Categories

Pendekatan Psikoterapi Rational Emotive therapy

Rabu, Oktober 22, 2008

Manusia adalah mahluk yang paling mulia dan sempurna di dunia ini. Manusia sangat berbeda sekali dengan binatang, kita diciptakan mempunyai nafsu dan akal pikiran, sedangkan binatang hanya mempunyai nafsu saja. Berbeda lagi dengan malaikat, malaikat hanya mempunyai rasa bakti, tetapi tidak mempunyai nafsu. Manusia diciptakan oleh Allah S.W.T. dengan sebaik-baik bentuk, baik secara lahiriah maupun batiniah. Jadi, yang membedakan manusia dengan mahluk lainya adalah di- bekalinya manusia dengan akal dan pikiran. Namun di jaman era globalisasi ini sering kita jumpai banyak manusia mengalami masalah yang begitu sulit untuk di selesaikan yang menyebabkan manusia tersebut menjadi stress bahkan depresi dan terkadang ada manusia yang sampai mengakhiri nyawanya dengan bunuh diri karena tidak mampu menyelesaikan masalahnya.
Berdasarkan paparan di atas saya selaku penulis bertanya – Tanya, mengapa manusia yang merupakan mahluk yang paling sempurna terkadang mengalami kesulit dalam mengatasi masalahnya? Dalam tulisan ini saya berusaha memaparkan hakikat masalah dan bagaimana pendekatanya berdasar perspektif psikoterapi Rational Emotive therapy.

PERSPEKTIF PSIKOLOGI KONSELING Rational Emotive therapy
Rational emotive therapy merupakan teori yang dikemukakan oleh Albert Ellis, teori ini memandang masalah pada hakikatnya terletak pada keyakinan tidak rational, bukan terletak pada sesuatu yang terjadi.

Hakikat Masalah
Menurut pendekatan teori ini, manusia memiliki tiga potensi pokok, yaitu: (a) Potensi berpikir, baik yang rasional maupun tidak rasional, (b)Kecenderungan untuk menjaga kelangsungan keadaan dirinya, keberadaanya, kebahagiaan, kesempatan memikirkan dan mengungkapkanya dengan kata – kata, mencintai, berkomunikasi dengan orang lain, serta terjadinya pertumbuhan dan aktualisasi diri, (c) Memiliki dorongan dari dalam dirinya untuk merusak diri sendiri, menghindar dari memikirkan sesuatu, menunda – nunda, berulang – ulang melakukan kekeliruan, percaya pada tahayul, tidak memiliki tenggang rasa, menjadi perfeksionis, menyalahkan diri sendiri, dan menghindari adanya aktualisasi potensi pertumbuhan yang dimilikinya.
Pada hakikatnya teori ini mendorong manusia untuk mau menerima dirinya sebagai mahluk yang memiliki sisi negatif (selalu membuat kesalahan) dan sisi positif (belajar hidup damai dengan dirinya sendiri).
Masalah atau gangguan emosional berasal dari (a) kita mempelajari keyakinan yang tidak rasional adalah dari orang lain yang signifikan pada masa kanak – kanak, (b) Kita sendiri yang menciptakan dogma dan takhayul (superstision) yang tidak rasional itu, kemudian (c) secara aktif kita menanamkan kembali keyakinan keliru itu dengan jalan memproses sugesti pada diri sendiri (self repetition).
Jadi disfungsional terjadi karena sebagian besar pergaulan yang kita buat sendiri terhadap pikiran yang tidak rasional yang diindoktrinasikan kepada kita dulu yang memberikan tuntutan kepada kita agar dunia ini seharusnya, seyogyanya, dan harus berbeda.

Ellis menggambarkan hakikat masalah ini dengan konsep berikut:
A (Activing event) B (Believe) C(emotional and behavioral consequence)

-A adalah keberadaan fakta, suatu peristiwa, atau perilaku atau sikap seorang individu
-B adalah Keyakinan si pribadi (A), pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa.
-C adalah Konsekuensi emosi dan perilaku ataupun reaksi si individu; reaksi tersebut bisa cocok atau tidak.

Dalam konsep ini peristiwa yang sedang terjadi pada (A) tidak menjadi penyebab pada (C/konsekuensi emosi), melainkan (B/keyakinan si pribadi pada A) yang menjadi penyebabnya. Misalnya, apabila seorang mengalami depresi setelah bercerai dengan suami / istrinya, mungkin bukan perceraian (A) itu sendiri yang menjadi penyebab reaksi dalam bentuk depresi, tetapi keyakinan si individu (B) bahwa ia gagal, merasa di tolak, atau kehilangan pasangan yang menjadi penyebabnya.

Pendekatan yang Dilakukan
Pendekatan yang dilakukan adalah melakukan disputing intervention (meragukan/ membantah) (D) terhadap keyakinan dan pemikiran yang tidak rasional pada (B) agar berubah pada keyakinan , pemikiran dan falsafah rasional yang baru (E), sehingga lahir (F) yaitu perangkat perasaan yang baru, dengan demikian kita tidak akan merasa tertekan, melainkan kita akan merasakan segala sesuatu sesuai dengan situasi yang ada.

Teori pendekatan DEF dari ellis jika digambarkan dalam bentuk bagan adalah demikian:
D (disputing intervention) E (effect) F (new Feeling)
- D adalah yang meragukan atau membantah. Pada isensinya merupakan aplikasi dari metode ilimiah untuk menolong klien membantah keyakinan irasional. Ellis dan Bernard (1986) melukiskan tiga komponen dari proses membantah ini:
Pertama: klien belajar cara mendeteksi keyakinan irasional mereka, terutama kemutlakan seharusnya dan harus, sifat berlebihan, dan pelecehan pada diri sendiri.
Kedua: klien memperdebatkan keyakinan yang disfungsional itu dengan belajar cara mempertanyakan semua itu secara logis dan empiris dan dengan sekuat tenaga mempertanyakan kepada diri sendiri serta berbuat untuk tidak mempercayainya.
Ketiga: klien belajar untuk mendiskriminasikan keyakinan yang irasional an rasional.
- E adalah falsafah efektif, yang memiliki segi praktis. Falsafah rasional yang baru dan efektif terdiri dari menggantikan yang tidak pada tempatnya dengan yang cocok. Apabila itu berhasil maka akan tercipta F atau new feeling
- F adalah perangkat perasaan yang baru. Kita tidak lagi merasakan cemas yang sungguh-sungguh, melainkan kita mengalami segala sesuatu sesuai dengan situasi yang ada.

Pribadi yang tidak sehat adalah pribadi yang terbelenggu oleh ide tidak rasionalnya dan suka menyalahkan diri sendiri maupun orang lain. Menurut teori ini bahwa menyalahkan adalah merupakan inti dari sebagian gangguan emosional.

Artikel Terkait Lainnya :


6 komentar:

ErIn's Blog mengatakan...

Kita Harus Bersyukur yach jadi mahluk paling sempurna =)

subagya mengatakan...

hmmmm.... menarik sekali

david mengatakan...

kita harus patut bersyukur nech

ezZa mengatakan...

tapi ada pepatah nobody's perfect...

gmna tu maz bow...

BloGendeng mengatakan...

Makin mantap postingannya nih. Manusisa makhluk yang paling semourna yang tidak sempurna

Tendangan Bebas mengatakan...

Ilmu yg bermanfaat, mas bowo
kalau boleh ngasih masukan, paragrafnya dirapihin biar nyaman nyedot elmunya :D
makasih ya mas

Posting Komentar

  © Mas BOW by Situs Belajar Psikologi 2009

Back to TOP