Categories

DETEKSI KETERLAMBATAN DENGAN UJI SCREENING

Sabtu, Oktober 11, 2008

Latar Belakang Masalah
Sebenarnya anak yang bagaimana yang dianjurkan menjalani uji skrining? Tentu saja anak-anak yang perkembangannya tampak normal. Uji skrining perkembangan anak adalah suatu tes atau prosedur pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui kemampuan dasar anak. Tes ini dilakukan oleh seorang ahli sebagai deteksi awal untuk mengetahui apakah si kecil me-ngalami gangguan perkem-bangan atau tidak. Jika hasil skrining menunjukkan anak mengalami keterlambatan perkembangan, maka dapat segera dirujuk untuk didiagnosis lebih lanjut serta menjalani terapi yang tepat sedini mungkin. Jadi, anak yang jelas-jelas terdeteksi mengalami gangguan tentu saja tak perlu lagi mengikuti uji skrining ini.
Pertanyaan lainnya adalah anak usia berapa yang bisa diskrining? Jawabannya anak usia 0 sampai 6,5 tahun karena di usia inilah proses perkembangan terjadi begitu pesat. Dengan begitu hasilnya akan jelas, mana anak yang tahapan perkembangannya normal dan mana yang tidak.
Uji skrining perkembangan (Development Screening Test) dikelompokkan menjadi empat bagian, yaitu:
1. Perkembangan Personal Sosial
Untuk mengindikasikan kemampuan si kecil berhubungan atau berinteraksi dengan orang lain/lingkungannya serta menilai bagaimana kemandiriannya.
2. Perkembangan Motorik Halus
Untuk menilai kemampuan anak dalam mengoordinasikan mata dan kedua tangannya. Contohnya untuk menggambar, menjimpit kismis, mencoret, menyusun balok, dan sejenisnya.
3. Perkembangan Bahasa
Untuk menilai kemampuan anak mendengar atau merespons suara, berbicara dan mengikuti perintah.
4. Perkembangan Motorik Kasar
Untuk menilai kemampuan anak seperti jalan, melompat, dan sebagainya

Alat Tes Yang Digunakan
Dalam uji skrinning ini alat tes yang digunakan adalah Denver Developmental Screening Test (DDST).

Material Tes Terdiri Dari:
1.Formulir tes
2.Pom – pom dari benang merah (diameter 10 Cm)
3.Kismis, kancing, kacang
4.Rantai dengan pegangan pendek
5.8 balok sisi 2 ½ Cm, warna merah, biru, kuning dan hijau
6.Botol bening, dengan diameter mulut 1 ½ Cm.
7.Bel Kecil
8.Bola tennis
9.Pensil

Prosedur Pelaksanaan Skrining
Berikut prosedur pelaksanaan uji skrining:
Langkah awal yang dilakukan penguji adalah menjelaskan pada orang tua maupun mengasuh bahwa skrining ini bukanlah tes intelegensia. Akan tetapi, merupakan tes untuk melihat perkembangan anak. Konkretnya, apa saja yang sudah dapat dilakukan anak sesuai dengan usianya.
Selanjutnya suasana tes akan dibuat sedemikian rupa sehingga anak merasa aman dan nyaman. Salah satu caranya, anak duduk didampingi orang tua.

Prosedur Pelaksanaan Tes
Setelah melewati prosedur tersebut, dimulailah pelaksanaan tes dengan urutan sebagai berikut:
Tes diawali dengan aspek personal sosial. Hal ini untuk memberi kesempatan pada anak menyesuaikan diri, khususnya dengan penguji. Penguji juga dapat melakukan wawancara dengan orang tua atau pengasuh mengenai tingkah laku anak sehari-hari.
Selanjutnya adalah pengujian dari aspek gerak motorik halus. Anak dapat langsung diberi alat-alat tes, dimulai dari alat yang menarik perhatian mereka.
Kemudian beralih ke sektor bahasa. Setelah uji personal sosial dan motorik halus, diharapkan anak sudah lebih beradaptasi dan sudah mau berkomunikasi atau berbicara dengan penguji serta menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Terakhir adalah menguji gerak motorik kasar.
Penting untuk diingat, pengujian untuk setiap sektor dimulai dari unsur tes yang relatif paling mudah dilakukan anak. Selanjutnya, secara bertahap diberikan tes-tes yang tergolong sulit. Bila anak melakukan 3 kali kesalahan pada satu tes, maka tetap akan dilanjutkan pada unsur tes berikutnya. Secara umum memang anak dibolehkan untuk melakukan tiga kali tes pada setiap unsur tes. Anak yang tak berhasil melakukan salah satu tes belum tentu dinilai gagal karena hasil keseluruhan tes harus dilihat. Selain itu, penguji juga mencatat bagaimana respons anak, semisal kerja sama, perhatian, tingkah laku, rasa percaya diri, maupun tingkat kegugupannya.
Jenis Penilaian
Ada 4 jenis penilaian yang diberikan untuk setiap satu unsur tes, yaitu P (Pass/lulus), F (Failure/gagal), R (Refusal/menolak) atau OP (No Opportunity/tidak ada kesempatan). Keterlambatan perkembangan (scoring delays) terlihat bila sebuah unsur tes gagal dimana sebenarnya 90 persen anak-anak pada usia yang sama berhasil atau lulus. Hasil tes akhir bergantung pada hasil jumlah delay. Dari 4 tes tadi akan disimpulkan hasilnya, yaitu normal, questionable (dipertanyakan), abnormal atau untestable (tidak dapat dites).
Pada akhir tes, orang tua akan ditanya oleh penguji apakah yang dilakukan anak selama tes memang sesuai dengan tingkah laku atau kemampuan si anak sehari-hari. Bila ternyata ada beberapa unsur tes yang memperoleh scoring delays, maka dianjurkan untuk melakukan skrining lagi dalam jangka waktu dua minggu kemudian untuk memastikan keterlambatannya.

Artikel Terkait Lainnya :


4 komentar:

imam mengatakan...

Blog yg bagis mas Bow..
saya juga pny anak kecil.

Sepertinay mesti mencermati lagi :)

BloGendeng mengatakan...

Trus formnya ngisi d mana,mas?

eerra mengatakan...

btw biasanya institusi penyelenggaranya siapa nih? psikolog yah.. so berarti kita bawa sendiri anak2 yang mau diuji ke psikolog gitu? seperti kalo kita mau ikut TPA Independen bukan sih?

Maz bow mengatakan...

Betul sekali eeraa

Posting Komentar

  © Mas BOW by Situs Belajar Psikologi 2009

Back to TOP