Categories

Depresi

Jumat, Oktober 10, 2008

PENGERTIAN
Beck (dalam McDowell & Newel, 1996) mendefinisikan depresi sebagai keadaan abnormal organisme yang dimanifestasikan dengan tanda simptom- symptom seperti: menurunya mood subjektif, rasa pesimis dan sikap nihilistic, kehilangan kespontanan dan gejala vegetatif (seperti kehilangan berat badan dan gangguan tidur). Depresi juga merupakan kompleks gangguan yang meliputi gangguan afeksi, kognisi, motivasi dan komponen perilaku.

Teori–Teori Depresi
Ada beberapa teori yang dapat digunakan untuk menjelaskan munculnya gangguan depresi, yaitu:
a.Teori Biologi
Teori biologi ini mempunyai asumsi bahwa penyebab depresi terletak pada gen atau malfungsi beberapa faktor fisiologik yang memungkinkan faktor tersebut (dalam Sarason dan Sarason,1989).
b.Pandangan psikodinamika
Studi psikologik tentang depresi dimulai oleh sighmund freud dan karl Abraham. Keduanya menggambarkan bahwa depresi merupakan reaksi kompleks terhadap kehilangan atau (loss). Freud dalam bukunya “Mourning and Melancholia” menggambarkan bahwa rasa sedih yang normal dan depresi sebagai respon dari kehilangan seseorang atau sesuatu yang dicintainya (Davidson dan Neale, 1997). Pada orang yang mengalami depresi terjadi pengurangan harga diri secara luar biasa dan mengalami kemiskinan ego pada skala yang besar (dalam Sarason dan Sarason,1989).
c.Pandangan Behavioral.
Teori belajar berasumsi bahwa antara depresi dan penguat yang kurang (Lack of Reinforcment) saling berhubungan satu sama lain. Pandangan Behavioral menjelaskan bahwa orang yang mengalami depresi kurang menerima penghargaan (rewards) atau dengan kata lain lebih mengalami hukuman (punishment) daripada orang yang tidak mengalami depresi (dalam Sarason dan Sarason,1989).
d.Pandangan humaistik – eksistansial.
Teori eksistensial memfokuskan kehilangan harga diri sebagai penyebab depresi utama. Kehilangan harga diri dapat nyata atau simbolik, misal kehilangan kekuasaan, status sosial atau uang. Teori humanistic menekankan perbedaan self seseorang dengan keadaan yang nyata sebagai sumber depresi dan kecemasan. Menurut pandangan ini depresi terjadi jika perbedaan antara ideal self dan kenyataan terlalu besar ( dalam Sarason dan Sarason, 1989).
e.Pandangan Kognitif.
Teori depresi berdasarkan kognitif ini merupakan teori yang paling sering digunakan dalam penelitian tentang depresi (dalam susanty, 1997) Hal ini disebabkan karena teori kognitif selama ini sangat efektif digunakan untuk terapi terhadap deopresi. Teori ini menyatakan bahwa seseorang yang berpikiran negatif tentang dirinya akan menelusuri lebih lanjut bahwa mereka melakukan interpretasi yang salah dan menyimpang dari realita. Salah satu teori kognitif adalah teori depresi beck (Atkinson 1991). Teori tersebut menyatakan bahwa seseorang yang yang mudah terkena depresi telah mengembangkan sikap umum untuk menilai peristiwa dari segi negative dan kritik diri.

FAKTOR PENYEBAB TIMBULNYA DEPRESI
Menurut Hadi (2004), untuk menemukan penyebab depresi kadang menemui kesulitan karena ada sejumlah penyebab dan mungkin beberapa diantaranya bekerja pada saat yang sama. Namun dari sekian banyak penyebab dapat dirangkum sebagai berikut:
a.Karena kehilangan. Kehilangan merupakan faktor utama yang mendasari depresi. Ada empat macam kehilangan, yaitu: 1) kehilangan abstrak, misalnya: kehilangan harga diri, kasih sayang, harapan, atau ambis. 2) Kehilangan sesuatu yang konkrit, misalnya: rumah, mobil, potret, orang atau bahkan binatang kesayangan. Kehilangan hal yang bersifat khayal, misalnya: tanpa fakta mungkin tapi ia merasa tidak disukai atau dipergunjingkan orang. 4) Kehilangan sesuatu yang belum tentu hilang, misalnya: menunggu hasil tes kesehatan, menunggu hasil ujian,dll.
b.Reaksi terhadap stress . 85% depresi ditimbulkan oleh stress dalam hidup.
c.Terlalu lelah atau capek, karena terjadi pengurangan tenaga baik secara fisik maupun emosional.
d.Reaksi terhadap obat.


Gejala Depresi
Beck (1988) mengungkapkan gejala – gejala depresi, antara lain:
a.Manifestasi emosi. Seperti suasana hati yang pedih dan pilu, tidak menyukai diri sendiri (perasaan negatif pada diri sendiri) hilangnya atau kurangnya respon gembira pada situasi yang menimbulkan kesenangan, hilangnya rasa senang dan menangis.
b.Manifestasi kognitif. Berupa rendahnya penilaian terhadap diri sendiri, pikiran – pikiran negatif terhadap masa depan, menyalahkan, mengkritik atau mencela diri sendiri, tidak dapat membuat keputusan dan gambran yang salah tentang diri sendiri.
c.Manifestasi motivasional. Hilangnya motivasi untuk melakukan segala aktivitas, keinginan untuk menghindar dan menarik diri, meningkatnya ketergantungan dan yaitu menginginkan bantuan, pegarahan dan bimbingan.
d.Manifestasi fisik dan vegetatif. Seperti hilangnya nafsu makan, mengalami gangguan tidur, hilangnya nafsu sexual, perasaan lelah yang sangat berat, gangguan berat badan dan kemampuan fisik.

Jenis Depresi
Adapun jenis – jenis depresi menurut PPDGJ III, yaitu:
1.Depresi ringan, ciri – cirinya: a. sekurang – kurangnya harus ada 2 atau 3 gejala utama depresi seperti tersebut diatas, b) ditambah sekurang – kurangnya 2 dari gejala lainya : a – g, c) tidak boleh ada gejala berat diantaranya, d) lamanya seluruh episode berlangsung sekurang – kurangnya sekitar 2 minggu, e) hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan social yang biasa dilakukan.
2.Depresi sedang, ciri – cirinya : a) sekurang – kurangnya harus ada 2 atau 3 gejala utama depresi seperti pada depresi ringan, b) ditambah sekurang – kurangnya 3 (dan sebaiknya 4) dari gejala lainya, c) lamanya seluruh episode berlangsung minimal sekitar 2 minggu, d) menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial pekerjaan dan urusan rumah tangga.
3.Depresi berat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:
a.Depresi berat tanpa gejala psikotik, ciri – cirinya : a) semua 3 gejala depresi harus ada, b) ditambah sekurang – kurangnya 4 dari gejala lainya dan beberapa diantaranya harus berintensitas berat, c) bila ada gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi psikomotor) yang mencolok, maka pasien nubgkin tidak mau atau mampu untuk melaporkan banyak gejala secara rinci, d) episode depresif biasanya harus berlangsung sekurang – kurangnya 2 minggu,akan tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, maka masih dibenarkan untuk menegakan diagnosis dalam kurun waktu kurang dari 2 minggu, e) sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan kegiatan social, pekerjaan atau urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat terbatas.
b.Depresi berat dengan gejala psikotik, cirri – cirinya: a) episode depresi berat yang memenuhi kriteria menurut depresi berat tanpa gejala psikotic, b) disertai waham, halusinasi atau stupor depresif, waham biasanya melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan atau malapetaka yang mengancam dan pasien merasa bertanggung jawab atas hal itu. Halusinasi audiotorik atau aolfatoric biasanya berupa suara yang menghina atau menuduh, atau bau kotoran atau daging membusuk. Retardasi psikomotorik yang berat dapat menuju pada stupor. Jika diperlukan, waham atau halusinasi dapat ditentukan sebagai serasi atau tidak serasi dengan efek (mood congruent).
4.Danpak depresi
Menurut Wibisono (lestari, 2003) sudah banyak penelitian yang menyatakan bahwa depresi biasanya akan disertai dengan penyakit fisik, seperti asma, jantung koroner, sakit kepala dan maag.
Sedangkan menurut seorang ahli yang juga penulis buku, yaitu Philip Rice (Lestari, 2003) depresi akan meningkatkan resiko seseorang terserang penyakit karena kondisi depresi yang cenderung meningkatkan sirkulasi adrenalin dan kortisol, sehingga menurunkan tingkat kekebalan tubuhnya, selain itu penyakit menjadi mudah menghidap karena orang yang terkena depresi sering kehilangan nafsu makan, kebiasaan makanannya juga berubah (terlalu banyak makan atau sulit makan), kurang berolahraga, mudah lelah dan sulit tidur.

DAFTAR PUSTAKA
Atkinson, R. L. 1991. Pengantar Psikologi. Jilid 2. Diterjemahkan oleh Nurdjanah Taufik. Jakarta: Erlangga

Beck, A. T. 1985. Depression causes treatment. Philadelphia: University of
Pennsylvania.

Davidson, G dan Neale, J. M. 1997. Abnormal Psychology. 7th Ed. New York: John Wiley dan Sons.

Hadi, P. 2004. Depresi dan Solusinya. Yogyakarta: Penerbit Tugu.

Lestari, E. W. 2003. Depresi Akibat Trauma Masa Kanak-Kanak. Skripsi. (Tidak Diterbitkan). Surakarta: Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta


Mc. Dowel, I & Newell, C. (1996). Measuring Health: A Guide To Rating Scales and Questionnaire (2nd ed). New York; Oxford University Press.

Sarason, I. G. 1989. Abnormal Psychology. 6th Ed. New Jersey: Pentice Hall.

Artikel Terkait Lainnya :


8 komentar:

Bunda Rierie mengatakan...

mau tanya nich? kadang2 bunda tuch sering kepikiran yg enggak2..misalnya pas lagi nyebrang,,tiba2 terlintas gimana kalo ketabrak? kalo pas lagi pegang pisau, spontan mikir gimana kalo bunda ke iris dan lainnya. apa itu depresi ?

Jonbetta mengatakan...

Wah ngeri juga ya tentang Depresi gw gak mau ah...

Maz bow mengatakan...

sebelumnya terima kasih atas kunjungan ke blog saya.. oh ya bunda untuk mengetahui apakah seseorang mengidap depresi tidak semudah itu..ada alat tesnya, yang sering disebut BDI (Beck Depression Inventory). Saya Rasa ketakutan ketakutan yang ibu rasakan sesuatu hal yang biasa, asalkan tidak selalu menetap. Mungkin jika Bunda ragu silahkan datang ke pihak yang berwajib. Bukan polisi ya bunda, melainkan Psikolog..

nova-retro mengatakan...

wah makasih kang infonya,,menarik banget nie,,hehe tp ngeri jg ik,,

BloGendeng mengatakan...

Aku pernha dengar depresi juga bisa menyebabkan kanker. Karena ada bakteri dan zat yang jahat beraksi ketika seseorang depresi. Nggak tau bener atau nggak tuh,mas

izky mengatakan...

makasih atas infonya. tapi kalo terlau lama depresi akibatnya apa?

Anonim mengatakan...

mau nanya ne buku beck';y cari d mn y???

Anonim mengatakan...

please kasih tau cari buku beck'y d mn??
pntg bgt buat skripsi saya...
makasih

Poskan Komentar

  © Mas BOW by Situs Belajar Psikologi 2009

Back to TOP