobia- Takut akan keseorangan atau dibiar berseorangan.
Aviophobia or Aviatophobia- Takut untuk terbang.
B-

Bacillophobia- Takut kepada microbes dan kuman.
Bacteriophobia- Takut kepada bakteria.
Ballistophobia- Takut kepada peluru berpandu dan peluru.
Barleyphobia - Takut dengan barli.
Bananaphobia - Takut dengan buah pisang.
Bolshephobia- Takut kepada Bolsheviks.
Barophobia- Takut kepada graviti.
Basophobia or Basiphobia- Ketidakmampuan berdiri. Takut untuk berjalan atau jatuh.
Bathmophobia- Takut kepada tangga atau tebing curam.
Bathophobia- Takut kepada kedalaman.
Batophobia- Takut kepada ketinggian atau berada hampir dengan bangunan tinggi.
Batrachophobia- Takut kepada haiwan amfibia, seperti katak, sesumpah, salamanders,...
Belonephobia- Takut kepada pin dan jarum. (Aichmophobia)
Bibliophobia- Takut akan buku.
Blennophobia- Takut dengan lendiran.
Bogyphobia- Takut kepada bogeys atau bogeyman (Raksasa yang tinggal bawah katil anda).
Botanophobia- Takut kepada tumbuhan.
Briophobia- Takut dengan tapak kaki manusia.
Bromidrosiphobia or Bromidrophobia- Takut akan bau badan
Brontophobia- Takut kepada petir dan guruh.
Bufonophobia- Takut kepada katak dan kodok.
Button phobia - Takut dengan butang.

C-

Cacophobia- Takut kepada keburukan.
Cainophobia or Cainotophobia- Takut kepada sesuatu yang baru.
Caligynephobia- Takut kepada perempuan cantik.
Cancerophobia or Carcinophobia- Takut akan penyakit barah.
Carbophobia - Takut dengan karbohidrat (contoh: mengamalkan diet Atkin's).
Cardiophobia- Takut dengan penyakit jantung.
Carnophobia- Takut dengan daging.
Catagelophobia- Takut diperbodohkan orang lain.
Catapedaphobia- Takut untuk melompat dari tempat tinggi dan rendah.
Cathisophobia- Takut untuk duduk.
Catoptrophobia- Takut dengan cermin.
Cenophobia or Centophobia- Takut bilik kosong.
Ceraunophobia or Keraunophobia- Takut kepada petir dan guruh.(Astraphobia, Astrapophobia)
Chaetophobia- Takut dengan rambut.
Cheimaphobia or Cheimatophobia- Takut dengan kesejukkan.(Frigophobia, Psychophobia)
Chelonaphobia - Takut dengan penyu.
Chemophobia- Takut dengan bahan kimia atau bekerja dengannya.
Cherophobia- Takut dengan suasana meriah.
Chinophobia - Takut dengan orang Cina dan budaya mereka.
Chionophobia- Takut dengan salji.
Chiraptophobia- Takut untuk disentuh.
Chirophobia- Takut dengan tangan.
Chlorophobia - Takut dengan warna hijau.
Cholerophobia- Takut akan kemarahan atau takut kepada penyakit taun.
Chorophobia- Takut untuk menari.
Christophobia - Takut dengan agama Kristian.
Chrometophobia or Chrematophobia- Takut dengan duit.
Chromophobia or Chromatophobia- Takut dengan warna.
Chronophobia- Takut dengan masa.
Chronomentrophobia- Takut dengan jam.
Chrysophobia - Takut dengan warna jingga.
Cibophobia- Takut dengan makanan.(Sitophobia, Sitiophobia)
Claustrophobia- Takut dengan ruang tertutup.
Cleithrophobia or Cleisiophobia- Takut terkunci didalam ruang yang tertutup.
Cleptophobia- Takut dengan kecurian.
Climacophobia- Takut dengan tangga, mendaki tangga, atau jatuh tangga.
Clinophobia- Takut untuk tidur.
Clithrophobia or Cleithrophobia- Takut terperangkap.
Cnidophobia- Takut dengan sengatan.
Cometophobia- Takut dengan komet.
Coimetrophobia- Takut dengan kubur.
Coitophobia- Takut dengan coitus.
Contreltophobia- Takut dengan gangguan seksual
Coprastasophobia- Takut untuk membuang air besar atau secara saintifiknya berak.
Coprophobia- Takut dengan tahi.
Coulrophobia- Takut dengan badut.
Counterphobia- Rujukan kepada seorang phobia dengan situasi phobianya.
Cremnophobia- Takut akan jurang di gunung ganang.
Cryophobia- Takut dengan kesejukkan melampau, ais dan fros.
Crystallophobia- Takut dengan kristal atau kaca.
Cyberphobia- Takut dengan komputer atau menggunakan komputer.
Cyclophobia- Takut dengan basikal.
Cymophobia or Kymophobia- Takut dengan ombak atau pergerakan berombak.
Cynophobia- Takut dengan anjing atau penyakit anjing gila.
Cypridophobia or Cypriphobia or Cyprianophobia or Cyprinophobia - Takut dengan pelacur atau penyakit kelamin
D-

Decidophobia- Takut untuk membuat keputusan.
Defecaloesiophobia- Takut dengan pergerakan dalam usus yang menyakitkan.
Deipnophobia- Takut akan perbualan semasa makan.
Dementophobia- Takut dengan kegilaan.
Demonophobia or Daemonophobia- Takut dengan syaitan.
Demophobia- Takut dengan orang ramai. (Agoraphobia)
Dendrophobia- Takut dengan pokok.
Dentophobia- Takut dengan doktor gigi.
Dermatophobia- Takut dengan penyakit kulit.
Dermatosiophobia or Dermatophobia or Dermatopathophobia- Takut dengan penyakit kulit.
Dextrophobia- Takut dengan objek yang berada di sebelah kanan tubuh.
Diabetophobia- Takut dengan penyakit kencing manis.
Didaskaleinophobia- Takut untuk pergi ke sekolah.
Dikephobia- Takut dengan keadilan (justice).
Dinophobia- Takut dengan rasa pening.
Diplophobia- Takut dengan penglihatan dua imej (double vision).
Dipsophobia- Takut untuk minum.
Dishabiliophobia- Takut untuk membuka baju di hadapan orang.
Domatophobia- Takut dengan rumah atau berada dalam rumah.(Eicophobia, Oikophobia)
Doraphobia- Takut dengan bulu atau kulit haiwan.
Doxophobia- Takut untuk mengeluarkan pendapat atau menerima pujian.
Dromophobia- Takut untuk melintas jalan.
Dutchphobia- Takut dengan orang Belanda.
Dysmorphophobia- Takut dengan benda yang tidak terbentuk dengan sempurna (cacat).
Dystychiphobia- Takut dengan kemalangan.


E-

Ecclesiophobia- Takut dengan gereja.
Ecophobia- Takut dengan tempat tinggal.
Eicophobia- Takut dengan keadaan di sekeliling tempat tinggal.(Domatophobia, Oikophobia)
Eisoptrophobia- Takut dengan cermin atau melihat diri dalam cermin.
Electrophobia- Takut dengan elektrik.
Eleutherophobia- Takut dengan kebebasan.
Elurophobia- Takut dengan kucing. (Ailurophobia)
Emetophobia- Takut dengan muntah.
Enetophobia- Takut dengan pin.
Enochlophobia- Takut dengan tempat ramai orang.
Enosiophobia or Enissophobia- Takut akan tertuduh melakukan dosa besar atau dikritik.
Entomophobia- Takut dengan serangga.
Eosophobia- Takut dengan waktu subuh atau cahaya siang.
Ephebiphobia- Takut dengan remaja.
Epistaxiophobia- Takut dengan keadaan hidung berdarah.
Epistemophobia- Takut dengan ilmu pengetahuan.
Epistolophobia - Takut untuk menulis surat.
Equinophobia- Takut dengan kuda.
Eremophobia- Takut keseorangan atau ditinggalkan keseorangan.
Ereuthrophobia- Takut dengan perasaan malu.
Ergasiophobia- 1) Takut untuk bekerja atau berfungsi. 2) Takut seorang doktor bedah terhadap pembedahan.
Ergophobia- Takut dengan kerja.
Erotophobia- Takut dengan cinta seksual atau persoalan seksual.
Euphobia- Takut untuk mendengar berita baik.
Eurotophobia- Takut dengan organ seksual wanita
Europhobia - Takut kepada Eropah, orang eropah atau Kesatuan Eropah (EU).
Erythrophobia or Erytophobia or Ereuthophobia- Takut kepada 1) lampu merah. 2) Perasaan merah padam. 3) Warna merah.
F-

Fearaphobia - Takut dengan perkataan 'takut' (fear).
Febriphobia or Fibriphobia or Fibriophobia- Takut akan demam.
Fecophobia, Coprophobia, Scatophobia - Takut dengan tahi.
Felinophobia- Takut dengan kucing. (Ailurophobia, Elurophobia, Galeophobia, Gatophobia)
Francophobia- Takut dengan negara Perancis, rakyat dan budayanya. (Gallophobia, Galiophobia)
Frigophobia- Takut akan kesejukkan dan benda sejuk.(Cheimaphobia, Cheimatophobia, Psychrophobia)
Ferrumphobia - Takut dengan sebarang objek besi.

G

Gatophobia- Takut akan kucing.
Galeophobia - Takut dengan jerung.
Gallophobia or Galiophobia- Takut dengan negara Perancis, rakyat dan budayanya. (Francophobia)
Gamophobia- Takut dengan perkahwinan.
Geliophobia- Takut dengan ketawa.
Geniophobia- Takut dengan dagu. (ada apa dengan dagu)
Genophobia- Takut akan seks.
Genuphobia- Takut dengan lutut.
Gephyrophobia or Gephydrophobia or Gephysrophobia- Takut untuk meyeberangi jambatan.
Germanophobia- Takut dengan negara Jerman, rakyat dan budayanya.
Gerascophobia- Takut untuk menjadi tua.
Gerontophobia- Takut dengan orang tua dan menjadi tua.
Geumaphobia or Geumophobia- Takut dengan rasa (lidah).
Glossophobia- Takut untuk bercakap di tempat awam atau memulakan percakapan.
Gnosiophobia- Takut dengan ilmu pengetahuan.
Graphophobia- Takut untuk menulis atau dengan tulisan tangan.
Gymnophobia- Takut untuk berbogel.
Gynephobia or Gynophobia- Takut akan wanita.
H-

Hadephobia- Takut akan neraka.
Hagiophobia- Takut dengan wali (saints) atau benda-benda suci.
Hamartophobia- Takut untuk membuat dosa.
Haphephobia or Haptephobia- Takut untuk disentuh.
Harpaxophobia- Takut dirompak.
Hedonophobia- Takut dengan kepuasan perasaan.
Heliophobia- Takut dengan matahari.
Hellenologophobia- Takut dengan perkataan Greek atau terma saintifik yang kompleks. Helminthophobia- Takut menghadapi jangkitan cacing.
Hemophobia or Hemaphobia or Hematophobia- Takut dengan darah.
Heresyphobia or Hereiophobia- Takut dengan perubahan radikal.
Herpetophobia- Takut dengan reptilia atau haiwan yang merayap dan menyusur.
Heterophobia- Takut dengan jantina lain. (Sexophobia)
Hexakosioihexekontahexaphobia - takut dengan nombor 666.
Hierophobia- Takut akan paderi atau benda keramat.
Hippophobia- Takut dengan kuda.
Hippopotomonstrosesquippedaliophobia- Takut dengan perkataan yang panjang. (Nama pun dah gerun)
Hobophobia- Takut dengan peminta sedekah atau fakir.
Hodophobia- Takut dengan perjalanan darat.
Hormephobia- Takut terkejut.
Homichlophobia- Takut dengan kabus.
Homilophobia- Takut denga khutbah.
Hominophobia- Takut dengan lelaki.
Homophobia- Takut dengan perasaan yang sama, homoseksual atau menjadi homoseksual.
Hoplophobia- Takut dengan senjata api.
Hypnophobia- Takut untuk tidur atau dihipnotize.
Hypsiphobia- Takut akan ketinggian.
Hydrargyophobia- Takut dengan ubatan merkurial?.
Hydrophobia- Takut dengan air atau cecair yang boleh membawa penyakit berjangkit.
Hydrophobophobia- Takut dengan cecair yang boleh membawa penyakit berjangkit.
Hyelophobia or Hyalophobia- Takut dengan kaca.
Hygrophobia- Takut dengan cecair, kebasahan atau kelembapan.
Hylephobia- Takut menjadi materialistik atau takut akan sawan.
Hylophobia- Takut dengan hutan.
Hypengyophobia or Hypegiaphobia- Takut untuk bertanggungjawab.

I-

Iatrophobia- Takut untuk berjumpa dengan doktor atau dengan doktor sendiri.
Ichthyophobia- Takut dengan ikan.
Iconophobia - Takut akan imej dan ikon.
Ideophobia- Takut dengan idea.
Illyngophobia- Takut berasa pening apabila melihat ke bawah dari tempat tinggi (vertigo).
Iophobia- Takut akan racun.
Islamophobia - Takut dengan agama Islam.
Islandophobia - Takut dengan Iceland, rakyat dan budayanya.
Insectophobia - Takut dengan serangga.
Isolophobia- Takut akan keseorangan.
Isopterophobia- Takut dengan anai-anai, atau serangga yang makan kayu.
Ithyphallophobia- Takut dilihat, difikirkan oleh orang lain atau takut kemaluan menjadi tegang (hahaha).


J-

Japanophobia- Takut dengan Orang Jepun.
Judeophobia- Takut dengan Orang Yahudi.


K-

Katikomindicaphobia - Takut dengan RNI (Resident Non-Indian).
Kainolophobia or Kainophobia- Takut dengan sesuatu yang baru.
Kakorrhaphiophobia- Takut akan gagal atau tertewas.
Katagelophobia- Takut diperbodohkan.
Kathisophobia- Takut untuk duduk.
Kenophobia- Takut dengan ruang kosong.
Keraunophobia or Ceraunophobia- Takut dengan gurh dan petir.(Astraphobia, Astrapophobia)
Kinetophobia or Kinesophobia- Takut dengan sebarang pergerakkan.
Klismaphobia - Takutkan 'Enemas'.
Kneemaphobia - Takut akan lutut membengkok kebelakang.
Kleptophobia- Takut dengan kecurian.
Koinoniphobia- Takut dengan bilik.
Kolpophobia- Takut dengan organ seks, terutamanya wanita
Kopophobia- Takut dengan keletihan.
Koniophobia- Takut dengan debu. (Amathophobia)
Kosmikophobia- Takut dengan fenomena kosmik.
Kymophobia- Takut dengan ombak/gelombang. (Cymophobia)
Kynophobia- Takut dengan penyakit gila.
Kyphophobia- Takut dengan kebongkokan.
L-

Lachanophobia- Takut dengan sayuran.
Laliophobia or Lalophobia- Takut untuk bercakap.
Leporiphobia - Takut dengan arnab.
Leprophobia or Lepraphobia- Takut dengan penyakit yang merosakkan tubuh (seperti kusta).
Leukophobia- Takut dengan warna putih.
Levophobia- Takut dengan benda yang berada di sebelah kiri tubuh.
Ligyrophobia- Takut dengan bunyi yang sangat kuat.
Lilapsophobia- Takut dengan puting beliung dan taufan.
Limnophobia- Takut dengan tasik.
Linonophobia- Takut dengan tali.
Liticaphobia- Takut dengan 'lawsuits' (Perkara bukan jenayah yang dibawa ke mahkamah seperti saman-menyaman).
Lockiophobia- Takut dengan kelahiran.
Logizomechanophobia- Takut dengan komputer.
Logophobia- Takut dengan perkataan.
Luiphobia- Takut dengan penyakit siflis
Lutraphobia- Takut dengan memerang.
Lygophobia- Takut dengan kegelapan.
Lyssophobia- Takut dengan penyakit gila atau takut menjadi gila.


M-

Macroxenoglossophobia - Takut dengan perkataan yang panjang dan pelik.
Macrophobia- Takut untuk menunggu lama.
Maimouphobia, Pithikosophobia - Takut akan monyet.
Mageirocophobia- Takut untuk memasak.
Maieusiophobia- Takut dengan kelahiran.
Malaxophobia- Takut dengan babak cinta. (Sarmassophobia)
Maniaphobia- Takut dengan kegilaan.
Mastigophobia- Takut dengan balasan atau denda.
Mechanophobia- Takut dengan mesin.
Medomalacuphobia- Takut kehilangan ketegangan (ereksi).
Medorthophobia- Takut dengan kemaluan yang tegang.
Megalophobia- Takut dengan benda-benda besar.
Melissophobia- Takut dengan lebah.
Melanophobia- Takut dengan warna hitam.
Melophobia- Takut atau benci dengan muzik.
Meningitophobia- Takut dengan penyakit otak.
Meningitophobia - Takut dengan penyakit yang disebabkan oleh onani.
Menophobia- Takut akan kedatangan haid.
Merinthophobia- Takut diikat.
Metallophobia- Takut dengan besi.
Metathesiophobia- Takut dengan perubahan
Meteorophobia- Takut dengan meteor.
Methyphobia- Takut dengan alkohol.
Metrophobia- Takut atau benci dengan puisi.
Microbiophobia- Takut dengan microbes. (Bacillophobia)
Microphobia- Takut dengan benda-benda kecil.
Misophobia or Mysophobia- Takut terkena kotoran dan jangkitan kuman.
Mnemophobia- Takut dengan memori.
Molysmophobia or Molysomophobia- Takut dengan kotoran dan jangkitan.
Monophobia- Takut dibiarkan seorang atau takut keseorangan.
Monopathophobia- Takut dengan sesuatu penyakit.
Motorphobia- Takut dengan kenderaan bermotor.
Mottephobia- Takut dengan kupu-kupu.
Musophobia or Muriphobia- Takut akan tikus.
Mycophobia- Takut dengan cendawan.
Mycrophobia- Takut dengan benda-benda kecil.
Myctophobia- Takut akan kegelapan.
Myrmecophobia- Takut dengan semut.
Mythophobia- Takut dengan khabar angin atau cerita palsu.
Myxophobia- Takut dengan lendiran. (Blennophobia)


N-

Nebulaphobia- Takut dengan kabus. (Homichlophobia)
Necrophobia- Takut akan kematian atau takut dengan benda mati.
Nelophobia- Takut dengan kaca.
Neopharmaphobia- Takut dengan dadah yang baru.
Neophobia- Takut dengan sebarang benda baru.
Nephophobia- Takut dengan awan.
Nihilophobia - Takut dengan sesuatu yang tiada.
Noctiphobia- Takut dengan malam.
Nomatophobia- Takut dengan nama-nama.
Nosocomephobia- Takut dengan hospital.
Nosophobia or Nosemaphobia- Takut untuk jatuh sakit.
Nostophobia- Takut untuk pulang ke rumah.
Novercaphobia- Takut dengan ibu tiri.
Nucleomituphobia- Takut dengan senjata nuklear.
Nudophobia- Takut dengan perkara bogel.
Numerophobia- Takut dengan nombor.
Nyctohylophobia- Takut akan malam
Nyctophobia- Takut dengan kegelapan atau takutkan malam.


O-

Obesophobia- Takut berat badan meningkat.(Pocrescophobia) Ochlophobia- Takut dengan keadaan ramai orang atau rusuhan.
Ochophobia- Takut dengan sebarang kenderaan.
Octophobia - Takut dengan nombor lapan (8).
Odontophobia- Takut dengan gigi atau takut dengan pembedahan pergigian.
Odynophobia or Odynephobia- Takut dengan kesakitan. (Algophobia)
Oenophobia- Takut dengan wain.
Oikophobia- Takut dengan keadaan sekeliling rumah atau dengan rumah.(Domatophobia, Eicophobia)
Olfactophobia- Takut dengan bau-bauan.
Ombrophobia- Takut dengan hujan atau takut ditimpa hujan.
Ommetaphobia or Ommatophobia- Takut dengan mata.
Oneirophobia- Takut dengan mimpi.
Oneirogmophobia- Takut dengan mimpi emisi.
Onomatophobia- Takut untuk mendengar sesuatu perkataan atau nama.
Ophidiophobia- Takut dengan ular. (Snakephobia)
Ophthalmophobia- Takut ditenung oleh orang lain.
Opiophobia- Fear medical doctors experience of prescribing needed pain medications for patients.
Optophobia- Takut untuk membuka mata.
Ornithophobia- Takut dengan burung.
Orthophobia- Takut dengan hakmilik.
Osmophobia or Osphresiophobia- Takut dengan bau-bauan.
Ostraconophobia- Takut dengan perangai pentingkan diri.
Ouranophobia or Uranophobia- Takut dengan syurga
P-

Pagophobia- Takut ais dan fros.
Panthophobia- Takut menderita penyakit.
Panophobia or Pantophobia- Takut segala-galanya.
Papaphobia- Takut akan Pope.
Papyrophobia- Takut dengan kertas.
Paralipophobia- Takut tidak bertanggungjawab atau tidak melakukan tugas.
Paraphobia- Takut akan sexual perversion.
Parasitophobia- Takut dengan parasit.
Paraskavedekatriaphobia- Takut dengan Friday the 13th.
Parthenophobia- Takut dengan anak dara.
Pathophobia- Takut dengan penyakit.
Patroiophobia- Takut akan perkara turun temurun.
Parturiphobia- Takutkan kelahiran.
Peccatophobia- Takut melakukan dosa.
Pediculophobia- Takut dengan serangga kecil yang hidup di badan seperti kutu.
Pediophobia- Takut dengan anak patung.
Pedophobia- Takut dengan budak.
Peladophobia- Takut dengan orang botak.
Pellagrophobia- Takutkan pellagra.
Peniaphobia- Takutkan kemiskinan.
Pentheraphobia- Takutkan ibu mertua. (Novercaphobia)
Phagophobia- Takut menelan, makan atau dimakan.
Phalacrophobia- Takut menjadi botak.
Phallophobia- Takut dengan kemaluan terutama menegang.
Pharmacophobia- Takut mengambil ubat.
Phasmophobia- Takutkan hantu.
Phengophobia- Takut dengan cahaya siang.
Philemaphobia or Philematophobia- Takut dengan ciuman.
Philophobia- Takut jatuh cinta atau dicintai.
Philosophobia- Takut dengan perkara philosophy.
Phobophobia- Takut dengan fobia.
Photoaugliaphobia- Takut dengan cahaya.
Photophobia- Takut dengan cahaya.
Phonophobia- Takut dengan suara atau telefon.
Phronemophobia- Takut untuk berfikir.
Phthiriophobia- Takut dengan serangga kecil yang hidup di badan seperti kutu.. (Pediculophobia)
Phthisiophobia- Takut dengan penyakit usus.
Placophobia- Takut dengan batu nisan.
Plutophobia- Takut dengan kekayaan.
Pluviophobia- Takutkan hujan.
Pneumatiphobia- Takut dengan roh.
Pnigophobia or Pnigerophobia- Takut tercekik.
Pocrescophobia-Takut menjadi gemuk. (Obesophobia)
Pogonophobia- Takut dengan janggut.
Poliosophobia- Takut menghidap polio.
Politicophobia- Takut dengan ahli politik.
Polyphobia- Takut dengan banyak perkara.
Poinephobia- Takut dengan denda.
Ponophobia- Takut kerja berlebihan atau sakit.
Porphyrophobia- Takut warna ungu.
Potamophobia- Takut dengan sungai atau air mengalir.
Potophobia- Takutkan dengan alkohol.
Pharmacophobia- Takut dengan dadah.
Proctophobia- Takut dengan rektum.
Prosophobia- Takutkan perjalanan (progress).
Psychophobia- Takutkan fikiran.
Psychrophobia- Takutkan kesejukan.
Pteromerhanophobia- Takut untuk terbang.
Pteronophobia- Takut digelikan dengan bulu ayam.
Pupaphobia - Takut dengan boneka.
Pyrexiophobia- Takut demam.
Pyrophobia- Takutkan api.


R-

Radiophobia- Takut dengan radiasi atau sinar-x.
Ranidaphobia- Takut dengan katak.
Rectophobia- Takut dengan rektum atau penyakit berkaitan rektum seperti buasir.
Rhabdophobia- Takut didera dengan batang kayu/besi.
Rhypophobia- Takut akan defecation.
Rhytiphobia- Takut mendapat wrinkles.
Rupophobia- Takut dengan kotoran.
Russophobia- Takut dengan orang Rusia
S-

Samhainophobia- Takut dengan sambutan Halloween.
Sarmassophobia- Takut dengan permainan cinta. (Malaxophobia)
Satanophobia- Takut dengan syaitan.
Scabiophobia- Fear of scabies.
Scatophobia- Fear of fecal matter.
Scelerophibia- Takut dengan orang jahat atau perompak.
Sciophobia Sciaphobia- Takut dengan bayang-bayang.
Scoleciphobia- Takut dengan cacing.
Scolionophobia- Takut dengan sekolah.
Scopophobia or Scoptophobia- Takut dilihat atau direnung orang lain.
Scotomaphobia- Takut dengan kebutaan..
Scotophobia- Takut dengan kegelapan. (Achluophobia)
Scriptophobia- Takut untuk menulis di tempat awam.
Selachophobia- Takut dengan ikan jerung.
Selaphobia- Takut dengan sinaran lembut.
Selenophobia- Takut dengan bulan.
Seplophobia- Takut dengan benda-benda yang mereput.
Sesquipedalophobia- Takut dengan perkataan yang panjang.
Sexophobia- Takut dengan jantina yang berlawanan. (Heterophobia)
Siderodromophobia- Takut dengan keretapi, jalan keretapi atau menggunakan keretapi.
Siderophobia- Takut dengan bintang.
Sinistrophobia- Takut dengan benda-benda di sebelah kiri atau kidal.
Sinophobia- Takut dengan kaum Cina dan budaya mereka.
Sitophobia or Sitiophobia- Takut dengan makanan atau makan. (Cibophobia)
Snakephobia- Takut dengan ular. (Ophidiophobia)
Soceraphobia- Takut dengan ibubapa mertua.
Social Phobia- Takut dinilai secara negatif dalam situasi sosial.
Sociophobia- Takut dengan masyarakat dan orang ramai.
Somniphobia- Takut untuk tidur.
Sophophobia- Takut untuk belajar.
Soteriophobia - Takut untuk bergantung atau menjadi tanggungan orang lain.
Spacephobia- Takut dengan angkasa lepas.
Spectrophobia- Takut dengan hantu.
Spermatophobia or Spermophobia- Takut dengan kuman Spheksophobia- Takut dengan penyengat (wasps).
Stasibasiphobia or Stasiphobia- Takut untuk berdiri dan berjalan. (Ambulophobia)
Staurophobia- Takut dengan salib atau benda bersilang.
Stenophobia- Takut dengan benda atau tempat yang sempit.
Stygiophobia or Stigiophobia- Takut akan neraka.
Suriphobia- Takut dengan tikus.
Symbolophobia- Takut dengan perkara-perkara berkaitan simbol.
Symmetrophobia- Takut dengan sesuatu yang simetri.
Syngenesophobia- Takut dengan ahli keluarga.
Syphilophobia- Takut dengan penyakit siflis. T-

Tachophobia- Takut dengan kelajuan.
Taeniophobia or Teniophobia- Takut dengan cacing pita (yang hidup dalam perut).
Taphephobia Taphophobia- Takut ditanam hidup-hidup dan tanah perkuburan.
Tapinophobia- Fear of being contagious.
Taurophobia- Takut dengan lembu.
Technophobia- Takut dengan teknologi.
Teleophobia- 1) Takut dengan perancangan tetap. 2) upacara keagamaan.
Telephonophobia- Takut dengan telefon.
Teratophobia- Takut mendapat anak tak sempurna atau raksasa atau orang cacat.
Testophobia- Takut untuk mengambil ujian.
Tetanophobia- Takut menghidapi kancing gigi (tetanus).
Teutophobia- Takut dengan Jerman atau berkaitan Jerman.
Textophobia- Takut dengan sesuatu jenis fabrik.
Thaasophobia- Takut untuk duduk.
Thalassophobia- Takut dengan laut.
Thanatophobia or Thantophobia- Takut untuk mati atau takutkan kematian.
Theatrophobia- Takut dengan teater.
Theologicophobia- Takut dengan ilmu ketuhanan (theologi).
Theophobia- Takut dengan Tuhan atau agama.
Thermophobia- Takut dengan haba.
Tocophobia- Takut mengandung atau melahirkan anak.
Tomophobia- Takut dengan pembedahan surgeri.
Tonitrophobia- Takut dengan guruh.
Topophobia- Takut terhadap sesuatu tempat atau situasi, 'stage fright'.
Toxiphobia or Toxophobia or Toxicophobia- Takut dengan racun atau diracun.
Traumatophobia- Takut dengan sebarang kecederaan.
Tremophobia- Takut menggeletar.
Trichinophobia- Takut dengan trichinosis.
Trichopathophobia or Trichophobia- Takut dengan rambut atau bulu. (Chaetophobia, Hypertrichophobia)
Triskaidekaphobia- Takut dengan nombor 13.
Tropophobia- Takut untuk bergerak atau perubahan.
Trypanophobia- Takut dengan suntikan.
Tuberculophobia- Takut dengan penyakit batuk kering.
Tyrannophobia- Takut dengan pemerintah yang zalim.

U-

Uranophobia or Ouranophobia- Takut dengan syurga.
Urophobia- Takut dengan air kencing atau takut hendak kencing.


V-

Vaccinophobia- Takut dengan suntikan vaksin.
Venustraphobia- Takut dengan perempuan cantik.
Verbophobia- Takut dengan perkataan.
Verminophobia- Takut dengan kuman.
Vestiphobia- Takut dengan pakaian Virginitiphobia- Takut dirogol.
Vitricophobia- Takut dengan bapa tiri.
Vuteuthindion - Takut untuk berpicnic.


W-

Walloonphobia- Takut dengan bangsa Walloons dan bahasanya.
Wiccaphobia: Takut dengan nenek kebayan dan seninya (witchcraft).


X-

Xanthophobia- Takut dengan warna kuning atau perkataan kuning itu sendiri.
Xenoglossophobia- Takut dengan bahasa asing.
Xenophobia- Takut dengan orang yang tak dikenali atau orang luar.
Xerophobia- Takut dengan kekeringan.
Xylophobia- 1) Takut dengan benda kayu-kayuan. 2) Hutan.
Xyrophobia- Takut dengan pisau cukur.


Y-

Ymophobia - Takut dengan perkara yang bertentangan atau kontra.

Z-

Zelophobia- Takut dengan perasaan cemburu.
Zeusophobia- Takut dengan Tuhan atau dewa.
Zemmiphobia- Takut dengan tikus tanah.
Zoophobia- Takut dengan binatang.
Aspek Penjagaan
Terdapat berbagai cara untuk menjaga orang-orang tua atau mereka yang terlantar di atas katil :
- penjagaan fizikal
- kerja-kerja rumah
- sokongan kewangan
- sokongan emosi
Terdapat berbagai cara untuk menjaga orang-orang tua atau mereka yang terlantar di atas katil
Penjagaan fizikal yang sebenar
Kurang kerja langsung seperti membersihkan rumah dan membuat kerja-kerja rumah
Memberi sokongan kewangan, melawat dengan tetap dan membuat panggilan telefon
Jika semua ini dilakukan oleh seorang penjaga untuk jangka masa yang berpanjangan, akan terdapat ketegangan fizikal dan emosi yang besar. Berkongsi tugas di kalangan anggota keluarga bukan mudah untuk diatur lebih-lebih lagi jika sudah wujud masalah hubungan sebelum ini.
JPenjagaan disukarkan lagi apabila orang tua tersebut merasa muram, lesu, kecewa dan marah. Adalah penting bagi keluarganya untuk memahami penyakit, dan kesannya ke atas orang tua tersebut, keluarga dan penjaganya
Sementara orang tua tersebut berada di hospital, keluarganya harus sering berhubungan dengan kakitangan hospital untuk memahami penyakitnya dan bagaimana ia menjejas orang tua tersebut. Mereka digalakkan untuk menyertai program pemulihannya.
1. Adalah menjadi suatu pengalaman yang dasyat apabila penyakit tersebut datang dengan tiba-tiba; lebih-lebih lagi apabila ia menjejas pergerakannya dan keupayaan untuk menjaga kebersihan dirinya
2. Orang tersebut selalunya akan merasa terkejut apabila mendapati dirinya perlu disuap dan memerlukan orang lain untuk menjaga kebersihan dirinya dan keperluannya untuk ke tandas.
3. Ia mungkin akan menjadi bingung, malah marah dan selalunya menjadi muram apabila pemulihan agak perlahan atau tidak kelihatan.
4. Akan terdapat kebimbangan tentang pemulihan sepenuhnya dan beliau tidak dapat memberikan tindak balas yang gairah terhadap pemulihan
5. Banyak sokongan diperlukan untuk beliau menerima hakikat penyakitnya dan pengurangan keupayaan fungsinya.
Kadang-kala, orang tersebut tidak dapat menghargai matlamat pemulihan. Biasanya beliau agak bimbang untuk mula berjalan semula. Oleh itu adalah berguna bagi sanak saudaranya untuk memahami dan membantu untuk memberikan galakan kepadanya.
- Keluarga biasanya semakin berjaga-jaga terhadap orang tua tersebut malah kadang-kala menghadkan kebebasan orang tua tersebut
- Persoalannya ialah sejauh mana harus dibiarkan orang tua tersebut mempunyai semangat sendiri berbanding dengan sejauh mana penjagaan dan kawalan harus diberikan oleh penjaga terhadapnya
- Memberi arahan kepada orang tua tersebut supaya jangan berjalan-jalan di dalam rumah apabila tiada sesiapa di rumah kerana takutkan terjatuh dan akan membawa kesan yang melemahkannya.
- Di dalam kebanyakan keadaan, orang tua menjadi takut dan enggan berjalan apabila beliau sebenarnya boleh melakukannya. Tetapi risiko terjatuh memang wujud jika beliau dibenarkan untuk berjalan sendiri.
Keputusan yang dibuat mungkin agak berat dan biasanya dipenuhi dengan rasa bersalah, takut, bimbang dan kecewa. Sehingga anda dapat menerima konflik-konflik emosi ini, ia agak sukar bagi anda untuk mengurus orang tua di rumah.
Ke atas keluarga
Penyakit yang menyerang dengan tiba-tiba merupakan suatu krisis kepada keluarga dan biasanya boleh menyebabkan gangguan kepada kehidupan keluarga tersebut dan rutin harian mereka.
- Sebelum dimasukkan ke hospital, orang tua tersebut mungkin memainkan satu atau berbagai peranan sebagai penjaga rumah, penjaga kanak-kanak, pencari rezeki, pembantu dan rakan kepada pasangannya.
- Dengan penyakit dan kecacatan akibat daripada penyakit tersebut, beliau tidak lagi dapat melakukan fungsi-fungsi ini. Lebih buruk lagi, ia menjadi beban tambahan kepada keluarganya.
- Sebelum anda menyesuaikan diri kepada perubahan dan kekosongan yang ditinggalkan oleh orang tua tersebut, anda diperlukan untuk menjaga orang tua tersebut
- Jika semua anggota keluarga bekerja, tidak terdapat sesiapa di rumah untuk menjaga orang tua tersebut
- Mungkin agak mustahil bagi anggota keluarga untuk berhenti bekerja supaya dapat menjaga orang tua tersebut kerana ia mungkin bermakna pengurangan taraf hidup yang ketara atau pengalaman tekanan kewangan yang berat.
Jika anda sedang menjaga ibubapa anda
1. Ingat bahawa ibubapa anda tetap ibubapa anda – menjaga seorang ibu atau bapa tidak bermakna anda telah menukar peranan, dan anak kepada ibubapa tersebut telah menjadi ibubapa kepada mereka.
2. Ibubapa anda juga bukan menjadi anak anda dan tidak harus dilayan sebegitu rupa.
3. Tanggungjawab menjaga mungkin telah berubah. Misalnya apabila ibubapa anda semakin berumur, anda mungkin perlu menjaga mereka berbanding kepada penjagaan yang diberikan oleh mereka semasa anda membesar dahulu
4. Memahami perubahan-perubahan ini, serta kesan-kesannya ke atas anda dan keluarga anda dapat membantu
Ke atas Hidup dan Perasaan Seseorang
Perubahan-perubahan ini kadang-kala boleh membuat anda merasa seperti tidak berupaya, marah, bersalah, atau muram tentang kehilangan sesuatu yang anda sudah biasa. Soalan-soalan yang menyakitkan mula timbul:
- Haruskah orang tersebut tinggal bersama anda?
- Haruskah anda berhenti kerja atau menggajikan seorang pembantu rumah?
- Haruskah anda bertanggungjawab sepenuhnya?
- Bagaimana ia boleh menjejas kehidupan anda sendiri?
Anda boleh mengawal tindak balas kepada perubahan-perubahan ini.
1. Ketahui diri anda, nilai, kekuatan, had dan matlamat anda
2. Langkah selanjutnya ialah untuk belajar kemahiran mengendalikan pekerjaan
3. Ini termasuk menilai diri anda dan situasi anda, menetapkan matlamat, mendapatkan sokongan, menyenaraikan peluang, dan mengambil tindakan. Miliki sikap yang positif.
4. Memahami saudara tua anda serta keperluannya, mempelajari kemahiran-kemahiran khusus dan mengembangkan sikap positif
Ke atas Sumber Keluarga
Walaupun jika orang tersebut tidak dapat bercakap, beliau tetap akan mendapat faedah apabila ditemani anggota keluarga
Berada bersama orang tua tersebut, memberi penjagaan fizikal atau membawa makanan dan terus memberi wang saku adalah cara-cara untuk menunjukkan kasih sayang dan keprihatinan
Beliau sudah tentu akan mengalami saat-saat kemuraman dan putus asa. Pada saat-saat begini, galakan dan kesabaran yang paling diperlukan.
Anggota-anggota keluarga boleh melakukan peranan dan fungsi yang berbeza..
Ini akan melegakan penjaganya serta memenuhi keperluan fizikal, sosial, emosi dan rohani orang tua tersebut
Anggota-anggota keluarga yang bekerjasama dan memberikan sokongan antara satu sama lain memastikan penjagaan yang baik dan berterusan bagi orang tua tersebut.

Read more...

  © Mas BOW by Situs Belajar Psikologi 2009

Back to TOP