Categories

Teknik-teknik terapi gestalt

Senin, Juni 30, 2008

Telah disebutkan bahwa terapi Gestalt adalah lebih dari sekedar sekumpulan teknik atau “permainan-permainan”. Apabila interaksi pribadi antara terapis dan klien merupakan inti dari proses terapeutik, teknik-teknik bisa berguna sebagai alat untuk membantu klien guna memperoleh kesadaran yang lebih penuh, mengalami konflik-konflik internal, menyelesaikan inkonsistensi-inkonsistensi dan dikotomi-dikotomi, dan menembus jalan buntu yang menghambat penyelesaian urusan yang tak selesai. Teknik-teknik dalam terapi Gestalt digunakan sesuai dengan gaya pribadi terapis.
Levitsky dan Perls (1970, h.144-149) menyajikan suatu uraian ringkas tentang sejumlah permainan yang bisa digunakan dalam terai Gestalt, yang mencangkup (1) permainan-permainan dialog (2) membuat lingkaran, (3) urusan yang tak selesai, (4) “saya memikul tanggung jawab”, (5) “Saya memiliki suatu rahasia”, (6) bermain proyeksi, (7) pembalikan, (8) irama kontak dan penarikan, (9) “ulangan”, (10) “melebih-lebihkan”, (11) “Bolehkah saya memberimu sebuah kalimat?” (12) permainan-permainan konseling perkawinan, dan (13) “Bisakah Anda tetap dengan perasaan ini?” Pembahasan teknik-teknik terapi Gestalt berikut berdasarkan uraian permainan-permainan dari Levitsky dan Perls (1970) dengan modifikasi bahan dan tambahan petunjuk-petunjuk dari penulis untuk pelaksaannya.

Permainan dialog
Sebagaimana disebutkan di muka, salah satu tujuan dari terapi Gestalt adalah mengusahakan fungsi yang terpadu dan penerimaan atas aspek-aspek kepribadian yang dicoba dibuang atau diingkari. Terapi Gestalt menaruh perhatian yang besar pada pemisahan dalam fungsi kepribadian. Yang paling utama adalah pemisahan antara “ top dog “ dan “ underdog “. Terapi sering difokuskan pada pertentangan antara top dog dan under dog itu.
Top dog itu adil, otoriter, moralistic, menuntut, berlaku sebagai majikan, dan manipulatif. Ia adalah “orang tua yang kritis” yang mengusik dengan kata-kata “harus” dan “sewajibnya” serta memanipulasi dengan ancaman-ancaman bencana. Sedangkan underdog memanipulasi dengan memainkan peran sebagai korban, defensif, membela diri, tak berdaya, lemah, dan tak berkekuasaan. Ia adalah sisi pasif, tanpa tanggung jawab, dan ingin dimaklumi. Top dog dan underdog terlibat dalam pertarungan yang tak berkesudahan untuk memperoleh kendali. Pertarungan itu bisa membantu menerangkan, mengapa resolusi-resolusi dan janji-janji sering tidak terlaksana dan mengapa kelambanan menjadi menetap. Top dog yang tiran menuntut seseorang untuk begini dan begitu, sementara underdog dengan sikap menentang memainkan peran sebagai anak yang bandel. Sebagai akibat dari pertarungan untuk memperoleh kendali itu, individu menjadi terpecah ke dalam situasi sebagai pengendali sekaligus sebagai yang dikendalikan. Perang saudara antara dua sisi tersebut tidak pernah sepenuhya berakhir, sebab kedua sisi berjuang demi keberadaanya.
Konflik antara dua sisi kepribadian yang berlawanan itu berakar pada mekanisme introyeksi yang melibatkan penggabungan aspek-aspek dari orang lain, biasanya orang tua, ke dalam system ego individu. Perls menunjukkan bahwa pengambilan nilai-nilai dan sifat-sifat orang lain itu perlu dan diharapkan. Akan tetapi, ada bahayanya apabila seseorang menerima seluruh nilai orang lain secara kritis, yakni menyebabkan orang itu sulit untuk menjadi pribadi yang otonom. Adalah suatu hal yang esensial bahwa orang menyadari introyeksinya, terutama introyeksi beracun yang dapat meracuni sistem dan menghambat intergasi kepribadian.

Teknik kursi kosong adalah suatu cara untuk mengajak klien agar mengeksternalisasi introyeksinya. Dalam teknik ini dua kursi diletakkan di tengah ruangan. Terapis meminta klien untuk duduk di kursi yang satu dan memainkan peran sebagai top dog, kemudian pindah ke kursi lain dan menjadi underdog. Dialog bisa dilangsungkan dia antara kedua sisi klien. Pada dasarnya, teknik kursi kosong adalah suatu teknik permainan peran yanbg semua peranya dimainkan oleh klien. Melalui teknik ini introyeksi –introyeksi bisa dimunculkan ke permukaan, dan klien bisa mengalami konflik lebih penuh. Konflik bisa diselesaikan melalui penerimaan dan integrasi kedua sisi kepribadian oleh klien. Teknik ini membantu klien agar berhubungan dengan perasaan atau sisi dari dirinya sendiri yang diingkarinya; klien mengintensifkan dan mengalami secara penuh perasaan-perasaan yang bertentangan, ketimbang hanya membicarakannya. Selanjutnya, dengan membantu klien untuk mennyadari bahwa perasaan adalah bagian diri yang sangat nyata, teknik mencegah klien memisahkan perasaan. Teknik ini juga bisa membantu klien untuk mengenali introyeksi-introyeksi parental yang tidak menyenangkan. Contohnya, klien mungkin berkata, “Itu kedengarannya mirip dengan apa yang dikatakan oleh ayah saya terhadap saya!” Introyeksi-introyeksi parental dapat menyebabkan permainan “menyiksa diri” terus berlangsung selama klien mempertahankan perintah –perintah orang tuanya yang digunakan untuk menghukum dan Dialog antara dua kecendrungan yang berlawanan memiliki sasaran meningkatkan taraf integrasi polaritas – polaritas dan konflik – konflik yang ada pada diri seseorang ke taraf lebih tinggi. Dengan sasaran itu terapis tidak bermaksud memisahkan klien dari sifat – sifat tertentu, tetapi mendorong klien agar belajar menerima dan hidup dengan polaritas – polaritas. Perls yakin yakin bahwa pendekatan – pendekatan terapi lain terlalu menitik beratkan perubahan. Ia menandaskan bahwa perubahan tidak bisa dipaksakan dan bahwa melalui penerimaan atas polaritas – polaritas integrasi bisa terjadi serta klien akan menghentikan permainan menyiksa dirinya. Terdapat banyak contoh konflik umum yang bisa digunakan pada permainan dialog. Di antaranya yang terbukti oleh penulis bisa digunakan adalah : (1) sisi orang tua lawan si anak, (2). Sisi yang bertangggung jawab lawan sisi impulsive. (3). Sisi yang puritan lawan sisi yang sexy. (4) “anak baik” lawan “anak nakal”. (5) diri yang agresif lawan diri yang pasif, dan (6). Sisi yang otonom lawan sisi yang marah.
Teknik permainan dialog dapat digunakan, baik dalam konseling individual maupun dalam konseling kelompok. Berikut ini uraian salah satu contoh konflik umum antara top dog dan under dog yang telah dibuktikan oleh penulis menjadi kekuatan yang membantu klien menjadi lebih sadar atas pemisahan internalnya dan atas sisi yang mungkin menjadi dominan. Klien, yang dalam kasus ini adalah seorang wanita, memainkan peranan orang yang malang, lemah, tak berdaya, dan bergantung. Klien mengeluh bahwa dirinya malang, benci dan dendam terhadap suaminya, tetapi dia juga takut bawah suaminya itu meninggalkan dirinya, dia akan mengalami disintegrasi. Klien menggunakan suami sebagai dalih bagi ketidakmampuanya. Dia terus – menerus menempatkan dirinya dibawah, dan selalu berkata, “ Saya tidak bisa,” “Saya tidak tahu bagaimana,” “Saya tidak sanggup.” Jika klien menetapkan dirinya cukup malang untuk menginginkan perubahan gaya kebergantunganya, penulis meminta klien untuk duduk di sebuah kursi di tengah ruangan menjadi syahid underdog dan membesar- besarkan sisi dirinya ini. Kemudian, jika klien menjadi muak terhadap sisi underdognya itu, penulis meminta klien untuk menjadi sisi yang lain, yakni sisi top dogi yang memandang rendah dan berbicara kepada “saya yang malang”. Kemudian penulis meminta kepada klien agar berpura – pura bahwa dia berkuasa, kuat, dan mandiri serta bertindak seakan – akan dia tidak berdaya. Penulis bertanya , “ Apa yang akan terjadi jika anda kuat dan mandiri serta jika anda menyingkirkan kebergantungan Anda?” Teknik semacam ini sering bisa menggerakkan para klien ke arah sungguh – sungguh mengalami peran – peran yang mereka mainkan untuk seterusnya, yang acap kali menghasilkan penemuan kembali aspek – aspek diri yang otonom.

Berkeliling
Berkeliling adalah suatu latihan terapi Gestalt di mana klien di minta untuk berkeliling ke anggota- anggota kelompoknya, dan berbicara atau melakukan sesuatu dengan setiap anggota itu. Maksud teknik ini adalah untuk menghadapi, memberanikan dan menyingkapkan diri, bereksperimen dengan tingkah laku yang baru, serta tumbuh dan berubah. Penulis pernah menggunakan teknik ini ketika mengamati bahwa seorang partisipan perlu menghadapi setiap anggota dalam kelompoknya dengan suatu tema. Misalnya, seorang anggota kelompok berkata. “ Saya telah lama duduk di sini, ingin berpartisipasi tetapi tidak jadi, karena saya takut untuk memberikan kepercayaan kepada orang – orang yang ada di sini. Selain itu, saya tidak yakin bahwa saya pantas untuk menghabiskan waktu dalam kelompok ini. “ Penulis bisa menjawabnya dengan pertanyaan, “ Bersediakan anda melakukan sesuatu sekarang juga untuk membawa diri anda lebih jauh dan mulai bekerja guna memperoleh rasa percaya dan kepercayaan diri?” Jika jawaban orang itu mengiyakan , penulis menganjurkan, “pergilah kepada setiap anggota kelompok dan selesaikanlah kalimat ini, “ Saya tidak mempercayai anda karena …. “ Sejumlah latihan bisa membantu orang untuk melibatkan diri dan memilih mengatasi hal – hal yang telah membekukan dirinya dalam ketakutan.
Sejumlah contoh lain yang telah diketahui oleh penulis pantas ditangani melalui teknik “berkeliling”, direflesikan oleh komentar – komentar para klien seperti, “Saya bosan dengan apa yang berhubungan dengan orang – orang;” “ Saya bosan dengan apa yang berlangsung dalam kelompok ini;” “ Di sini tidak tampak orang yang menaruh perhatian;” “Saya ingin menjalin kontak dengan anda, tapi saya takut di tolak;” Sulit bagi saya untuk menerima omong kosong yang baik- baik yang disampaikan orang lain kepada saya,” “ Sulit bagi saya untuk mengatakan hal – hal yang negatif kepada orang lain. Saya ingin selalu menjadi orang yang menyenangkan dalam berhubungan dan menjalin keakraban.”

Latihan “ Saya bertanggung jawab atas ….
Dalam latihan ini, terapis meminta untuk membuat seatu pernyataan dan kemudian menambahkan pada pernyataan itu kalimat “ dan saya bertanggung jawab untuk itu”. Contoh – contohnya adalah: “Saya merasa jenuh, dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu.” “ Saya merasa terasing dan kesepian, tapi saya bertanggung jawab atas keterasingan saya itu:” “ Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan, tapi saya bertanggung jawab atas ketidak tahuan saya itu.” Teknik ini merupakan perluasan kontinum kesadaran dan dirancang untuk membantu orang – orang agar mengakui dan menerima perasaan – perasaannya itu kepada orang lain. Meskipun tampaknya mekanis, teknik ini terbukti bisa sangat berguna.

“Saya memiliki suatu rahasia”
Teknik ini dimaksudkan untuk mengeksplorasi perasaan – perasaan berdosa dan malu. Terapis meminta kepada para klien untuk berkhayal tentang suatu rahasia pribadi yang terjaga dengan baik, membayangkan bagaimana perasaan mereka dan bagaimana orang lain bereaksi jika mereka membuka rahasia itu. Dalam setting kelompok, penulis meminta kepada para partisipan untuk membayangkan diri mereka sendiri di hadapan sekelompok orang dan membukakan aspek – aspek yang telah menguras banyak energi untuk menyembunyikannya dari orang lain. Kemudian penulis meminta kepada para partisipan untuk membayangkan apa yang akan dikatakan oleh setiap anggota kelompok itu ketika para partisipan membukakan rahasinya kepada mereka. Teknik ini juga bisa digunakan sebagai metode pembentukan kepercayaan dalam mengekplorasi mengapa para klien tidak mau membukakan rahasianya dan mengeksplorasi ketakutan – ketakutan menyampaikan hal – hal yang mereka angggap memalukan atau menimbulkan rasa berdosa.
Bermain proyeksi
Dinamika proyeksi terdiri atas seseorang melihat pada orang lain hal – hal yang justru ia tidak mampu melihatnya dan menerimanya pada diri sendiri. Orang bisa menguras banyak energi untuk mengingkari perasaan – perasaanya sendiri dan untuk mengalihkan motif – motif dirinya pada orang lain. Acap kali, terutama dalam setting kelompok, pernyataan – pernyataan seseorang tentang orang lain sebenarnya adalah proyeksi dari atribut – atribut yang dimilikinya.
Dalam permainan “bermain proyeksi” terapis meminta kepada klien untuk mengatakan “Saya tidak bisa mempercayaimu” untuk memerankan sesorang yang tidak bisa menaruh kepercayaan guna menyingkap sejauh mana ketidakpercayaan itu menjadi konflik dalam dirinya.” Dengan perkataan lain, terapis meminta pada klien untuk “mencobakan” pernyataan – pernyataan tertentu yang ditujukan kepada orang lain dalam kelompok.

Teknik pembalikan
Gejala – gejala dan tingkah laku tertentu sering kali merepresantikan pembalikan implus – implus yang mendasari atau yang laten. Jadi, terapis bisa meminta klien yang mengaku menderita inhibisi – inhibisi yang kuat dan rasa malu berlebihan agar memainkan peran sebagai seorang ekshiibionis dalam kelompok. Penulis ingat akan seorang wanita yang “teramat sopan” di dalam salah satu kelompok yang mengalami kesulitan untuk berbuat segala sesuatu kecuali menampilkan dirinya sebagai seorang yang manis. Penulis meminta pada klien untuk membalikkan gayanya yang khas dan untuk menjadi segenit – genitnya. Pembalikan berlangsung dengan baik; dengan segera klien memainkan bagian dirinya dengan senang, dan kemudian dia mampu mengakui dan menerima “ sisi genitnya” maupun “sisi nyonya yang sopan – nya” dengan baik.
Teori yang melandasi teknik pembalikan adalah teori bahwa klien terjun ke dalam sesuatu yang ditakutinya karena dianggap bisa menimbulkan kecemasan, dan menjalin hubungann dengan bagian – bagian diri yang telah ditekan atau diingkarinya. Oleh karena itu , teknik ini bisa membantu para klien untuk mulai menerima atribut – atribut pribadinya yang telah di coba di ingkarinya.
Ilustrasi lain dari penggunaan teknik pembalikan kasus seorang wanita yang diminta oleh penulis untuk menjadi seorang yang jahat. Penulis meminta kepada klien untuk berkeliling mendatangani semua orang dalam kelompokknya untuk memberikan kutukan, menunjukkan niat jahat, dan mengatakan sesuatu yang sangat ditakuti mereka. Selain itu, klien juga menyampaikan sumpah serapahnya. Klien adalah seorang wanita yang tidak pernah mengakui sisi buruknya itu. Dia menimbun kebencian dan dendam sebagai hasil sampingan repsresinya. Ketika ia didorong untuk mengungkapkan sisi buruknya yang sebelumnya tidak pernah dilakukannya, hasilnya cukup dramatis. Klien secara intens merasakan sisi yang diingkarinya dan lambat laun mampu mengintegrasikan sisi tersebut ke dalal kepribadiannya.

Permainan ulangan
Menurut Perls, banyak pemikiran kita yang merupakan pengulangan. Dalam fantasi, kita mengulang – ulang peran yang kita anggap masyarakat mengharapkan kita memainkannya. Ketika tiba saat menampilkannya, kita mengalami demam panggung atau kecemasan, yakni kita takut tidak mampu memainkan peran kita itu dengan baik. Pengulangan internal menghabiskan spontanitas dan kesediaan kita untuk eksperimen dengan tingkah laku baru.
Para anggota kelompok terapi melakukan permainan berbagi pengulangan satu sama lain dalam upaya meningkatkan kesadaran atas pengulangan – pengulangan yang dilakukan oleh mereka dalam memenuhi tuntutan memainkan peran – peran social. Mereka menjadi lebih besar derajat keingginan mereka untuk disetujui, ditrima, dan disukai, serta sejauh mana mereka berusaha memperoleh penerimaan.
Permainan melebih – lebihkan
Permainan ini berhubungan dengan konsep peningkatan kesadaran atas tanda – tanda dan isyarat – isyarat halus yang dikirimkan oleh seorang melalui bahasa tubuh. Gerakan – gerakan, sikap –sikap badan, dan mimik muka bisa mengkomunikasikan makna – makna penting, begitu juga isyarat – isyarat yang tidak lengkap. Klien meminta untuk melebih – lebihkan, yang biasanya mengintesifkan perasaan yang berpaut pada tingkah laku dan membuat makna bagian dalam menjadi lebih jelas.
Tingkah laku yang bisa digunakan dalam permainan melebih – lebihkan itu misalnya adalah tersenyum sambil mengungkapkan kesakitan atau perasaan yang negatif, gemetar (menggoyangkan tangan dan kaki), duduk lunglai dan menurunkan pundak, mengepalkan tinju, mengerutkan dahi, menyringai, dan menyilangkan tangan. Jika klien melaporkan bahwa kedua kakinya gemetar, misalnya terapis bisa meminta pada klien untuk berdiri dan melebih – lebihkan gemetarnnya. Kemudian terapis bisa meminta klien agar mengungkapkan arti getaran kakinya itu dengan kata – kata.
Sebagai variasi dari bahasa tubuh, tingkah laku verbal juga bisa digunakan dalam permainan melebih-lebihkan. Terapis bisa meminta klien agar mengulangi pernyataan yang telah dicoba dibelokkannya, dan setiap mengulang pernyataan itu diucapkan lebih keras. Teknik ini sering membawa hasil bahwa klien mulai sungguh-sungguh mendengar dan didengar dirinya sendiri.
Tetap dengan perasaan
Teknik ini bisa digunakan pada saat klien menunjuk pada perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan yang ia sangat ingin menghindarinya. Terapis mendesak klien untuk tetap dengan atau menahan perasaan yang ia ingin menghindarinya itu.
Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. Terapis bisa meminta klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan apa pun yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam perasaan dan tingkah laku yang ingin dihindarinya. Menghadapi, mengonfrontasi, dan mengalami perasaan-perasaan tidak hanya membutuhkan keberanian, tetapi juga membutuhkan kesediaan untuk bertahan dalam kesakitan yang diperlukan guna membuka dan membuat jalan menuju taraf-taraf pertumbuhan yang lebih baru.
Pendekatan Gestalt terhadap kerja mimpi
Dalam psikoanalisis, mimpi-mimpi ditafsirkan, pemahaman intelektual ditekan, dan asosiasi bebas digunkaan sebagai satu metode untuk mengeksplorasi makna-makna yang tidak didasari dari mimpi-mimpi. Terapi Gestalt tidak menafsirkan dan menganalisis mimpi, membawa kembali mimpi kepada kehidupan, menciptakan kembali mimpi, dan menghidupkan kembali mimpi seakan-akan mimpi itu berlangsung sekarang. Mimpi tidak dibicarakan sebagai suatu kejadian yang telah berlalu, tetapi sebagai sesuatu yang terjadi sekarang, dan pemimpi menjadi bagian dari mimpi yang dialaminya. Yang dianjurkan dalam penanganan mimpi-mimpi adalah membuat daftar dari segenap rincian mimpi, mengingat orang-orang, kejadian, dan suasana hati dalam mimpi, dan kemudian menjadi bagian dari mimpi dengan jalan mentransformasikan diri, bertindak sepenuh mungkin, dan menciptakan dialog; karena setiap bagian mimpi itu dianggap merupakan proyeksi dari diri, maka klien membuat scenario untuk pertemuan – pertemuan diantara berbagai karakter atau bagian; segenap bagian mimpi yang berbeda mengungkapkan sisi – sisi kontradiktioari dan tidak konsisten. Jadi, dengan melibatkan diri pada dialog antara sisi – sisi yang berlawanan itu, orang lambat laun menjadi lebih sadar atas jangkauan perasaan – perasaannya sendiri.
Konsep tentang proyeksi adalah dominan dalam teori Perls tentang formasi mimpi. Menurut Perls, setiap orang dan setiap objek yang ada dalam mimpi mempresentasikan aspek yang diproyeksikan oleh pemimpi. Perls (1969a) mengemukakan bahwa “kita bertolak dari asumsi yang mustahil bahwa apa pun yang kita yakini kita lihat dalam diri orang lain atau dalam dunia adalah tidak lain suatu proyeksi” (h. 67). dalam mimpi mempresentasikan aspek yang diproyeksikan oleh pemimpi. Perls (1969a) mengemukakan bahwa “kita bertolak dari asumsi yang mustahil bahwa apa pun yang kita yakini kita lihat dalam diri orang lain atau dalam dunia adalah tidak lain suatu proyeksi” (h. 67). Perls percaya bahwa pengakuan terhadap arti-arti dan pemahaman terhadap proyeksi-proyeksi berjalan seiring. Oleh karena itu, Perls tidak menafsirkan mimpi-mimpi, tidak memainkan permainan-permainan teka-teki intelektual, juga tidak menceritakan kepada klien makna mimpi-mimpinya, tetapi mendorong klien untuk memikul tanggung jawab atas mimpinya, membawa kembali mimpi ke dalam kehidupan saat sekarang, dan menghidupkan mimpi seakan-akan mimpi itu berlangsung sekarang. Klien menjadi setiap aspek dari mimpi dengan melakonkan kembali segenap rincian mimpinya. Klien tidak memikirkan atau menganalisis mipi, tetapi menuliskan scenario dan memerankan dialog di antara berbagai bagian dari mimpi. Karena bisa memerankan perjuangan di antara sisi-sisi yang bertentangan, maka klien lambat laun bisa menghargai dan menerima pebedaan-perbedaan yang ada dalam dirinya serta bisa memadukan kekuatan-kekuatan yang bertentangan. Sementara Freud menyebut mimpi sbegai jalan istimewa menuju ketaksadara, Perls (1969a) percaya bahwa mimpi itu adalah “jalan istimewa menuju integrasi (h. 66).
Menurut Perls (1969a) mimpi adalah ungkapan yang paling spontan dari keberadaan manusia. Mimpi mempresentasikan situasi yang tidak tuntas, tetapi lebih dari sekadar suatu situasi yang tidak tuntas atau hasrat yang tidak terpenuhi. Setiap mimpi mengandung pesan eksistensial tentang diri seseorang dan perjuangan yang dialaminya sekarang. Segala hal bisa ditemukan dalam mimpi-mimpi jika segenap bagian dari mimpi-mimpi itu dipahami dan diasimilasi. Masing-masing bagian dari kerja menangani mimpi mengarahkan suatu kepada suatu asimilasi. Perls menandaskan bahwa jika mimpi-mimpi itu ditangani secara layak, maka pesan eksistensial yang dikandungnya akan menjadi lebih jelas. Menurut Perls, mimpi-mimpi itu tidak bertindak sebagai jalan yang baik sekali guna mengatahui kehampaan kepribadian dengan membukakan bagian-bagian yang hilang dan metode-metode klien untuk menghindar. Orang-orang yang tidak bersedia mengingat mimpi-mimpinya berarti menolak untuk menghadapi apa yang keliru dalam hidupnya. Yang paling akhir adalah, terapis Gestalt meminta klien untuk berbicara terhadap mimpi-mimpinya sendiri.
Pembahasan ringkas tentang kerja menangani mimpi ini dimaksudkan untuk memperkenalkan pembaca kepada cara umum di mana mimpi-mimpi merupakan teknik yang berguna dalam terapi Gestalt. Kepada pembaca yang berminat memperdalam penanganan mimpi ini, penulsi menganjurkan untuk membaca buku Downing dan Marmorstein yang berjudul Dreams and Nightmares, yang barangkali merupakan karya yang paling rinci dalam membahas pendekatan Gestalt terhadap mimpi-mimpi.
Penerapan dalam terapi individual dan kelompok
Terapi Gestalt bisa diterapkan dengan berbagai cara, baik dalam setting individual maupun dalam setting kelompok. Dalam konseling, terapi Gestalt bisa diterapkan dalam gaya Gestalt terbatas di mana interaksi klien dengan terapis bertaraf minimal. Klien menerjemahkan pengalaman segeranya ke dalam situasi permainan peran di mana klien mempersonifikasi segenap aspek kesadarannya. Dalam bentuknya yang murni ini reaksi-reaksi klien terhadap terapis menjadi bagian dari proyeksi-proyeksi fantasi klien.
Terapi individual bisa juga dilaksanakan dalam bentuk yang kurang murni, yang ditandai oleh dialog antar klien dan terapis. Terapis bisa menyarankan percobaan-percobaan guna membantu klien dalam memperoleh focus yang lebih tajam kepada apa yang dilakukannya sekarang. Akan tetapi, terapis juga membawa reaksi-reaksinya ke dalam dialog, dan karenanya dia lebih dari sekadar pengarah terapi individual. Polster dan Polster (1973) dan Kempler mengimbau terapis agar aktif, membuka diri, dan melibatkan pendekatan yang manusiawi.
Kempler (1973, halaman 270-271) mendesakkan “pengungkapan pribadi secara penuh” dari terapis selama pertamuan terapi : “Tanggung jawab terapis adalah menghidupkan terapi, bukan hanya berkhotbah dengan menafsirkan tingkah laku orang lain.” Kempler menyatakan bahwa terapis mengungkapkan segenap yang dipikirkan atau dirasakannya “yang dianggapnya bisa mengurangi kemampuan berpartisipasi jika dipertahankan”. Kempler menganjurkan agar terapis menunjukkan tingkah lakunya yang luas selama pertemuan terapi. Terapis boleh menganjurkan agar terapis menunjukkan tingkah lakunya yang luas selama pertemuan terapi. Terapis boleh menganjurkan, berteriak, menangis, berbicara tentang diri sendiri, mengeksplorasi kebingungannya sendiri, atau menegur klien. Menurut Kempler, “tidak ada tingkah laku yang menjadi milik yang eksklusif dari klien. Jika proses hubungan klien-terapis bisa terus berlangsung, maka hal itu banyak bergantung pada partisipasi penuh dari terapis maupun pada tuntunannya kepda kliennya untuk menunjukkan komitmen yang penuh.” Jelas, Kempler percaya bahwa terapi individual yang berhasil adalah hasil partisipasi bersama dari dua manusia. Terapis harus berbuat lebih dari sekadar mengajukan pertanyaan-pertanyaan, membuat penafsiran-penafsiran, dan memberikan saran-saran. Proses yang berlawanan yang ada dalam diri terapis sendiri adalah bagian yang vital dari proses terapi.
Dalam setting kelompok pun praktek terapi Gestalt bisa mengambil bentuk murni atau, sebagai alternatif, mendorong para angota untuk secara spontan terlibat dalam interaksi satu sama lain. Perls menangani kelompok dengan cara yang murni. Kontaknya difokuskan kepada klien tunggal pada suatu saat, dan ia mengalihkan perhatian klien dari kelompok kepada reaksi-reaksi internal klien itu sendiri. Pada dasarnya, melalui cara ini, terapis dan klien bekerjasama, dan para anggota lain bertindak sebagai pengamat. Jika seorang klien telah selesai bekerja, maka terapis biasanya meminta kepada para anggota untuk memberikan umpan balik atau menghubungkan apa yang timbul dengan pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Dalam terapi Gestalt kelompok model ini, seorang anggota kelompok menjadi sukarelawan dan diminta untuk bekerja sama dengan terapis. Si sukarelawan dipersilakan duduk dan berfokus sebanyak mungkin pada kesadaran dari saat-saatnya disini dan sekarang. Berbagai bentuk teknik Gestalt yang telah diuraikan di muka mendorong intensifikasi pengalaman klien. Pertukaran langsung dan spontan para anggota dan klien yang duduk sebagai sukarelawan tidak ada. Pada waktu-waktu tertentu terapis bisa memanggil para anggota lain meskipun hal itu dilakukan dengan sasaran melanjutkan kerja terapis dengan si anggota sukarelawan.
Sebagaimana terapi individual, terapi kelompok bisa dipraktekkan dalam konteks Gestalt, tetapi kurang murni. Kebebasan yang lebih besar bisa diberikan. Para anggota kelompok bisa memiliki kebebasan yang lebih besar untuk berinteraksi secara spontan, dan terapis bisa merangsang interaksi antar anggota. Variable yang penting adalah menetapkan apakah intervensi akan membantu ataukah mengacaukan. Beberapa interaksi anggota menyimpang dari kualitas kerja terapi serta memencarkan energi kelompok. Pendek kata, sebagaimana ditunjukkan oleh Kempler (1973), “Terapis Gestalt lebih banyak diidentifikasi oleh siapa dia ketimbang oleh apa yang dilakukannya” (h.273). Oleh karena itu, terapis, apakah bekerja menangani klien individual ataupun kelompok, memiliki keleluasaan untuk menggunakan teknik-teknik psikoterapi dengan jangkauan yang lebih luas daripada yang secara orisinil dikembangkan oleh Perls di bengkel kerjanya. Pola kerja “hot seat” Perls sesuai dengan gaya dan kebutuhan-kebutuhannya. Menurut Kempler (1973), pola itu menempatkan Perls pada posisi top-dog. Kempler menyatakan bahwa Perls adalah pribadinya sendiri dan mengembangkan suatu gaya yang unik yang tidak bisa ditiru secara mekanis dengan hasil yang efektif. “Bahwa Fritz mengikuti dirinya sendiri adalah esensi dari dirinya dan diharapkan pula bahwa hal itu akan menjadi inti dari Gerakan Gestalt” (h. 253). Jadi, prakter terapi Gestalt bisa memikul dimensi-dimensi yang luwes sehingga, diharapkan, terapis akan mengembangkan gaya kepemimpinan yang konsisten dengan kepribadiannya sendiri dan tidak jatuh ke dalam perangkap dari sekadar meniru Fritz Perls.
Factor-faktor yang berhubungan dengan penerapan yang pantas dari teknik-teknik terapi Gestalt adalah: (1) waktu, (2) jenis klien yang ditangani, dan (3) setting yang dihadapi. Shepherd (1970) menghubungkan diri dengan factor-faktor tersebut dan menggarisbawahi soal-soal yang direfleksikannya;
Pada umumnya, terapi Gestalt paling efektif menangani individu-individu yang disosialisasi secara berlebihan, terhambat, dan mengerut yang sering dijabarkan sebagai neurotik, fobik, perfeksionistik, tidak efektif, depresif, dan sebagainya yang fungsi psikologisnya terbatas atau tidak konsisten, terutama ditandai oleh restriksi-restriksi internalnya, dan yang kesenangan hidupnya minimal. Sebagian besar upaya terapi Gestalt karenanya diarahkan kepada orang-orang dengan cirri-ciri tersebut (h. 234-235). *


Menurut Shepherd (1970), teknik-teknik terapi Gestalt, terutama teknik-teknik konfrontif dan melakonkan kembali, tidak cocok untuk digunakan dalam penanganan klien yang psikotik. Ia menunjukkan bahwa para klien yang mengalami gangguan kepribadian yang lebih berat membutuhkan dukungan yang kuat sebelum mereka bisa menanggung pengalaman menghidupkan kembali kemarahan, kesakitan, dan keputusasaan yang meluap-luap yang manandai proses-proses psikotik. Ketimbang melibatkan klien ke dalam permainan peran yang yang melepaskan perasaan-perasaan yang intens, “akan sangat membantu jika menggunakan teknik-teknik guna menunjang pemulihan kebebasan klien untuk menggunakan mata, tangan, telinga, tubuh; secara umum, untuk meningkatkan kesanggupan-kesanggupan sensoris, perceptual, dan motorik menuju kemampuan-kemampuan mendukung diri sendiri dan mengatasi lingkungannya” (h. 235).
Penerapan di sekolah: Proses belajar mengajar
Metodologi Gestalt memiliki penerapan langsung bagi kerja menangani anak-anak dan para remaja di sekolah. Buku Janet Leder-man yang mengharukan yang berjudul Anger and the rocking Chair, berisi uraian yang dramatis tentang adaptasinya atas metode-metode Gestalt bagi kerjanya menangani anak-anak yang memiliki masalah-masalah emosional dan tingkah laku di ruangan-ruangan kelas pendidikan khusus. Lederman dengan jelas menjabarkan perasaan-perasaan ketidakberdayaan dan apati yang sering dialami, baik oleh anak-anak maupun oleh para orang tua. Laderman menerapkan konsep-konsep terapi Gestalt dalam mengonfrontasikan anak-anak dengan cara-cara mereka menghindari pengguanaan kekuatan peribadinya, dan ia menuntut, berdasarkan kepribadiannya sendiri dan hubungannya yang sungguh-sungguh dengan anak-anak, agar anak-anak itu menerima tanggung jawab atas apa yang dilakukan oleh mereka. Ia menghadapi anak-anak yang diliputi kebencian, kemarahan, perasaan tidak berdaya, dan yang memandang diri sendiri sebagai manusia yang gagal. Ia menerima dan mengakui kenyataan dari perasan-perasaan tersebut, dan ia tidak berpretensi untuk mengesampingkan kemarahan dan perlawanan anak-anak itu.
Para guru secara khas takur kepada emosi-emosi eksplosfi para siswanya serta umumnya mengabaikan kenyataan emosi-emosi semacam itu. Alih-alih, para guru cenderung mendorong para siswa untuk menekan agresivitas dan perasaan-perasaan marah serta tingkah laku lainnya. Mereka menuntut agar para siswa berpikir secara secara beradab, merasa secara beradab, dan bertindak secara beradab. Oleh karena itu, mereka mengabaikan keberadaan dan dunia para siswanya. Begitu sering para guru percaya bahwa, sebelum perasaan-perasaan “negatif” ditekan, maka kekacauan akan selalu terjadi di ruangan kelas.
Sebaliknya, Lederman tidak hanya mengakui emosi-emosi yang kuat, tetapi juga mendorong pengungkapan perasaan-perasaan dan sekaligus menuntut agar para siswa memikul tanggung jawab atas konsekuensi-konsekuensi dari tingkah laku mereka sendiri. Kekacauan tidak timbul di ruangan kelas yang ditangani oleh Lederman. Kadang-kadang ia keras dan menuntut, tetapi di lain waktu ia lembut. Akan tetapi, ia selalu bekerja dengan tujuan para siswa memperoleh pemahaman tentang dirinya sendiri. Pendek kata, Lederman mengetahui benar bahwa para siswa tidak akan mempelajari pelajaran sebelum mereka menangani secara efektif kekacauan emosi yang menghambat konsentrasi kepada tugas-tugas belajar.
Brown (1971) telah mengembangkan pendekatan humanistic terhadap proses belajar-mengajar berlandaskan teknik-teknik kesadaran Gestalt yang bisa diterapkan, naik pada para siswa sekolah dasar maupun pada para siswa sekolah menengah. Bengkel-bengkel kerja yang ditangani oelh para staf Ford-Esalen diarahakan kepada pelayanan pendidikan guru untuk membantu para guru belajar bagaimana mengintegrasikan minat-minat utama para siswa dengan pelajaran. Tujuannya bukanlah menyingkirkan kurikulum konvensional, melainkan menunjukkan kemungkinan-kemungkinan menerapkan kurikulum konvensional ke dalam kehidupan para siswa. Pendekatan diberikan tidak hanya pada perasaan-perasaan para siswa, tetapi juga pengintegrasian aspek-aspek kognitif dan afektif dari belajar.
Cara-cara belajar yang menjadi alternatif, yang memasukkan perasaan-perasaan, ambisi-ambisi, tujuan-tujuan, nilai-nilai, sikap-sikap dan ruang hidup siswa, adalah focus pendidikan yang konfluen. Dalam bukunya yang berjudul Human Teaching for Human Learning, Brown menguraikan berbagai teknik afektif Gestalt yang baik utnuk digunakan di dalam ruangan kelas, yang mencakup kelompok – kelompok dalam dan luar yang dirancang untuk membantu individu – individu tinggal pada “saat sekarang” kelompok – kelompok fantasi, latihan – latihan agresi, penyentuhan, tehnik teater improvisasional, perjalanan – perjalanan, tubuh fantasi, peta – peta kehidupan pribadi, perjalanan bersama, pencerminan, permainan – permainan proyeksi Gestalt, berkeliling bersama, fantasi khewan, teknik – teknik kepercayaan dan kontak imajinasi, teknik – teknik kesadaran peran guru Gestalt, teknik – teknik tanggung jawab Gestalt, dan banyak teknik kesadaran Gestlat verbal dan nonverbal lainnya yang bisa diterapkan pada sekolah menengah. Brown menguraikan cara – cara yang spesifik dari pelaksanaan teknik – teknik tersebut pada semua tingkat pendidikan. Ia melaporkan bahwa penggunaan teknik – teknik belajar efektif yang diintegrasikan dengan bahan kognitif menghasilkan belajar yang lebih baik mengenai bahan kognitif, orang lain dan alam, dan peningkatan tanggung jawab siswa. Kesimpulannya, Brown telah memperlihatkan suatu cara penerapan Gestalt pada situasi belajar – mengajar yang menghasilkan perubahan – perubahan tingkah lakuyang positif pada para siswa dan menunjukkan bahwa penerapan – penerapan pendekatan Gestalt itu tidak hanya membuat para siswa menjadi lebih baik, tetapi juga membantu mereka dalam mempreluas hubungan antarmanusiannya.

Artikel Terkait Lainnya :


0 komentar:

Poskan Komentar

  © Mas BOW by Situs Belajar Psikologi 2009

Back to TOP