Categories

EKSHIBISIONISME SEBAGAI DAMPAK KECEMASAN PADA DIRI INDIVIDU

Senin, Juni 30, 2008

PENDAHULUAN
Pada umumnya, parafilia merupakan masalah karena memenuhi kriteria di atas. Dalam istilah psikologis, suatu aktivitas seksual yang tidak lazim didiagnosis sebagai parafilia jika perilaku tersebut kuat, berlangsung sekurangnya enam bulan, dan pelaku merasa harus melakukan dorongannya atau mengalami ketegangan yang berat jika menghindari dorongannya itu. Parafilia jarang berdiri sendiri dan mungkin merupakan salah satu aspek dan gangguan kejiwaan lain seperti skizofrenia atau gangguan kepribadian. Parafilia hampir seluruhnya pria, dengan kekecualian masokisme.
Penting diingat, bahwa parafilia adalah perilaku (tindakan), dan bukan fantasi. Memiliki fantasi seksual yang tidak lazim sering ditemukan atau tidak perlu menimbulkan kekuatiran. Dr. John Money, melalui penelitiannya di Johns Hopkins Hospital, Baltimore, memberi banyak sumbangan dalam pemahaman parafilia. Parafilia yang paling sering ditemukan adalah Ekshibisionisme berasal dari kata to exhibit: mempertontonkan, mempertunjukkan ; exhibition: tontonan, pertunjukan yang artinya memamerkan alat kelaminya. Seseorang atau penderita mendapatkan kepuasan seksual dengan memamerkan genitalianya sendiri kepada orang asing yang tidak mau melihatnya. Bagi seorang ekshibisionis, kepuasan berasal dari reaksi orang lain, yang secara keliru diduga oleh si penderita sebagai ekspresi kepuasan seksual. (Url :/kesehatan/news/0508/18/065031.htm)
Kepuasan seksual diperoleh penderita Ekshibisionisme saat melihat reaksi terperanjat, takut, kagum, jijik, atau menjerit dari orang yang melihatnya. Kemudian hal tersebut digunakan sebagai dasar untuk fantasi masturbasi. Orgasme dicapai dengan melakukan masturbasi pada saat itu juga atau sesaat kemudian. Para peneliti menyatakan ekshibisionis memiliki pendekatan yang tidak dewasa terhadap seks, dengan kebutuhan yang besar untuk diperhatikan. Ekshibisionisme dan voyeurisme merupakan sebagian besar pelanggaran seksual yang ditangani oleh polisi. Sebelum beraksi, ia terus merasa gelisah, tercekam, dan tegang. Gejala yang muncul yaitu perasaan penderita akan terasa lega begitu berhasil memamerkan penisnya pada wanita dewasa atau anak dengan usia dan bentuk tubuh sesuai keinginannya. Pada saat melakukan ia seolah-olah bermimpi, tidak mengetahui keadaan sekitarnya dan tidak menyadari bahaya akan tertangkap. Setelah itu muncul perasaan menyesal dan takut ditangkap. Namun, perasaan ini tidak cukup kuat untuk mencegahnya berbuat ulang pada kesempatan lain.
Dalam banyak kasus tindakan didahului suatu periode di mana ia pergi ke suatu tempat sepi dan menunggu sampai hari agak gelap. Namun, ada pula ekshibisionis yang tidak menghindari suasana ramai sehingga tidak malu-malu melakukan perbuatannya di toko, kamar tunggu praktik dokter, atau jendela rumahnya pada siang bolong. Ada pula yang timbulnya secara impulsif karena perasaan ingin melakukannya timbul seketika, sehingga tanpa pikir panjang ia menuruti dorongan hatinya. Acap kali seorang ekshibisionis dapat melakukan tindakan pengamanan supaya tidak tertangkap basah saat melakukannya. Ia teliti dulu sebelumnya apakah ada pria lain yang mengamatinya atau menutupi kembali penisnya bila tiba-tiba muncul seseorang yang tidak diinginkan. Ekshibisionis banyak ditemukan pada usia 20-an dan banyak di antaranya mengalami kesulitan ereksi dalam aktivitas seksual lainnya.
HIPOTESIS
Penyimpangan seksual sangat bergantung pada; (1). struktur kepribadian seseorang dan perkembangan pribadinya, (2). Menetapnya atau fixity kebiasaan yang menyimpang, (3). Kuatnya tingkah laku seksual yang menyimpng, (4). Sikap pribadi individu yang bersangkutan terhadap gejala penyimpangannya, dan (5). Adanya prilakuan-prilakuan seksual yang lain tumbuh secara pararel dan berhubungan. Pada tingkah laku seksual yang normal dan sehat, relasi heteroseksual berlangsung dalam suasana penuh afeksi dansaling memuaskan, saling memberi dan menerima kasih-sayang dan kenikmatan. Sebaliknya, pada tingkah laku seksual yang menyimpang sering berjalan tanpa ada diskriminasi sehingga semua terasa datar, tanpa perbedaan, dan dilakukan tanpa afeksi terhadap patnernya. Prilaku seperti ini lebih banyak dikuasai kebutuhan-kebutuhan neurotis dan dorongan-dorongan nonseksual dari pada kebutuhan erotis, yang menuntun pasien kepada prilaku komplusif dan patologis, karena seksualitas sangat erat dengan dimensi kepribadian sehingga penyimpangan seksual akan berasosiasi terhadap kesulitan-kesulitan neurotis dan ketidak mampuan menyesuaikan diri (maladjustment) yang disertai kecemasan-kecemasan terhadap relasi heteroseksual.
Kerangka berpikir yang dapat dipakai untuk menjelaskan seluk beluk prilaku Ekshibionisme diturunkan dari beberapa teori kepribadian yang menyajikan uraian dan konsep gangguan prilaku, asal-usul beserta proses perkembangannya. Di dalam teori kepribadian juga menyajikan konsepsi tentang bagaimana perilaku dapat diubah berdasar konsep yang ditawarkan dalam beberapa model psikoterapi, sebagai cara menolong penderita dan mengubah bentuk-bentuk prilakunya yang menimbulkan gangguan (Hall & Lindzey,1993). Model yang pertama adalah model psikoanalitik diturunkan dari teori psikoanalisis yang dikemukakan oleh Sigmund Freud (1856-1939). Menurut Freud, aneka situasi menekan yang mengancam akan menimbulkan kecemasan dalam diri seseorang. Dalam memenuhi dorongan, keputusan atau tuntutan moralnya, akan terjadi konflik-konflik psikis dalam diri individu sehingga menimbulkan kecemasan (anxiety)
Menurut Freud terdapat tiga macam kecemasan: (1). Kecemasan Neurotik (neurotic anxiety) yaitu, kecemasan individu akibat khawatir tidak mampu mengatasi atau menekan keinginan-keinginan primitifnya, (2). Kecemasan Realitas (reality anxiety) yaitu, kecemasan yang terjadi akibat ketakutannya menghadapi realitas, (3). Kecemasan moral (moral anxiety) yaitu, kecemasan akibat rasa bersalah dan ketakutan dihukum oleh nilai-nilai yang ada pada nalurinya. Sebagian dari cara individu mereduksi perasaan tertekan, kecemasan, stress atau pun konflik adalah dengan melakukan mekanisme pertahanan diri (ego defence mekanism) baik yang ia lakukan secara sadar atau pun tidak. Langkah ini secara superfisial dapat membebaskan individu dari kecemasan, namun akan berakibat kesenjangn antara pengalaman individu dengan realitas yang sanga ekstrem, maka akan mempengaruhi prilakunya yang mengarah pada penyimpangan secara psikis.
Menurut model Behavioristik Prilaku manusia sebagian besar adalah hasil pelatihan atau pengalaman interaksi individu dengan lingkungannya sehingga faktor lingkungan sangat berperan bagi pembentukan prilaku individu. Menurut Pavlov terdapat dua hal yang perlu diperhatikan dalam proses belajar dengan asosiasi, yaitu organisme selalu berinteraksi dengan lingkungan, dan dalam interaksi itu organisme dilengkapi dengan refleks. Konsep ini berpendapat ganguan prilaku disebabkan karena proses belajar yang salah (faulty learning), dan gagal mempelajari bentuk-bentuk perilaku atau kecakapan adaptif yang diperlukan dalam hidup.
Sebab-sebab penyimpangn seks yang multifaktorial, dapat kita golongkan menjadi dua kelompok. Kelompok interinsik dan eksterinsik yang saling berkaitan, faktor interinsik bersumberr pada hereditas atau keturunan yang berupa predisposisi dan konstitusi jasmaniah dan mentalnya. Sedang faktor ekterinsik mencakup kerusakan psikis dan fisik yang disebabkan pengaruh dari luar, atau pengalaman dengan lingkungan yang menimbulkan traumatis. Teori Psikoanalisa menekankan, bahwa penentu tingkah laku seksual yang menyimpang disebabkan pengalaman masa kanak-kanak yang sangat muda, diantaranya pemaparan seks yang prematur atau traumatik, dalam bentuk penyiksaan seksual (sexual abuse) pada masa anak-anak. Kira-kira 75 persen pria yang diterapi di National Institute for Study, Prevention, and Treatment Sexual Trauma, di Baltimore, adalah korban penyiksaan seksual pada masa anak-anaknya. Karena alasan yang belum dimengerti, seorang anak perempuan yang mengalami penyiksaan seksual lebih sering terinhibisi secara seksual, sedangkan anak laki-laki lebih sering mewujudkan perilaku parafilia. Penekanan yang berlebihan terhadap keingintahuan alami tentang seks, karena alasan religius atau alasan lain. Anak laki-laki yang diajari bahwa seks adalah kotor dan menerima hukuman karena keingintahuannya terhadap seks mungkin menjadi pria dengan perilaku fetishisme. Penderita sendiri rata-rata tidak merasa atau menganggap dirinya sakit atau mengidap kelainan seksual sampai mendapat perhatian dokter akibat perbuatan seksual itu menimbulkan konflik di sekitarnya.
Akibat dari tingkah laku seksual dan pengalaman seksual yang salah menyebabkan perasaan tidak adekuat (tidak mapan), rasa tidak aman, merasa tersudut-hilang dan dilupakan, rasa rendah diri (minder-waardigheidscomplexen); sehingga timbul komplusi-komplusi dan dambaan untuk diperhatikan, untuk diakui kejantanannya sebagai laki-laki yang potent, dengan jalan memperlihatkan alat kelaminnya di depan umum. Biasanya, sifat penderitanya sangat pemalu, pendiam dan pasif dan pada umumnya mereka itu mempunyai ibu yang sangat dominan.
Pendekatan pada penderita hendaknya dengan penuh pengertian, tidak dengan menghakimi atau mempersalahkan. Juga dicoba menyelami perasaan dan jiwa mereka karena seperti disebutkan tadi acap kali gangguan itu terbentuk dari keinginan dan pengalaman masa lalu. Menangani ekshibionisme tidak gampang. Karena mereka sering tidak menghendaki atau merasa tidak perlu mendapat terapi. Namun demikian, perlu ada beberapa terapi psikiatrik yang dapat dicoba. Pertama, melakukan pendekatan psikodinamik dan psikoanalitik (menggali pengalaman masa lalu yang menyebabkan kelainan kejiwaan). Kedua, Melakukan terapi perilaku yang terdiri dari aversive conditioning, yaitu conditioning untuk menimbulkan rangsangan (stimulus) terhadap lawan jenis. Atau mengukur tingkat birahi dengan pletismometris penis. Tentang terapi ini Prof. Arif Adimoelya, seorang ahli androlog dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, terapi aversion diperlukan untuk menghilangkan conditioning yang ada atau hal-hal yang menyebabkan kelainan psikoseksual. Penderita diberi kejutan listrik sementara disuguhi gambar-gambar atau film mengenai penyimpangan seksual. Khususnya pada voyeurisme dan ekshibisionisme, penderita hendaknya dipacu secara halus untuk lebih berani berkomunikasi langsung dengan lawan jenisnya, sehingga diharapkan lambat laun akan berani melakukan kontak badan langsung. Atau penderita diajari mengatasi rasa takut dan malu untuk mengungkapkan keinginan seks yang benar. Ketiga, karena umumnya penderita mempunyai sifat dasar kekurangan social skill (kecakapan sosial), maka mereka perlu disertakan dalam program terapi yang mengajarkan kecakapan sosial serta empati terhadap dunia sekelilingnya. Ditambah lagi terapi perilaku secara individual. Keempat, terapi farmakologi yang meliputi pemberian hormon wanita, anti androgen, dan obat-obatan golongan penghambat daur ulang serotonin yang biasanya digunakan untuk mengobati penderita depresi tetapi keberhasilan terapi ini tampak lebih disebabkan oleh penurunan nafsu birahinya. Terapi ini mungkin lebih efektif pada penderita parafilia bersifat hiperseks. Kelima, tidak kurang pentingnya perhatian masyarakat terhadap penderita. Mereka hendaknya tidak dicemoohkan tetapi diberi pengarahan agar berusaha menghilangkan kebiasaan yang memalukan tersebut. (Asep Candra Abdillah, pemerhati masalah kesehatan bersumber dari Ints.)





KESIMPULAN
Lingkungan sangat berpengaruh pada normal dan tidaknya individu. Seseorang laki-laki yang mengalami pengalaman tidak baik dan tidak menyenangkan dimasa perkembangan misalnya campur tangan ibu yang sangat dominan dan figure seorang ayah yang tidak pernah mempedulikan anaknya, aneka situasi menekan yang mengancam akan menimbulkan kecemasan dalam diri seseorang. Dalam memenuhi dorongan, keputusan atau tuntutan moralnya, akan terjadi konflik-konflik psikis dalam diri individu sehingga menimbulkan kecemasan (anxiety). Biasanya, akan membentuk sifat yang pemalu, pendiam, dan pasif menyebabkan seseorang tidak mampu melakukan adaptasi dan beraktualisasi dengan lawan jenis. Sehingga timbul komplusi-komplusi dan dambaan untuk diperhatikan, untuk diakui kejantanannya sebagai laki-laki yang potent, dengan jalan memperlihatkan alat kelaminnya di depan umum. Biasanya seorang ekshibionis bisa menikah dan menjadi relasi seksual yang tidak memuaskan, karena kehidupan seksualnya tidak mapan, dan banyak mengalami ganguan batin. Untuk menyembuhkanya, seseorang ekshibionis memerlukan bimbingan psikoterapis yang intensif dan relatif lama.











DAFTAR PUSTAKA
Calhoun, C., Light, D., dan Keller, S. 1994. Sociology, 6th edition. New York: McGraw-Hill.
Hall, C.S. & Lindzey, G. (1993). Psikologi Kepribadian 1. Teori-teori Psikoanalitik (Klinis). Yogyakarata; Kanisius.
Kartono, kartini. (1989). Psikologi Abnormal dan Abnormal Seksualitas. Bandung; Mandar maju.
Notosoedirdjo, moeljono & Latipun, (2005). Kesehatan Mental Konsep dan Penerapan. Malang; UMM Pers.
Supratiknya, A. (1995). Mengenal Prilaku Abnormal, Yogyakarta; Kanisius.
Winkel, W.S. (1991). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta: Gramedia.
www.parafilia.com
www.jakartapos.com

Artikel Terkait Lainnya :


1 komentar:

tips n trik komputer mengatakan...

wah, sip bos infonya, kira2 klo cew ada gak pengidap eksibisionist,...
kan seru,,,aku bisa ngliatnya, he he

Poskan Komentar

  © Mas BOW by Situs Belajar Psikologi 2009

Back to TOP