Categories

Mencapai Kebermaknaan Hidup

Senin, Oktober 20, 2008

Kebermaknaan hidup sangat perlu dipahami oleh setiap manusia. Siapapun dia, Presiden, angota DPR, bahkan rakyat biasa, karena menurut Bastaman (1996) jika individu tidak berhasil menemukan dan memenuhi makna hidup biasanya menimbulkan semacam frustrasi eksistensial, dimana individu merasa tidak mampu lagi dalam mengatasi masalah-masalah personalnya secara efisien, merasa hampa, tidak bersemangat, dan tak lagi memiliki tujuan hidup.

Berkaitan dengan kebermaknaan hidup Victor E.Frankl (1985) seorang tokoh psikologi eksistensial dalam konsep logoterapinya mengatakan bahwa kebermaknaan hidup disebut sebagai kualitas penghayatan individu terhadap seberapa besar ia dapat mengembangkan dan mengaktualisasikan potensi-potensi serta kapasitas yang dimilikinya, dan terhadap seberapa jauh ia telah berhasil mencapai tujuan-tujuan hidupnya, dalam rangka memberi makna atau arti kepada kehidupannya. Frankl (2003) dalam buku terjemahannya mengatakan bahwa masing-masing individu memiliki pengertian yang berbeda tentang makna karena setiap orang berada dalam medan sendiri dan memiliki misi sendiri dalam hidupnya.
Frankl (Koeswara, 1987) juga mengemukakan bahwa manusia bisa menemukan makna melalui realisasi nilai-nilai manusiawi yang mencakup nilai kreatif, nilai estetis, nilai etis dan nilai pengalaman (experiential value). Ini berarti bahwa manusia, di samping melalui kehidupan keagamaan, bisa menemukan atau menciptakan makna hidup melalui kerja, melalui pertemuan dengan keindahan dan kebenaran, melalui pertemuan dan cinta dengan sesama, dan melalui pengalaman-pengalaman. Berikut ini saya akan sedikit berbagi mengenai metode-metode Menurut Bastaman (dalam Kitab, 1998) dalam menemukan kebermaknaan hidup sebagai upaya untuk menemukan kembali kesadaran akan makna dan orientasi hidup, diantaranya:

a.Pemahaman pribadi dan pengubahan sikap. Manfaat dari metode ini adalah untuk (1) mengenali keunggulan-keunggulan dan kelemahan-kelemahan pribadi, (2) menyadari keinginan dari mesa kecil hingga sekarang serta memahami kebutuhan-kebutuhan apa yang mendasari keinginan-keinginan itu, (3) merumuskan secara lebih jelas dan nyata hal-hal yang diinginkan untuk masa mendatangkan dan menyusun rencana secara realistis untuk mencapainya.

b.Bertindak positif, yakni menerapkan hal-hal yang baik dan positif dalam berperilaku dan tindakan nyata sehari-hari.

c.Pengakraban hubungan, yakni hubungan akrab seorang pribadi dengan pribadi yang lain sedemikian rupa sehingga dihayati sebagai hubungan yang dekat, mendalam, saling percaya dan saling memahami. Jadi terdapat semacam dukungan sosial. Dengan cara ini seseorang merasa dirinya berharga dan bermakna, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain, karena hal ini merupakan salah satu sumber makna bagi manusia.

d.Pendalaman tri nilai. Tri nilai di sini adalah (1) pendalaman nilai-nilai kreatif, yaitu dengan memberikan sesuatu yang berharga bagi kehidupan, (2) pendalaman nilai-nilai penghayatan, dimana individu mencoba memahami, meyakini dan mengahayati berbagai nilai yang ada dalam kehidupan, seperti keindahan, kebijakan, keimanan, kebajikan dan cinta kasih, (3) pendalaman nilai-nilai bersikap, yakni memberi kesempatan kepada seseorang untuk mengambil sikap yang tepat terhadap kondisi dan peristiwa yang hadir dalam kehidupannya. Dengan mengambil sikap yang tepat maka beban pengalaman tragis akan berkurang, bahkan mungkin peristiwa itu dapat memberikan pengalaman yang berharga dan menimbulkan makna tertentu, yang dalam sehari-hari disebut dengan hikmah.

e.Ibadah. Dalam pengertian umum ibadah adalah segala kegiatan melaksanakan apa yang diperintahkan Tuhan, dan mencegah diri dari hal-hal yang dilarang-Nya menurut ketentuan agama.Sedangkan dalam pengertian khusus ibadah adalah ritual untuk mendekatkan diri kepada Allah melaui cara yang diajarkan dalam agama.

Bastaman, H.D. 1996. Meraih Hidup Bermakna, Kisah Pribadi dengan Pengalaman Tragis. Jakarta: Paramadina.

Frankl, V.E. 2003. Logoterapi: Terapi Psikologi Melalui Pemaknaan Eksistensi. Terjemahan Murtadlo. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Kitab, F. 1998. Logoterapi: Kiat Meraih Kembali Hidup Bermakna. Diperoleh dari Suhuf, Edisi No.01 /Tahun V/1998.

Koeswara, E. 1987. Psikologi Eksistensial, Suatu Pengantar. Bandung: PT Eresco.

----------. 1992. Logoterapi. Yogyakarta: Kanisius.

Artikel Terkait Lainnya :


6 komentar:

tuink mengatakan...

nice post bro..
yup.. bila terjadi frustrasi eksistensial, bisa jadi kehidupan sosial kita yg ada masalah... coba deh di perbaiki... mungkin ngeblog bisa jd solusi... kekekeke

manusia biasa mengatakan...

wah salut sama kamu tuinkkkkk setuju sama kamu. nice post

BloGendeng mengatakan...

ehmm no comment. nice posting dan banyak pesan moral yang aku dapat

ezZa mengatakan...

hidup yg bermakna adalah yg mendatangkan hal2 yang positif...

Michael-BT mengatakan...

wahhh.....!!sungguh menyentuh hati untuk menemukan sebenarnya siapa diri kita??? and
memang salut dah post-nya...!!

Tendangan Bebas mengatakan...

seperti kalimat tanpa spasi, kehilangan makna
kebetulan postingan terakhir bahas tentang makna/nilai juga

Poskan Komentar

  © Mas BOW by Situs Belajar Psikologi 2009

Back to TOP